Kebiasaan Blind Box Berisiko Menurunkan Kesehatan Mental Risiko

Hari W. · 2 min baca · 1 jam lalu · 32 dibaca
Bisik.id
Kebiasaan Blind Box Berisiko Menurunkan Kesehatan Mental Risiko

Gambar atau konten salah?

Dr. Samuel Stemi, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi di IPB University, mengangkat topik yang sedang hangat di kalangan masyarakat: blind box. Ia menilai bahwa kebiasaan membeli kotak ini secara berlebihan dapat menimbulkan masalah kesehatan mental.

Blind box biasanya berisi mainan kecil, figur, atau barang koleksi yang tidak diketahui sebelum dibuka. Daya tariknya terletak pada rasa penasaran dan kejutan saat isi kotak terbuka, yang memicu perasaan senang. Rasa senang ini mendorong seseorang untuk mengulang pengalaman serupa, namun tanpa kontrol, perilaku tersebut bisa berlanjut.

"Jika dilakukan berulang tanpa kontrol, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi perilaku yang sulit dihentikan karena adanya dorongan untuk mendapatkan item atau karakter yang diinginkan," paparnya dikutip dari IPB University, Senin, 8 Juni 2026.

Perbandingan dengan hadiah pasti menunjukkan bahwa blind box dapat memicu pelepasan dopamin yang lebih kuat. Dopamin, neurotransmitter yang terkait dengan rasa senang, dilepaskan ketika seseorang mengalami kejutan atau ketidakpastian. Karena unsur ketidakpastian, kejutan, dan ekspektasi, pola ini dapat memicu impulsivitas, menurunkan kemampuan menunda keinginan, serta menimbulkan stres akibat pengeluaran yang tidak terkontrol.

Jika stres psikologi berlangsung dalam jangka panjang, kadar hormon kortisol bisa meningkat. Kadar kortisol tinggi dapat mempercepat penuaan biologis, menurunkan kualitas kulit, menimbulkan inflamasi kronis, dan mengganggu metabolik. Semua ini menandakan bahwa perilaku blind box yang tidak terkendali dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang.

Samuel menganggap mekanisme psikologi blind box mirip dengan perjudian. Kedua aktivitas memiliki sistem hadiah yang tidak pasti, mengaktifkan jalur dopamin, dan memicu dorongan untuk terus mengulangi perilaku tersebut.

"Meskipun tidak identik secara klinis dengan judi, pola ini berada dalam spektrum perilaku adiktif yang perlu diwaspadai," ungkapnya.

Ketika seseorang memperoleh hasil yang tidak diinginkan atau duplikat, biasanya muncul rasa kecewa atau disforia. Rasa ini dapat memicu reward chasing behavior, yaitu keinginan untuk membeli kembali demi mendapatkan hasil yang lebih memuaskan.

"Dorongan untuk memperbaiki hasil inilah yang berpotensi memperkuat siklus adiksi," sambung dia.

Untuk mencegah gangguan kesehatan mental, Samuel menyarankan masyarakat memahami mekanisme psikologi di balik blind box. Ia menekankan pentingnya mindful buying: menetapkan batas anggaran, frekuensi pembelian, meningkatkan literasi finansial, dan mengendalikan impuls. Peran orang tua juga penting dalam mengawasi pola konsumsi anak dan remaja. Jika perilaku mulai bersifat kompulsif dan mengganggu aktivitas, ia menyarankan untuk menghubungi psikolog atau psikiater.

"Blind box tidak sepenuhnya negatif jika dilakukan secara sadar dan terkontrol. Namun tanpa regulasi diri yang baik, terdapat potensi dampak terhadap kesehatan mental dan secara tidak langsung terhadap proses penuaan karena eratnya hubungan antara stres, hormon, dan kesehatan jangka panjang," tandasnya.

Dengan fakta tersebut, dapat dilihat bahwa perilaku blind box yang tidak terkendali dapat menimbulkan stres, potensi adiksi, dan mempengaruhi kesehatan jangka panjang. Keterbatasan kontrol dan ketidakpastian isi kotak menjadi faktor utama yang memicu siklus perilaku berulang dan dampak psikologis serta fisik yang tidak diinginkan.

blind boxadiksidopaminkadar kortisolkesehatan mentalimpulsivitaspengeluaran tidak terkontrol

Komentar

Memuat komentar...