Kebun Sayur Surabaya: Hidroponik Edukasi & Produksi Lokal
Gambar atau konten salah?
Surabaya, kota yang biasanya dipenuhi kebun dan tanah basah, kini menyuguhkan sayur segar di tengah perumahan. Di Jalan Gayung Kebonsari XI No. 15, Mehdy Riza telah menumbuhkan sayur mayur dari pipa putih berisi aliran air dan larutan nutrisi pada kebun seluas 700 meter persegi.
Kebun hidroponik ini tidak hanya menjadi tempat produksi, tapi juga ruang belajar, eksperimen, dan etalase urban farming di tengah kota. Dari anak TK hingga dinas pertanian luar daerah, pengunjung bergantian datang untuk menyaksikan sayur tumbuh tanpa tanah.
Awal mula kebun ini muncul pada 2014, berangkat dari kebutuhan sederhana. Mehdy menceritakan, saat itu pamannya memiliki kafe dan butuh bahan baku salad yang tak mudah ditemukan di pasar Surabaya. “Menu salad itu menarik, tapi kan nggak hanya selada keriting (bahannya), kan macam-macam. Nah itu nggak ada di pasar. Sayur di pasar juga kan layu-layu karena perjalanan jauh dan macet. Berarti kan ini harus nanam di kota nih,” ujar Mehdy saat ditemui di Kebun Sayur Surabaya, Selasa (05 Mei 2026).
Dari situ, Mehdy melihat peluang: sayuran segar berkualitas untuk kafe dan restoran masih belum banyak tersedia di Surabaya. Sementara bertani di kota sulit karena lahan terbatas, tanah mahal, dan kualitas tanah belum tentu mendukung. Hidroponik menjadi jalan keluar yang ia pilih.
Setelah belajar singkat di Jakarta selama tiga hari, Mehdy mulai menanam bibit pertamanya di kawasan Ketintang Selatan pada Juni 2014. Saat itu, hidroponik masih asing bagi banyak orang. Bahkan menurutnya, belum banyak yang benar-benar paham bagaimana sistem tanam tanpa tanah bekerja.
Tantangan datang bertubi-tubi. Bukan hanya soal budidaya, tapi juga soal mengenalkan hidroponik ke pasar yang benar-benar baru. Mehdy mengaku tak punya latar belakang pertanian. Pria lulusan prodi Manajemen ini hanya berbekal Standar Operasional Prosedur (SOP) dasar dari tempat belajar. “Dari situ kalau ditanyain, 'Kenapa talangnya miring, kenapa kok kotak kenapa nggak bulat?, kenapa ada lubang-lubang kenapa nggak dibuka aja?'. Kita dulu nggak ngerti, karena ya taunya cuma SOP. Akhirnya ya eksperimen sendiri, dari situ baru paham,” katanya.
Karena itu, sejak awal Kebun Sayur Surabaya dibuka untuk umum, tujuannya bukan semata berjualan, melainkan edukasi. Mehdy membuka kebunnya agar orang bisa melihat langsung, belajar, lalu memahami bagaimana hidroponik bekerja.
Keputusan itu membuat Kebun Sayur Surabaya tumbuh menjadi salah satu pionir hidroponik di Surabaya. Tak hanya konsumen, dinas pertanian dari berbagai daerah, mulai dari Bandung, Bali, hingga Kalimantan, juga pernah datang belajar. Mahasiswa dari kampus luar kota hingga luar pulau, bahkan mahasiswa dari Malaysia, menjadikan tempat ini lokasi studi lapangan.
Pada awal 2019, Mehdy memindahkan kebunnya dari Ketintang ke Gayung Kebonsari. Selain faktor internal, lokasi baru dipilih agar kebun tak lagi hanya berfungsi sebagai tempat produksi, tetapi juga lebih representatif sebagai ruang display dan edukasi.
Kini, kebun di Surabaya difokuskan sebagai kebun display dan ruang eksperimen. Beragam sistem hidroponik dipasang berdampingan untuk menunjukkan perbedaan hasil tiap perlakuan: penggunaan dengan dan tanpa atap, lampu grow light atau cahaya matahari, serta dengan dan tanpa kipas angin. “Ini kebun display, jadi memang buat percobaan. Biar orang tahu kalau pakai atap atau nggak hasilnya bagaimana, kalau pakai kipas atau nggak bagaimana, kalau pakai lampu atau nggak seperti apa,” ujar Mehdy.
Sayur yang ditanam di kebun display terus berganti. Saat ini, beberapa di antaranya adalah caisim, pakcoy, kangkung, selada merah, basil, dan mint. Sebagian dipanen untuk dijual, sebagian lagi dibiarkan sebagai bahan percobaan dan pembelajaran bagi pengunjung maupun anak magang.
Untuk produksi utama, Mehdy kini mengandalkan jaringan pemasok dari Malang. Namun ia menegaskan, pasokan itu bukan sepenuhnya berasal dari kebun miliknya sendiri. Sejak pandemi, ia tidak lagi mengelola kebun produksi secara penuh, melainkan menggandeng petani dan kebun lain sebagai pemasok tetap. “Produksi dari Malang. Sebetulnya nggak sepenuhnya kebun sendiri, kebun orang tapi dikontrak semua untuk saya. Sejak pandemi sudah nggak mau punya kebun produksi sendiri, full dari supplier,” kata Mehdy.
