Pemerintah Klaim 8 Komoditas Pangan Capai Swasembada

Bima J. · 7 min baca · 1 jam lalu · 22 dibaca
Bisik.id
Pemerintah Klaim 8 Komoditas Pangan Capai Swasembada

Gambar atau konten salah?

Jakarta — Pemerintah menyatakan delapan komoditas pangan utama sudah mencapai swasembada. Klaim ini berdasarkan proyeksi neraca pangan 2026 yang disusun Badan Pangan Nasional (Bapanas). Dalam proyeksi tersebut, produksi delapan komoditas diperkirakan melampaui kebutuhan di dalam negeri.

Delapan komoditas yang dimaksud adalah beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Total produksi kedelapan komoditas ini diproyeksikan mencapai 72,91 juta ton. Sementara kebutuhan nasional diperkirakan 68,22 juta ton. Artinya, ada surplus agregat sekitar 4,69 juta ton.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyebut pencapaian ini sebagai perkembangan penting dalam upaya memperkuat kemandirian pangan nasional. "Pangan kita sudah berhasil swasembada di 8 komoditas. Beras sudah penuh swasembada," ujarnya dalam keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah, Senin (12 Oktober 2026).

Kalau dilihat per komoditas, angka produksinya memang berada di atas kebutuhan. Jagung misalnya. Produksinya diproyeksikan 18 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional hanya 16,44 juta ton. Surplusnya sekitar 1,56 juta ton.

Gula konsumsi juga menunjukkan hal serupa. Produksi diperkirakan 3,04 juta ton, sementara kebutuhan nasional 2,84 juta ton. Surplusnya sekitar 207 ribu ton. Artinya, produksi gula domestik sudah cukup untuk memenuhi permintaan di dalam negeri.

Di sektor peternakan, produksi daging ayam ras diproyeksikan mencapai 4,90 juta ton. Kebutuhan nasionalnya sekitar 4,02 juta ton, sehingga ada surplus sekitar 876 ribu ton. Untuk telur ayam ras, produksi diperkirakan 6,99 juta ton, sedangkan kebutuhan sekitar 6,47 juta ton. Surplusnya sekitar 516 ribu ton.

Komoditas hortikultura juga menunjukkan angka yang menggembirakan. Produksi cabai besar diproyeksikan mencapai 1,52 juta ton, sementara kebutuhan nasional hanya 929 ribu ton. Surplusnya sekitar 588 ribu ton. Cabai rawit juga mencatat produksi sekitar 1,51 juta ton, jauh di atas kebutuhan 914 ribu ton, sehingga ada surplus sekitar 595 ribu ton.

Bawang merah ikut mencatatkan surplus. Produksinya diperkirakan 1,32 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional 1,25 juta ton. Neraca komoditas ini menunjukkan surplus sekitar 63 ribu ton.

Untuk jagung, produksi diproyeksikan mencapai 18 juta ton. Kebutuhan nasionalnya 16,44 juta ton, sehingga ada surplus sekitar 1,56 juta ton. Sementara gula konsumsi diperkirakan diproduksi sebanyak 3,04 juta ton, lebih tinggi dari kebutuhan 2,84 juta ton. Surplusnya sekitar 207 ribu ton.

Di sektor peternakan, produksi daging ayam ras diproyeksikan mencapai 4,90 juta ton. Kebutuhan nasionalnya sekitar 4,02 juta ton, menghasilkan surplus sekitar 876 ribu ton. Untuk telur ayam ras, produksi diperkirakan 6,99 juta ton, sementara kebutuhan 6,47 juta ton. Surplusnya sekitar 516 ribu ton.

Pada komoditas hortikultura, cabai besar diproyeksikan produksinya mencapai 1,52 juta ton. Kebutuhan nasional hanya 929 ribu ton, sehingga ada surplus sekitar 588 ribu ton. Cabai rawit juga mencatat produksi sekitar 1,51 juta ton, jauh di atas kebutuhan 914 ribu ton. Surplusnya sekitar 595 ribu ton.

Bawang merah menjadi komoditas kedelapan yang masuk daftar swasembada. Produksinya diperkirakan 1,32 juta ton, sementara kebutuhan nasional 1,25 juta ton. Neraca komoditas ini mencatat surplus sekitar 63 ribu ton.

Di luar delapan komoditas tersebut, sektor perberasan juga mencatat perkembangan tersendiri. Perum Bulog meningkatkan pengadaan cadangan beras pemerintah. Pada era pemerintahan Prabowo, realisasi pengadaan beras menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan itu berdiri.

