Kemenkes Siapkan Vaksin Tambahan bagi Tenaga Medis Campak
Gambar atau konten salah?
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sedang menyiapkan langkah perlindungan tambahan bagi tenaga medis yang termasuk dalam kelompok rentan terhadap penularan campak. Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Andi Saguni, mengungkapkan rencana ini dalam konferensi pers pada Senin, 30 Maret 2026.
“Apakah ada rencana vaksinasi? Ya betul, kita akan mengarah ke sana. Dan secara cepat kami juga siapkan analisis daripada uji vaksinnya, uji klinisnya, terkait dengan program vaksin yang digunakan saat ini,” tegas Andi.
Andi menjelaskan bahwa seseorang yang sudah menerima imunisasi campak dan rubella secara lengkap—dua kali, pertama pada usia 18 bulan dan kedua pada kelas 1 SD—harusnya sudah memiliki perlindungan tubuh yang optimal. Namun, pada usia dewasa, efektivitas perlindungan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan kondisi kesehatan pribadi.
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi daya tahan tubuh orang dewasa terhadap campak antara lain:
- Imunitas yang lemah: kondisi fisik yang tidak prima akibat beban kerja atau stres.
- Penyakit kronis: penderita diabetes, kanker, atau hipertensi memiliki risiko kerentanan yang lebih tinggi.
- Kondisi khusus: pasien dengan sistem imun tertekan, misalnya pasien HIV‑AIDS.
Selain kondisi kesehatan individu, lingkungan kerja juga menjadi alasan kuat mengapa vaksinasi tambahan diperlukan bagi dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Tenaga medis di rumah sakit maupun puskesmas sering kali terpapar virus campak dengan frekuensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum.
“Tentunya bahwa intensitas terpapar oleh campak, khususnya tenaga kesehatan, itu juga menjadi faktor risiko yang signifikan,” ucap dia.
Dengan langkah ini, Kemenkes berharap dapat menurunkan risiko penularan campak di kalangan tenaga medis. Program vaksin tambahan dan analisis uji klinis yang sedang dipersiapkan diharapkan dapat menambah lapisan perlindungan bagi tenaga kesehatan, mengingat bahwa kekuatan imun pada dewasa dapat menurun dan paparan di tempat kerja tetap tinggi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
