KWT Sasak Maiq Ubah Limbah Pisang Jadi Cuan

Ika P. · 4 min baca · 56 menit lalu · 21 dibaca
Bisik.id
KWT Sasak Maiq Ubah Limbah Pisang Jadi Cuan

Gambar atau konten salah?

Kementerian Pertanian, lewat Direktorat Jenderal Hortikultura, mendorong pengolahan hasil kebun lebih serius. Caranya dengan memanfaatkan peralatan pascapanen dan menciptakan aneka produk dari bahan lokal.

Freddy Lumban Gaol, Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura yang juga merangkap Project Director Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project (HDDAP), langsung meninjau lokasi. Ia mengunjungi Kelompok Wanita Tani (KWT) Sasak Maiq di Desa Seteluk, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Selasa, 20 Oktober 2026.

Tujuannya? Mengevaluasi bantuan pemerintah yang sudah diberikan. Sekaligus mencari praktik baik yang bisa ditiru kelompok tani lain di wilayah sasaran HDDAP.

KWT Sasak Maiq ini contoh nyata. Mereka berusaha menambah nilai komoditas hortikultura lewat kreativitas pengolahan, memanfaatkan bagian tanaman, dan merambah pasar. Kelompok ini merintis usaha sejak 2013. Fokus pada pengolahan pisang baru dimulai tahun 2019.

Freddy datang ditemani penanggung jawab kegiatan pascapanen dan pengolahan, plus pengelola KWT. Peninjauan menyoroti kelanjutan bantuan sarana dan prasarana pascapanen dari Direktorat Jenderal Hortikultura tahun 2024. Bantuan itu lewat dana tugas pembantuan provinsi.

Produk olahan KWT Sasak Maiq beragam. Ada keripik pelepah pisang, keripik jantung pisang, keripik pakis, rolls banana, keripik pare, bawang goreng, sambal Masak Maiq, dan stik cabai. Semua dari bahan baku lokal. Ini membuka peluang pasar oleh-oleh dan konsumen lebih luas.

Bukan cuma produk jadi. Kelompok ini juga berencana mengolah sisa tanaman yang tak bisa jadi makanan menjadi pupuk organik. Harapannya, limbah produksi berkurang dan sumber daya lebih efisien.

Freddy menilai pengalaman KWT Sasak Maiq penting. Soal kreativitas dan konsistensi kelompok dalam mengembangkan usaha dari potensi lokal.

"Hilirisasi itu bukan hanya soal mengolah hasil panen menjadi produk yang bisa dijual, tetapi juga bagaimana kita membuka peluang usaha, menambah penghasilan keluarga, dan menciptakan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Apa yang dilakukan ibu-ibu di KWT Sasak Maiq menunjukkan bahwa bagian tanaman yang selama ini mungkin dianggap tidak bernilai ternyata bisa menjadi peluang ekonomi jika dikelola dengan kreativitas, kemauan belajar, dan pendampingan yang tepat," ujar Freddy dalam keterangan, Kamis, 22 Oktober 2026.

Menurutnya, pengembangan usaha hortikultura butuh dukungan optimalisasi sarana produksi, peningkatan keterampilan SDM, dan penguatan akses pemasaran. Dengan begitu, bantuan pemerintah bisa berkelanjutan dan mendorong kelompok usaha mandiri.

Salah satu produk unggulan KWT Sasak Maiq adalah keripik pelepah pisang. Pengelola kelompok bilang, produksi rata-rata delapan pelepah per hari. Setiap pelepah menghasilkan sekitar 30 kemasan, masing-masing 100 gram.

Artinya, kelompok ini mampu memproduksi sekitar 240 kemasan atau 24 kilogram keripik pelepah pisang per hari. Angka ini menunjukkan potensi bagian tanaman pisang yang bisa diolah jadi produk bernilai tambah.