Skema itu membuat pasokan lebih efisien, tanpa harus menanggung beban operasional kebun produksi secara penuh seperti sebelumnya. Jika dulu ia masih berjalan dengan model kebun produksi sendiri ditambah supplier, kini sistem itu diubah menjadi berbasis pemasok dengan jaringan yang sudah dibangun sejak awal usaha berdiri.
Meskipun begitu, model bisnisnya tetap tak jauh berubah. Kebun Sayur Surabaya masih memasok kebutuhan hotel, restoran, kafe, supermarket, hingga rumah tangga. Hanya saja, Mehdy membatasi distribusi di Surabaya dan Sidoarjo agar kualitas sayur tetap terjaga saat sampai ke tangan pelanggan.
Keunggulan hidroponik paling terasa bukan pada kecepatan tumbuh, melainkan pada hasil akhir. Sayur hidroponik, katanya, punya tampilan lebih segar dan tekstur yang lebih renyah. “Jadi memang kalau kita perhatiin, hidroponik ini lebih crunchy sih. Hasilnya beda, tampilannya juga lebih fresh,” katanya.
Mudahnya rotasi menjadi nilai plus berikutnya. Setelah panen, instalasi tanam hanya perlu dilap dan memakan waktu sekitar 5-10 menit saja sebelum kembali ditanami bibit baru. Proses ini membuat siklus tanam lebih praktis, sekaligus mengurangi risiko penyakit pada tanaman dibanding metode konvensional.
Selain minim penyakit bagi tanaman, hasil hidroponik juga aman dikonsumsi. Mehdy mengatakan, pertanyaan yang paling sering ia terima dari pengunjung adalah apakah hidroponik termasuk organik. Menurutnya, hidroponik memang bukan organik, tetapi tetap aman dikonsumsi dan ramah lingkungan. “Bukan organik, tapi aman (dikonsumsi). Sama ramah lingkungan, iya,” tegasnya.
Menurutnya, keamanan pangan tak cukup dilihat dari label organik semata. Sebab, produk organik pun tetap memiliki risiko apabila proses budidaya dan penanganannya kurang tepat, termasuk potensi kontaminasi bakteri yang dapat membahayakan konsumen.
Namun, nilai penting Kebun Sayur Surabaya tak berhenti di urusan panen. Mehdy justru lebih menikmati ketika kebun itu bisa jadi tempat berbagi ilmu. Dari sana, ia bertemu banyak orang baru, menerima anak magang dari berbagai daerah, hingga melihat makin banyak orang mulai tertarik menanam sendiri. “Sukanya akhirnya ketemu orang baru, bisa bagi-bagi ilmu, orang jadi suka tanaman. Ya setidaknya berkontribusi sedikit buat mendinginkan Surabaya,” ucapnya diimbuhi gurauan.
Tak hanya menjual sayur segar, Kebun Sayur Surabaya juga punya beragam produk olahan yang bisa dinikmati langsung oleh masyarakat. Mulai dari aneka salad, jus sayur segar, hingga olahan makanan sehat lain yang dibuat dari hasil panen mereka sendiri.
Orang yang ingin membeli produk atau sekadar melihat aktivitas kebun dapat mengunjungi Instagram @kebunsayursurabaya. Dari sana, pemesanan bisa dilanjutkan melalui nomor WhatsApp yang tertera.
Dari kebun kecil di tengah kota ini, Mehdy tidak hanya menanam sayur. Ia juga menanam cara pandang baru, bahwa bertani bahkan bisa dilakukan tengah padatnya kota. Sayur tetap bisa tumbuh segar asal ada kemauan untuk merawatnya.
Dengan pendekatan edukasi, jaringan pemasok, dan inovasi hidroponik, Kebun Sayur Surabaya menunjukkan bahwa kota tidak harus menjadi penghalang bagi pertanian. Model ini menegaskan bahwa sayur segar dapat dihasilkan secara lokal, aman, dan berkelanjutan, sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk belajar dan berpartisipasi dalam pertanian urban.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Semampir: Mobil Baleno, 8 Jeriken Pertalite Ditemukan
1 Muharram Jadi Puncak Tahun Baru Islam, Sejarah Hijrah
Slamet Santoso: Pemuda Banyuwangi Gabung Sokol Pyrzyce
Telmo Castanheira Berpisah dari Persik Kediri Musim 2025/26
Mihailo Perovic Tinggalkan Persebaya, Tak Lagi Pakai Seragam
Surabaya Pasang Pot Bunga di TPS Liar, Coba Hindari Sampah
Berita Terbaru
Semampir: Mobil Baleno, 8 Jeriken Pertalite Ditemukan
1 Muharram Jadi Puncak Tahun Baru Islam, Sejarah Hijrah
Spanyol: Juara 2010, Kini Performa Tidak Konsisten
Jetour T1 i-DM: Hybrid Adaptif, 100 km Listrik Murni
Liverpool Pecat Pelatih Arne Slot, Van Dijk
Fabiola Terjebak, Scammer Internasional Jangkau Sukoharjo
MotoGP Hungaria 2026: Ducati Harapan Juara di Balaton Park
BRIN Buka Program DBR Mahasiswa Riset Semikonduktor
