Laba JAPFA Semester I/2026 Tembus Rp2,68 Triliun

Yuli S. · 3 min baca · 1 jam lalu · 15 dibaca
Bisik.id
Laba JAPFA Semester I/2026 Tembus Rp2,68 Triliun

Gambar atau konten salah?

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) membukukan laba periode berjalan sebesar Rp 2,68 triliun pada paruh pertama tahun 2026. Angka ini melonjak dari Rp 1,36 triliun yang dicatatkan pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Kinerja ini didorong oleh peningkatan penjualan bersih, efisiensi di berbagai lini operasional, dan pengelolaan bisnis yang berkelanjutan.

Hingga 30 Juni 2026, perusahaan mencatat penjualan bersih Rp 35,36 triliun. Jumlah itu naik signifikan dari Rp 27,48 triliun pada semester I-2025. Laba usaha perusahaan juga meningkat, dari Rp 2,10 triliun menjadi Rp 3,73 triliun. Sementara itu, EBITDA—yang mengukur kinerja operasional—mencapai Rp 4,41 triliun, naik dari Rp 2,73 triliun.

Direktur JAPFA Leo Handoko menjelaskan bahwa hasil ini mencerminkan model bisnis yang berkelanjutan. "Kinerja Semester I-2026 mencerminkan model bisnis JAPFA yang berkelanjutan serta komitmen kami untuk terus meningkatkan efisiensi dan produktivitas di seluruh lini usaha," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Selasa, 27 Oktober 2026. Ia menambahkan bahwa di tengah tekanan biaya bahan baku dan dinamika pasar, perusahaan tetap fokus pada penguatan bisnis inti, digitalisasi, dan sinergi antar unit usaha.

Total aset perusahaan pada 30 Juni 2026 tercatat Rp 45,15 triliun. Angka ini meningkat dari Rp 36,37 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Belanja modal atau capex selama semester I-2026 mencapai Rp 2,16 triliun, naik dari Rp 932 miliar. Sementara itu, total utang berbunga tercatat Rp 16,27 triliun, dengan rasio utang bersih terhadap ekuitas sebesar 64,1%.

JAPFA juga telah menyelesaikan divestasi 100% saham PT Vaksindo Satwa Nusantara pada 29 September 2026. Langkah ini menghasilkan penerimaan kas sekitar Rp 1,81 triliun sebelum pajak. Jika ditambah dividen yang telah diumumkan sebelum penjualan, total penerimaan kas grup mencapai sekitar Rp 2,81 triliun sebelum pajak.

Dana dari transaksi tersebut akan digunakan untuk membiayai kembali bisnis inti, termasuk kebutuhan belanja modal. Langkah ini juga membantu mengurangi ketergantungan perusahaan pada pinjaman bank. Keputusan ini memungkinkan JAPFA memusatkan perhatian manajemen dan sumber daya pada sektor-sektor prioritas pertumbuhan jangka panjang. Dari sisi operasional, pasokan vaksin untuk peternakan JAPFA tetap terjaga dengan persyaratan yang secara substansial sama, sehingga mendukung kelangsungan usaha.

Selain kinerja keuangan, JAPFA terus mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis. Pada tahun 2025, perusahaan berhasil mencapai inisiatif Zero Coal lebih cepat dari target awal 2040. Inisiatif ini, bersama pemanfaatan energi bersih dan energi baru terbarukan, berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca Cakupan 1 sebesar 3.079 ton CO₂ ekuivalen dibandingkan tahun 2024.

Perusahaan juga mencatat peningkatan volume air daur ulang sebesar 94% dan pemanenan air hujan sebesar 227% dibandingkan tahun 2023. Pada periode yang sama, volume limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) berhasil diturunkan sebesar 63%. Ini menunjukkan upaya berkelanjutan JAPFA dalam meningkatkan efisiensi sumber daya dan memperkuat pengelolaan lingkungan.

Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui program JAPFA for Kids. Sejak 2008 hingga 2025, program ini telah menjangkau 201.056 siswa di 1.214 sekolah yang tersebar di 105 kabupaten/kota. Melalui edukasi gizi, perilaku hidup bersih dan sehat, serta pentingnya konsumsi protein hewani, program ini berupaya mendukung peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak Indonesia.

Menghadapi semester II-2026, Leo Handoko mengatakan perusahaan tetap mencermati berbagai tantangan. "Termasuk ketidakpastian global, fluktuasi harga bahan baku, biaya pakan, serta risiko kelebihan pasokan di industri perunggasan," katanya. Ia menekankan bahwa JAPFA akan terus mengedepankan efisiensi, memperkuat ketahanan operasional, dan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan modal dan investasi. "Dengan fundamental bisnis yang kuat dan strategi yang terarah, JAPFA berkomitmen untuk menjaga pertumbuhan yang sehat serta menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," lanjutnya.

Kinerja JAPFA di semester I-2026 menunjukkan pertumbuhan di hampir semua lini keuangan. Penjualan bersih naik, laba usaha meningkat, dan EBITDA tumbuh. Namun, perusahaan juga meningkatkan belanja modal dan memiliki utang berbunga yang cukup besar. Divestasi saham di anak usaha menjadi langkah strategis untuk memperkuat fokus pada bisnis inti dan mengurangi ketergantungan pada pinjaman. Di sisi lain, pencapaian di bidang lingkungan dan program sosial menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga memperhatikan dampak jangka panjang.

labapenjualan bersihefisiensikeberlanjutandivestasi

Komentar

Memuat komentar...