Kopi Jawa: Sejarah, Asal‑Mula, dan Peran Globalnya Milenial

Ningsih R. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Kopi Jawa: Sejarah, Asal‑Mula, dan Peran Globalnya Milenial

Gambar atau konten salah?

Berbagai istilah tentang kopi sering kali membingungkan. Espresso dan drip menandai cara pembuatan, sedangkan mocha dan cappuccino merujuk pada minuman yang sudah jadi. Ada pula kata yang menyinggung asal‑asal dan sejarah, seperti Java.

Di akhir abad ke‑18, kopi Jawa sudah menjadi ikon di Eropa. Para penikmat kopi di sana menganggapnya tak terpisahkan dari kenangan mereka, sehingga kata Java dipakai sebagai sinonim bagi kopi. Ungkapan a cup of Java pun meresap ke dalam bahasa sehari‑hari.

Perusahaan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) memimpin ekspor kopi Jawa ke seluruh dunia. Sebagai salah satu wilayah pertama di luar Afrika dan Arab yang menanam kopi, Jawa berperan penting dalam membentuk budaya kopi global.

Di tahun 01 Januari 1720, kopi Jawa mulai dikenal di dunia internasional. Nilainya seringkali 10 hingga 15 kali lebih tinggi dibandingkan kopi biasa, menandakan permintaan yang sangat tinggi.

Sejarah kopi di Pulau Jawa bermula pada 01 Januari 1650 ketika Pieter van den Broecke, pedagang Belanda yang bekerja di VOC, mengunjungi Kota Mocha di Yaman. Ia mencicipi sesuatu yang Panas dan Hitam—momen pertama seorang Belanda merasakan kopi. Ia pun memutuskan untuk mencuri biji kopi dan membawanya kembali ke Amsterdam.

Namun, iklim Belanda tidak mendukung budidaya. Pada 01 Januari 1658, Belanda mengirim kopi ke timur, ke Ceylon (Sri Lanka). Meskipun demikian, mereka lebih memilih fokus pada perkebunan di Jawa agar tidak menurunkan harga akibat pasokan berlebih.

Tanaman kopi pertama ditanam di Batavia. Awalnya gagal karena banjir, namun beberapa tahun kemudian upaya berhasil. Keberhasilan ini menandai awal kebun kopi di pulau tersebut.

Pada awal 01 Januari 1700, perkebunan kopi di Jawa berkembang pesat. Tanah vulkanik dan iklim tropis membuat pulau itu menjadi tempat ideal untuk budidaya. Jawa dengan cepat menjadi identik dengan biji kopi berkualitas tinggi yang dikirim ke seluruh dunia.

Hari Suroto, penulis yang bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara, menekankan bahwa sejarah kopi Jawa tidak hanya tentang perdagangan, tetapi juga tentang bagaimana budaya dan ekonomi saling memengaruhi. Perkebunan kopi di Jawa menjadi contoh bagaimana kolonialisme dapat memicu pertumbuhan industri sekaligus menciptakan warisan budaya yang masih dirasakan hingga kini.

kopi JavaVOCperkebunan kopisejarah kopibudaya kopiperdagangan kopikolonialisme

Komentar

Memuat komentar...