Julen Lopetegui, Pelatih Qatar, Hadapi Piala Dunia 2026

Nurul H. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Julen Lopetegui, Pelatih Qatar, Hadapi Piala Dunia 2026

Gambar atau konten salah?

Julen Lopetegui kini hampir 60 tahun dan akan memimpin Qatar di Piala Dunia 2026. Pelatih asal Spanyol ini akhirnya dapat tampil di turnamen akbar tersebut setelah menunggu bertahun‑tahun.

Ia pertama kali hadir di Piala Dunia pada 01 Januari 1994 di Amerika Serikat. Saat itu ia berperan sebagai kiper ketiga Spanyol, di belakang Andoni Zubizarreta dan Santiago Canizares, namun tidak mendapat jatah bermain selama turnamen.

Empat belas tahun kemudian, pada 01 Januari 2018, ia menjadi pelatih Spanyol. Ia datang ke Rusia dengan catatan tak terkalahkan selama dua tahun, namun dipecat sebelum laga pertama fase grup karena menerima tawaran melatih Real Madrid. “Itu hari paling menyedihkan dalam hidup saya,” ujar Lopetegui dalam wawancara dengan The Guardian. Tanpanya, Spanyol tak mampu berbuat banyak di tangan Fernando Hierro dan kalah dari Rusia di 16 besar.

Delapan tahun setelah kejadian itu, ia kembali ke Amerika Serikat. Kali ini ia menjabat sebagai pelatih Qatar, tim yang ia tangani sejak 01 Januari 2025. Sebelum kembali melatih timnas, ia melatih empat klub berbeda selama hampir tujuh tahun. Lopetegui datang saat Qatar terancam gagal lolos, namun ia berhasil membalikkan situasi dan mengamankan satu tiket Piala Dunia setelah menjadi juara grup di ronde empat kualifikasi zona Asia.

Ia mengaku tidak menyesal dengan apa yang terjadi dan menjadikannya pelajaran hidup. “Saya tidak pernah berhenti bekerja sejak (pemecatan) saat itu, Anda tidak pernah menoleh ke belakang, dan pengalaman itu membuat Anda lebih tangguh,” ujarnya. “Anda juga belajar dari pengalaman itu. Tetapi jika Anda bertanya kepada saya: ‘Apakah Anda akan tetap melakukan hal yang sama?’ 100 persen. Kenapa? Karena kami selalu mengambil keputusan yang menurut kami benar dari posisi yang sangat menghormati tanggung jawab kami.”

Di Piala Dunia 2026, Lopetegui menyadari bahwa Qatar adalah ‘tim lemah’. Tanpa menghitung edisi 2022 saat menjadi tuan rumah, ini kali pertama mereka lolos lewat kualifikasi. Ia menilai mungkin Kanada, Swiss, dan Bosnia-Herzegovina senang segrup dengan mereka. Namun ia menegaskan Qatar tak datang hanya untuk sekadar main tiga laga lalu pulang. “Saat Anda pergi ke Piala Dunia, Anda bisa berpikir: ‘Astaga, ini sukses besar.’ Dan memang ini sukses besar, tetapi Anda tak bisa cuma terpaku ke sana,” ujarnya. “Anda tidak bisa berpikir: ‘Sudah selesai.’ Tidak. Tidak mungkin. Itu sebuah kesalahan. Jadi sekarang kami harus ‘mengasah tombak’ kami dan bersaing.”

“Qatar merayakan kelolosan ke sini sebagai sesuatu yang unik dan memang demikian. Tetapi seperti yang dikatakan José Mota (komedian Spanyol): Kami bisa pergi, tetapi pergi hanya untuk sekadar pergi itu bodoh. Kami pergi ke Piala Dunia untuk bersaing. Kami memiliki hak untuk mencoba (berjuang),” jelasnya.

Tergabung di Grup B, Qatar akan melawan Swiss pada Minggu (14 Juni 2026) pukul 02.00 WIB di Santa Clara, lalu Kanada di Vancouver pada Jumat (19 Juni 2026) pukul 05.00 WIB, dan terakhir Bosnia pada Kamis (25 Juni 2026) pukul 02.00 WIB di Seattle.

Keputusan Lopetegui untuk kembali ke Qatar setelah pengalaman pahit di Spanyol menunjukkan tekadnya untuk terus berjuang. Kemenangan di kualifikasi menandai langkah awal timnas Qatar menuju panggung dunia, sekaligus memberi mereka motivasi untuk tidak hanya hadir, tetapi bersaing di Piala Dunia 2026.

Julen LopeteguiQatarPiala Dunia 2026SpanyolReal MadridKualifikasiGrup B

Komentar

Memuat komentar...