Kelelahan Tak Kunjung Reda? Waspada Diabetes
Gambar atau konten salah?
Rasa lelah atau lemas yang berkepanjangan, bahkan setelah beristirahat, bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang serius. Salah satu kondisi yang sering memicu kelelahan terus-menerus adalah diabetes, baik itu tipe 1 maupun tipe 2. Penting untuk memahami apa yang menyebabkan rasa lelah ini dan bagaimana kaitannya dengan penyakit tersebut.
Beberapa gejala umum diabetes ternyata bisa berkontribusi langsung pada rasa lelah yang tidak kunjung hilang. Gejala-gejala ini seringkali saling terkait dan menciptakan siklus yang melelahkan bagi penderitanya.
Rasa haus yang berlebihan, atau yang dikenal dengan istilah medis polidipsia, adalah salah satu gejala utama. Kondisi ini muncul karena tubuh berusaha keras untuk mengatasi kadar gula darah yang sangat tinggi. Rasa haus ini juga diperparah oleh seringnya buang air kecil, yang merupakan gejala lain dari diabetes. Tubuh kehilangan banyak cairan, sehingga sinyal haus terus-menerus dikirimkan.
Selain itu, ada juga rasa lapar yang berlebihan meskipun sudah makan, atau polifagia. Ini terjadi karena kekurangan insulin membuat tubuh tidak bisa menggunakan glukosa dari makanan sebagai energi. Akibatnya, tubuh merasa kekurangan bahan bakar dan memicu rasa lapar yang tak kunjung reda, meskipun porsi makan sudah cukup.
Gejala lain yang mungkin terlihat aneh adalah penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Ketika glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel untuk dijadikan energi, tubuh mulai mencari sumber energi alternatif. Tubuh kemudian mulai membakar cadangan lemak dan otot. Proses inilah yang menyebabkan berat badan turun drastis, padahal penderitanya mungkin tidak sedang berdiet atau berusaha menurunkan berat badan.
Penglihatan yang kabur juga sering menyertai. Kadar gula darah yang tinggi dapat menarik cairan dari berbagai jaringan tubuh, termasuk dari lensa mata. Hal ini membuat lensa mata berubah bentuk dan kemampuan fokusnya terganggu, sehingga pandangan menjadi tidak jelas.
Meskipun tidak semua gejala ini secara langsung menyebabkan kelelahan, kombinasi dari rasa tidak nyaman yang berkepanjangan dapat berdampak besar pada kesehatan fisik dan mental. Rasa haus yang terus-menerus, lapar yang tak terpuaskan, dan pandangan yang buram bisa menguras energi dan membuat penderitanya merasa lelah sepanjang waktu.
Selain gejala-gejala tersebut, ada alasan lain mengapa diabetes bisa membuat seseorang merasa sangat lelah. Salah satu alasan utamanya adalah perubahan kadar gula darah itu sendiri.
Tubuh kita memecah makanan yang kita konsumsi menjadi gula sederhana, yaitu glukosa. Sel-sel tubuh kemudian membutuhkan insulin untuk menyerap glukosa dari aliran darah dan mengubahnya menjadi energi. Pada penderita diabetes, pankreas tidak menghasilkan insulin yang cukup, atau tubuh tidak bisa menggunakan insulin yang ada secara efektif.
Akibatnya, kadar glukosa dalam darah menumpuk. Sementara itu, sel-sel tubuh justru kekurangan pasokan glukosa untuk diubah menjadi energi. Inilah yang menyebabkan rasa lelah. Tubuh memiliki banyak gula dalam darah, tetapi tidak bisa menggunakannya. Ini seperti memiliki tangki bensin yang penuh, tetapi mesin mobil tidak bisa mengaksesnya untuk berjalan.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kesehatan mental. Hidup dengan diabetes, penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan setiap hari, bisa sangat membebani secara emosional. Kondisi ini seringkali memicu gejala depresi, yang pada gilirannya juga berkontribusi terhadap rasa lelah.
Beberapa gejala depresi yang umum terjadi pada penderita diabetes antara lain perubahan pola makan yang tidak teratur, yang justru bisa memengaruhi kadar glukosa darah. Ada juga kehilangan energi dan motivasi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Depresi juga bisa menyebabkan kenaikan berat badan, yang semakin mempersulit pengelolaan diabetes.
Karena itu, pemeriksaan gula darah secara rutin menjadi sangat penting. Skrining kesehatan ini bukan hanya untuk mengetahui angka gula darah saat itu juga, tetapi untuk melihat gambaran yang lebih luas.
"Kalau masalah gula harus cek lab, tentu saja. Tidak hanya gula sewaktu, jadi harus diagnosis untuk diabetes mellitus itu paling tidak ada gula darah puasa, atau namanya HbA1c. Itu adalah rata-rata kadar gula darah 2-3 bulan terakhir, sehingga kita jadi tahu, 'Oh saya ini aman nggak sih?' Atau saya masuk ke prediabetes, atau saya sudah diabetes," jelas dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD, seorang dokter spesialis penyakit dalam.
Dengan mengetahui hasil pemeriksaan seperti HbA1c, seseorang bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang kondisi gula darahnya dalam jangka panjang. Kesadaran ini biasanya akan mendorong seseorang untuk lebih bijak dalam memilih makanan dan mengurangi konsumsi makanan yang berisiko meningkatkan kadar gula darah. Kelelahan yang terus-menerus bukanlah hal yang normal. Jika Anda atau orang terdekat mengalami rasa lelah yang tak kunjung reda, terutama jika disertai dengan rasa haus yang berlebihan, sering buang air kecil, atau penurunan berat badan, ada baiknya untuk segera memeriksakan diri ke dokter. Deteksi dini dan pengelolaan yang tepat dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius di kemudian hari.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tiga Kebiasaan Makan Ini Bikin Stres Makin Parah
Kuli Bangunan Mati Akibat Panas Ekstrem dan Kerusakan Ginjal
Pasca Mastektomi: Pemulihan Fisik, Emosional, dan PET‑CT
PET-CT di Mayapada: Kunci Terapi Kanker Askarina di Jakarta
Gejala Kecil, Risiko Besar: Waspadai Tanda Awal Kanker
Vaksin HPV di Inggris Kurangi Kematian Serviks Anak Muda
Berita Terbaru
Tiga Kebiasaan Makan Ini Bikin Stres Makin Parah
Prabowo Setuju Anggaran Pelatnas Multiyears
Jadwal Premier League 2026/2027 Rilis, Manchester United Hadapi Derbi Awal Lawan City
Ramalan bintang cinta Sabtu 20 Juni 2026
Minyak Goreng Bantuan di Wonogiri Berbau Seperti Minyak Tanah
Utang Amanah: Jangan Tunda Bayar, Ini 5 Doa Pelunas dari Rasul
Cuaca Cerah di Bandung, Akhir Pekan Nyaman untuk Semua
Numerologi 20 Juni 2026: Arti Angka Universal 9 dan Pengaruhnya