Pasca Mastektomi: Pemulihan Fisik, Emosional, dan PET‑CT
Gambar atau konten salah?
Para pejuang kanker payudara, operasi mastektomi hanyalah titik awal perjalanan. Setelah bedah, pasien memasuki fase pemulihan yang memerlukan perhatian menyeluruh, baik fisik maupun emosional.
Dr. Dharmayanti Francisca Badudu, Sp.B(K) Onk., konsultan bedah onkologi di Mayapada Hospital Bandung, menegaskan bahwa mastektomi bukan akhir, melainkan permulaan adaptasi terhadap perubahan tubuh dan perasaan. Ia menekankan pentingnya memulihkan kualitas hidup agar pasien dapat kembali aktif dengan percaya diri.
Di minggu pertama pasca operasi, fokus utama adalah penyembuhan luka, pengurangan rasa nyeri, dan pemulihan gerakan lengan serta bahu. Perawatan ini menjadi fondasi bagi langkah selanjutnya dalam proses penyembuhan.
Selain terapi obat sistemik, pasien harus menjalani pemantauan rutin. Pemeriksaan ini memastikan proses penyembuhan berjalan lancar dan mendeteksi komplikasi sejak dini. Setelah fase ini, evaluasi klinis menentukan apakah terapi lanjutan diperlukan.
“Setiap keputusan medis ini dirancang secara personal, menyesuaikan dengan jenis kanker, stadium, hasil pemeriksaan jaringan, hingga kondisi unik dari masing-masing pasien,” ujar dr. Francisca pada 19 Juni 2026.
Dr. Lim Andreas, Sp.KN, spesialis kedokteran nuklir di Mayapada Hospital Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa pada beberapa kondisi, pemeriksaan penunjang menggunakan PET-CT Scan atau SPECT-CT Scan dipakai untuk menilai respons terapi atau mendeteksi penyebaran baru serta kekambuhan penyakit.
“Pada beberapa kondisi, pemeriksaan penunjang dengan teknologi pencitraan Kedokteran Nuklir seperti PET-CT Scan atau SPECT-CT Scan dilakukan untuk menilai respons terapi maupun mendeteksi penyebaran baru atau kekambuhan penyakit,” ujarnya.
Teknologi PET-CT Scan dan SPECT-CT Scan kini tersedia di Indonesia, khususnya di Poli Kedokteran Nuklir Mayapada Hospital Jakarta Selatan. Fasilitas ini menawarkan pencitraan seluruh tubuh dengan hasil tajam, waktu pemeriksaan singkat, dan paparan radiasi rendah dibandingkan metode serupa di luar negeri.
Hanya kurang dari sepuluh rumah sakit di Indonesia yang memiliki peralatan ini, menjadikannya alternatif penting bagi pasien yang sebelumnya harus mencari layanan serupa di luar negeri.
Proses pemulihan pascamastektomi juga melibatkan penyesuaian fisik dan psikologis. Banyak pasien mempertimbangkan rekonstruksi payudara untuk memulihkan kontur tubuh. Pilihan ini dapat dilakukan pada waktu yang berbeda, dan memerlukan konsultasi khusus untuk menyesuaikan kebutuhan individu.
Di tengah tantangan ini, kehadiran Patient Navigator menjadi pendamping penting bagi pasien dan keluarga. Navigator membantu memahami tahapan perawatan, mengoordinasikan kebutuhan medis, serta mendampingi pasien selama masa pemulihan.
Mayapada Hospital mengembangkan layanan Oncology Center yang menawarkan penanganan kanker secara komprehensif. Pendekatan patient-centered care diintegrasikan melalui kolaborasi tim dokter multidisiplin dalam Tumor Board, memastikan penanganan terpersonalisasi, teknologi canggih, dan komitmen “We Walk Every Journey with C.A.R.E.”
Di fase ini, Patient Navigator berperan sebagai penguat dengan pendekatan human-centered care, memberi rasa tenang dan mengurangi rasa kesendirian pasien.
Pasien dapat memperoleh layanan lengkap di Oncology Center Mayapada Hospital. Konsultasi dengan dokter spesialis onkologi dan kedokteran nuklir tersedia melalui call center 150770 atau aplikasi MyCare. Untuk kebutuhan PET-CT Scan dan SPECT-CT Scan, pasien dapat menghubungi layanan tersebut.
Jika terjadi kegawatdaruratan, masyarakat dapat menghubungi layanan emergency Mayapada Hospital melalui call center 150990 atau tombol emergency di aplikasi MyCare.
Informasi kesehatan dari dokter Mayapada Hospital dapat diakses melalui fitur Health Articles & Tips di aplikasi MyCare. Selain itu, aplikasi ini memungkinkan pemantauan kebugaran tubuh lewat fitur Personal Health, menghitung detak jantung, langkah kaki, kalori terbakar, dan Body Mass Index (BMI).
Dengan layanan terpadu, pasien tidak hanya mendapatkan perawatan medis, tetapi juga dukungan emosional dan logistik, memudahkan mereka menavigasi perjalanan pemulihan setelah mastektomi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
PET-CT di Mayapada: Kunci Terapi Kanker Askarina di Jakarta
Gejala Kecil, Risiko Besar: Waspadai Tanda Awal Kanker
Vaksin HPV di Inggris Kurangi Kematian Serviks Anak Muda
Tiga Saudara Perempuan Temukan Donor Sperma Bersama
Jepang: 95.119 centenarian, pola hidup simpel umur panjang
Tantangan Otak: Mainkan Game Jalur Visual Menantang Konsentrasi
Berita Terbaru
Pasca Mastektomi: Pemulihan Fisik, Emosional, dan PET‑CT
Pedagang Sapi Ajak DPRD Atasi Kelangkaan dan Harga Tinggi
Sesar Kendeng Bojonegoro: BPBD Siapkan Simulasi Gempa
PET-CT di Mayapada: Kunci Terapi Kanker Askarina di Jakarta
KN Pordasi Rencanakan Persiapan PON 2028 di NTT‑NTB
Erik ten Hag Terbuka Jadi Pelatih Timnas Belanda Indonesia
Hoax Warna Ikon WhatsApp: Tidak Menandai Blokir atau Disimpan
Indonesia Paksa B50 di Jalan pada 1 Juli 2026