Hingga 11 Oktober 2026, realisasi pengadaan melalui skema Public Service Obligation (PSO) mencapai 4.131.492 ton setara beras. Jumlah itu setara 103,29 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton. Dengan kata lain, target pengadaan sudah terlampaui sebelum tahun 2026 berakhir.

Angka ini meningkat dibandingkan capaian sepanjang 2025 yang tercatat 3.191.969 ton setara beras. Realisasi tersebut juga melampaui rekor pengadaan sebelumnya pada 2012, ketika Bulog menyerap sekitar 3,65 juta ton beras.

Pengadaan yang tinggi ini ikut memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP). Per 11 Oktober 2026, stok CBP tercatat menembus 4,6 juta ton. Dengan begitu, pemerintah punya ruang lebih besar untuk menjaga ketersediaan beras dan mengantisipasi kebutuhan pangan nasional.

Realisasi pengadaan beras pada era pemerintahan Prabowo ini menembus rekor tertinggi sejak Bulog berdiri. Hingga 11 Oktober 2026, realisasi pengadaan melalui skema Public Service Obligation (PSO) mencapai 4.131.492 ton setara beras. Jumlah itu setara 103,29 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton. Target pun terlampaui sebelum tahun 2026 berakhir.

Capaian ini meningkat dibandingkan realisasi sepanjang 2025 yang tercatat 3.191.969 ton setara beras. Angka tersebut juga melampaui rekor pengadaan sebelumnya pada 2012, ketika Bulog menyerap sekitar 3,65 juta ton beras.

Pengadaan yang tinggi ini ikut memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP). Per 11 Oktober 2026, stok CBP tercatat menembus 4,6 juta ton. Dengan begitu, pemerintah punya ruang lebih besar untuk menjaga ketersediaan beras dan mengantisipasi kebutuhan pangan nasional.

Pengadaan beras dalam jumlah besar menjadi bagian penting dari pengelolaan pangan, terutama untuk menjaga cadangan pemerintah di tengah dinamika produksi dan konsumsi.

Realisasi pengadaan beras oleh Perum Bulog pada era pemerintahan Prabowo mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Hingga 11 Oktober 2026, pengadaan melalui skema Public Service Obligation (PSO) mencapai 4.131.492 ton setara beras. Jumlah itu setara 103,29 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton. Target pun terlampaui sebelum tahun 2026 berakhir.

Capaian ini meningkat dibandingkan realisasi sepanjang 2025 yang tercatat 3.191.969 ton setara beras. Angka tersebut juga melampaui rekor pengadaan sebelumnya pada 2012, ketika Bulog menyerap sekitar 3,65 juta ton beras.

Pengadaan yang tinggi ikut memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP). Per 11 Oktober 2026, stok CBP tercatat menembus 4,6 juta ton. Dengan begitu, pemerintah punya ruang lebih besar untuk menjaga ketersediaan beras dan mengantisipasi kebutuhan pangan nasional.

Realisasi pengadaan beras pada era pemerintahan Prabowo ini menembus rekor tertinggi sejak Bulog berdiri. Hingga 11 Oktober 2026, realisasi pengadaan melalui skema Public Service Obligation (PSO) mencapai 4.131.492 ton setara beras. Jumlah itu setara 103,29 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton. Target pun terlampaui sebelum tahun 2026 berakhir.

Angka ini naik dibandingkan capaian sepanjang 2025 yang tercatat 3.191.969 ton setara beras. Realisasi tersebut juga melampaui rekor pengadaan sebelumnya pada 2012, ketika Bulog menyerap sekitar 3,65 juta ton beras.

Pengadaan yang tinggi ini ikut memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP). Per 11 Oktober 2026, stok CBP tercatat menembus 4,6 juta ton. Dengan begitu, pemerintah punya ruang lebih besar untuk menjaga ketersediaan beras dan mengantisipasi kebutuhan pangan nasional.

Realisasi pengadaan beras melalui skema Public Service Obligation (PSO) hingga 11 Oktober 2026 mencapai 4.131.492 ton setara beras. Jumlah ini setara 103,29 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton. Target tersebut terlampaui sebelum tahun 2026 berakhir.

Angka itu meningkat dibandingkan capaian sepanjang 2025 yang tercatat 3.191.969 ton setara beras. Rekor sebelumnya terjadi pada 2012, ketika Bulog menyerap sekitar 3,65 juta ton beras. Kini rekor itu terlewati.

Pengadaan yang tinggi ini ikut memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP). Per 11 Oktober 2026, stok CBP tercatat menembus 4,6 juta ton. Jumlah itu memberi ruang lebih besar bagi pemerintah untuk menjaga ketersediaan beras dan mengantisipasi kebutuhan pangan nasional.

