Katedral Cologne Pasang Tiket 12 Euro, Gratis Anak 13 Tahun

Lina F. · 3 min baca · 2 hari lalu · 17 dibaca
Bisik.id
Katedral Cologne Pasang Tiket 12 Euro, Gratis Anak 13 Tahun

Gambar atau konten salah?

Mulai bulan Juli nanti, pengunjung Katedral Cologne di Jerman tidak lagi dapat masuk gratis. Pihak gereja mengumumkan biaya Euro 12 (sekitar Rp 212.000) untuk setiap tiket masuk. Clemens van de Ven, administrator katedral, menjelaskan bahwa keputusan ini dipaksa karena situs warisan dunia UNESCO ini memerlukan biaya operasional harian mencapai Euro 44.000 (sekitar Rp 778 juta).

Biaya tinggi ini dipicu oleh kebutuhan pemeliharaan bangunan, sistem keamanan, dan operasional harian. Menurut kutipan dari Anadolu pada 09 Juni 2026, pengeluaran besar tersebut harus dipenuhi agar katedral tetap aman dan terawat. Untuk menghindari antrean panjang, pengunjung disarankan membeli tiket lebih awal. Penjualan tiket online akan dibuka mulai 15 Juni, dan pemesanan dapat dilakukan hingga tiga bulan sebelum kunjungan. Bagi yang tidak memiliki akses digital, tiket masih dapat dibeli langsung di kantor katedral yang terletak di dekat lokasi.

Menurut aturan baru, katedral memberikan pengecualian gratis bagi anak-anak berusia 13 tahun ke bawah, penyandang disabilitas berat, serta pendamping yang ditunjuk. Selain itu, tiket diskon seharga Euro 6 (sekitar Rp 106.000) tersedia untuk pelajar berusia 14 tahun ke atas, peserta magang, dan mahasiswa. Pihak gereja menegaskan bahwa akses masuk tetap gratis bagi jemaat yang ingin menghadiri kebaktian, berdoa secara pribadi, atau menyalakan lilin. Untuk memisahkan alur pengunjung, area pintu masuk khusus akan dibuat di dalam bangunan berarsitektur Gotik monumental tersebut. Katedral juga berencana membebaskan biaya masuk pada hari libur keagamaan tertentu dan acara khusus.

Otoritas gereja optimis kebijakan baru ini tidak akan menurunkan minat wisatawan secara signifikan. Katedral ini biasanya menarik sekitar 6 juta pengunjung setiap tahunnya. Namun, keputusan ini menuai kritik di kota Cologne dan sekitarnya. Salah satu suara penolakan datang dari mantan arsitek katedral, Barbara Schock-Werner. "Kunjungan ke katedral seharusnya tidak hanya dimungkinkan bagi orang kaya," kata Schock-Werner kepada penyiar publik Jerman, WDR. "Bagi saya, harus ada juga ruang yang bebas dari komersialisme," lanjutnya. Schock-Werner menambahkan bahwa dirinya lebih mendukung model pendanaan alternatif untuk menutupi biaya operasional katedral yang tinggi, seperti melalui pembentukan yayasan mandiri atau penggalangan dana dukungan khusus daripada membebankan langsung kepada pengunjung.

Katedral Cologne (Kölner Dom) bukan sekadar rumah ibadah biasa, melainkan mahakarya arsitektur yang menyimpan daya tarik luar biasa bagi dunia internasional. Dibangun selama lebih dari 600 tahun (selesai pada tahun 1880), katedral ini memiliki dua menara raksasa setinggi 157 meter yang sempat menjadikan bangunan tertinggi di dunia. Fasadnya yang rumit dan megah memancarkan keindahan seni abad pertengahan yang dramatis.

Di dalam, katedral menyimpan Relikui Tiga Raja Majus (Reliquary of the Three Magi). Peti emas berhias permata diyakini berisi sisa-sisa jenazah Tiga Orang Majus yang mengunjungi bayi Yesus. Ini menjadikannya salah satu pusat ziarah paling penting di Eropa sejak zaman dahulu.

Keajaiban kaca patri abad pertengahan menghiasi interior katedral. Jendela-jendela kaca patri raksasa memantulkan cahaya warna-warni yang magis ke seluruh ruangan, termasuk mahakarya kontemporer rancangan seniman terkenal Gerhard Richter yang dipasang pada tahun 2007. Bagi wisatawan yang bernyali, mereka dapat menaiki lebih dari 500 anak tangga menuju puncak menara Selatan untuk menikmati panorama menakjubkan Kota Cologne dan keindahan Sungai Rhine dari ketinggian.

Selama Perang Dunia II, katedral ini secara ajaib tetap berdiri tegak di tengah puing-puing Kota Cologne yang hancur lebur akibat bom. Ia menjadi simbol ketahanan dan harapan bagi masyarakat Jerman. Katedral Cologne tetap menjadi ikon arsitektur dan sejarah yang tak tergantikan.

Dengan kebijakan tiket baru, katedral berusaha menyeimbangkan kebutuhan finansial dengan akses publik. Meskipun ada kritik, katedral tetap menjadi tujuan utama bagi wisatawan internasional dan pelajar. Kebijakan ini mencerminkan tantangan modern bagi situs warisan dunia yang harus mempertahankan keberlanjutan operasional tanpa mengorbankan nilai historisnya.

Katedral Colognetiket masukbiaya operasionalUNESCOwisatawanRelikui Tiga Raja Majus

Komentar

Memuat komentar...