Soal pemasaran, bahan baku satu gedebong pisang dibeli dengan harga Rp10.000 hingga Rp20.000. Sementara produk olahan dijual lewat reseller dan toko oleh-oleh dengan harga Rp30.000 hingga Rp35.000 per kemasan.

Selisih harga bahan baku dan produk akhir menunjukkan ada peluang nilai tambah dari proses pengolahan. Tapi, keuntungan usaha tetap harus memperhitungkan biaya tenaga kerja, bahan pendukung, energi, pengemasan, distribusi, dan biaya operasional lainnya.

Sarana dan prasarana pascapanen yang difasilitasi tahun 2024 masih dipakai untuk produksi kelompok. Keberlanjutan fasilitas ini penting. Bantuan pemerintah harus mendukung peningkatan kapasitas usaha, bukan sekadar penyediaan peralatan.

Pengalaman KWT Sasak Maiq bisa jadi bahan belajar bagi kelompok tani di klaster HDDAP. Khususnya dalam mengembangkan produk olahan yang sesuai dengan komoditas lokal. Tapi, penerapannya di wilayah lain harus mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, kapasitas SDM, kesiapan sarana, dan kebutuhan pasar setempat.

Freddy menegaskan, setiap kelompok tani punya potensi dan tantangan berbeda. Karena itu, pengembangan hilirisasi harus bertahap. Mulai dari identifikasi potensi komoditas, penguatan kemampuan pengolahan, pengembangan produk, hingga perluasan akses pasar.

"Kami ingin praktik baik seperti ini tidak berhenti pada satu kelompok saja. Harapannya, pengalaman KWT Sasak Maiq bisa menjadi inspirasi bagi kelompok tani lainnya untuk berani berinovasi dan melihat peluang dari komoditas yang mereka miliki. Tentu, setiap daerah harus menyesuaikan dengan potensi dan kebutuhan pasarnya. Yang terpenting, usaha ini tumbuh bersama masyarakat, memberi manfaat bagi keluarga petani, dan dapat terus berjalan dalam jangka panjang," kata Freddy.

HDDAP adalah program pengembangan hortikultura di lahan kering. Fokusnya pada peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan petani, dan pengembangan rantai nilai. Pengalaman kelompok seperti KWT Sasak Maiq bisa jadi referensi untuk memperkuat hilirisasi dan pemasaran agar produk hortikultura lebih berdaya saing.

Sebagai tindak lanjut, Direktorat Jenderal Hortikultura akan mendorong optimalisasi bangsal pascapanen dan peralatan pengolahan yang sudah difasilitasi. Praktik baik KWT Sasak Maiq perlu diidentifikasi dan didokumentasikan. Terutama soal diversifikasi produk, pemanfaatan bahan baku, pengelolaan limbah, dan strategi pemasaran.

Potensi adaptasi model usaha ini pada kelompok tani klaster HDDAP juga perlu dikaji. Harus sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, pendamping, dan kelompok tani jadi faktor penting. Untuk memperkuat kapasitas usaha, memperluas akses pasar, dan meningkatkan keberlanjutan kegiatan ekonomi masyarakat.

Lewat penguatan hilirisasi, Kementerian Pertanian berharap komoditas hortikultura tak cuma dijual segar. Tapi juga diolah jadi produk bernilai tambah lebih besar. Dengan dukungan sarana tepat, inovasi kelompok, dan akses pasar berkelanjutan, hilirisasi diharapkan membuka peluang usaha baru dan memperkuat kesejahteraan petani.

KWT Sasak Maiq membuktikan, bagian tanaman yang sering dianggap limbah bisa jadi sumber pendapatan. Kreativitas dan konsistensi jadi kunci. Tapi keberhasilan mereka tak lepas dari dukungan pemerintah dan pendampingan yang tepat. Model ini bisa direplikasi, asal disesuaikan dengan kondisi lokal masing-masing daerah.

hilirisasi hortikulturapengolahan pisangKWT Sasak Maiqproduk olahan lokalpascapanenkreativitas petani

Komentar

Memuat komentar...