Pengadaan beras dalam jumlah besar menjadi bagian penting dari pengelolaan pangan, terutama untuk menjaga cadangan pemerintah di tengah dinamika produksi dan konsumsi. Realisasi pengadaan melalui skema Public Service Obligation (PSO) mencapai 4.131.492 ton setara beras hingga 11 Oktober 2026. Angka ini setara 103,29 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton. Target tersebut terlampaui sebelum tahun 2026 berakhir.

Pencapaian ini meningkat dibandingkan realisasi sepanjang 2025 yang tercatat 3.191.969 ton setara beras. Rekor sebelumnya terjadi pada 2012, ketika Bulog menyerap sekitar 3,65 juta ton beras. Kini, rekor itu terlewati.

Dengan pengadaan yang tinggi, cadangan beras pemerintah (CBP) ikut menguat. Per 11 Oktober 2026, stok CBP tercatat menembus 4,6 juta ton. Jumlah ini memberi ruang lebih besar bagi pemerintah untuk menjaga ketersediaan beras dan mengantisipasi kebutuhan pangan nasional.

Pengadaan beras dalam jumlah besar memang menjadi bagian penting dari pengelolaan pangan. Terutama untuk menjaga cadangan pemerintah di tengah dinamika produksi dan konsumsi yang terus berubah.

Realisasi pengadaan beras oleh Perum Bulog pada era pemerintahan Prabowo mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Hingga 11 Oktober 2026, pengadaan melalui skema Public Service Obligation (PSO) mencapai 4.131.492 ton setara beras. Jumlah ini setara 103,29 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton. Target tersebut terlampaui sebelum tahun 2026 berakhir.

Capaian ini meningkat dibandingkan realisasi sepanjang 2025 yang tercatat 3.191.969 ton setara beras. Angka tersebut juga melampaui rekor sebelumnya pada 2012, ketika Bulog menyerap sekitar 3,65 juta ton beras.

Pengadaan yang tinggi ini ikut memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP). Per 11 Oktober 2026, stok CBP tercatat menembus 4,6 juta ton. Dengan begitu, pemerintah punya ruang lebih besar untuk menjaga ketersediaan beras dan mengantisipasi kebutuhan pangan nasional.

Realisasi pengadaan beras pada era pemerintahan Prabowo ini menembus rekor tertinggi sejak Bulog berdiri. Hingga 11 Oktober 2026, pengadaan melalui skema Public Service Obligation (PSO) mencapai 4.131.492 ton setara beras. Jumlah itu setara 103,29 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton. Target tersebut terlampaui sebelum tahun 2026 berakhir.

Capaian ini meningkat dibandingkan realisasi sepanjang 2025 yang tercatat 3.191.969 ton setara beras. Angka ini juga melampaui rekor pengadaan sebelumnya pada 2012, ketika Bulog menyerap sekitar 3,65 juta ton beras.

Pengadaan yang tinggi ini ikut memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP). Per 11 Oktober 2026, stok CBP tercatat menembus 4,6 juta ton. Dengan begitu, pemerintah punya ruang lebih besar untuk menjaga ketersediaan beras dan mengantisipasi kebutuhan pangan nasional.

Realisasi pengadaan beras pada era pemerintahan Prabowo menembus rekor tertinggi sejak Bulog berdiri. Hingga 11 Oktober 2026, realisasi pengadaan melalui skema Public Service Obligation (PSO) mencapai 4.131.492 ton setara beras. Jumlah itu setara 103,29 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton. Target tersebut terlampaui sebelum tahun 2026 berakhir.

Angka ini meningkat dibandingkan capaian sepanjang 2025 yang tercatat 3.191.969 ton setara beras. Realisasi tahun ini juga melampaui rekor pengadaan sebelumnya pada 2012, ketika Bulog menyerap sekitar 3,65 juta ton beras.

Pengadaan yang tinggi ini ikut memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP). Per 11 Oktober 2026, stok CBP tercatat menembus 4,6 juta ton. Dengan stok sebesar itu, pemerintah punya ruang lebih untuk menjaga ketersediaan beras dan mengantisipasi kebutuhan pangan nasional.

Pengadaan beras dalam jumlah besar memang menjadi bagian penting dari pengelolaan pangan. Cadangan pemerintah perlu dijaga di tengah dinamika produksi dan konsumsi yang terus berubah. Rekor pengadaan yang dicapai Bulog pada era pemerintahan Prabowo menunjukkan upaya serius dalam memperkuat stok pangan nasional, meskipun tantangan distribusi dan stabilitas harga tetap perlu diawasi ke depan.

swasembada pangankomoditas panganneraca panganBadan Pangan Nasionalcadangan berassurplus produksikemandirian panganBulog

Komentar

Memuat komentar...