Kecap Cap SH: Warisan Kuliner 100 Tahun di Tangerang
Gambar atau konten salah?
Kecap Cap SH sudah dikenal sebagai salah satu kecap tertua yang masih eksis di Indonesia. Di balik kemasan hitam legatnya, tersembunyi beberapa fakta menarik mengenai sejarah dan produksi kecap ini.
Sejak 1 Januari 1920, kecap ini diproduksi di kawasan Pasar Lama, Tangerang. Usia lebih dari seratus tahun membuatnya melewati berbagai era, mulai masa kolonial Belanda, kemerdekaan Indonesia, hingga era modern. Dari rumah tangga hingga restoran, pelanggan setia menganggap rasa kecap ini tidak pernah berubah.
Nama SH berasal dari inisial pendiri, Siong Hin. Ia adalah keturunan Tionghoa yang menetap di Tangerang dan memulai usaha kecap secara tradisional. Hal ini mencerminkan peran komunitas Tionghoa dalam membawa teknik fermentasi kedelai ke Indonesia, yang kemudian berkembang menjadi kecap manis khas Nusantara.
Selain itu, kecap ini juga dikenal dengan julukan kecap Benteng. Istilah tersebut merujuk pada wilayah Tangerang yang dulu dikenal sebagai daerah Benteng. Julukan ini bukan sekadar nama, melainkan identitas budaya. Kecap SH dianggap sebagai warisan kuliner khas Tangerang yang terus dilestarikan.
Walaupun sudah sangat tua, Kecap Cap SH bukanlah merek kecap tertua di Indonesia. Catatan sejarah menunjukkan bahwa beberapa merek kecap sudah berdiri lebih dulu, seperti Kecap Cap Istana pada 1 Januari 1882 dan Kecap Cap Orang Jual Sate sejak 1 Januari 1889. Meskipun lebih tua, Kecap SH tetap diproduksi dengan cara tradisional.
Keunikan utama Kecap SH terletak pada metode produksinya yang masih mempertahankan cara tradisional. Produksi tidak dilakukan secara massal, melainkan dalam skala terbatas dan sering kali berbasis pra‑pesanan. Proses fermentasi kedelai dilakukan dengan teliti untuk menjaga kualitas rasa. Inilah yang membuat kecap ini memiliki cita rasa khas yang sulit ditiru oleh produk industri besar.
Di tengah dominasi merek-merek besar yang diproduksi massal, Kecap SH tetap bertahan dengan identitasnya. Kunci utamanya adalah konsistensi rasa dan loyalitas pelanggan. Alih‑alih bersaing besar‑besaran, Kecap SH justru mempertahankan teknik tradisional yang menjadi daya tarik tersendiri. Rasanya yang otentik masih diandalkan oleh pedagang makanan kaki lima hingga restoran legendaris.
Kecap ini masih diperjual belikan di toko‑toko atau pabriknya langsung, terutama di kawasan Tangerang. Harga berkisar antara Rp11.000 hingga Rp30.000, tergantung jumlah isi dan kemasan. Meskipun tidak sepopuler merek industri, Kecap SH tetap menjadi pilihan bagi yang menginginkan rasa autentik.
Seiring berjalannya waktu, Kecap Cap SH menunjukkan bahwa produk tradisional dapat bertahan lama jika tetap menjaga kualitas dan identitasnya. Merek ini menjadi contoh bagaimana warisan kuliner dapat dipertahankan meski dihadapkan pada persaingan industri yang kuat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
