Lalu lintas kapal tanker kembali pulih di Selat Hormuz
Gambar atau konten salah?
Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut bagi kapal-kapal komersial. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia karena menjadi pintu keluar masuk minyak dari kawasan Teluk Persia.
Menurut data dari firma intelijen perdagangan Kpler, setidaknya 20 kapal tanker sudah berhasil melintasi Selat Hormuz sejak proses pembukaan kembali jalur pelayaran dimulai. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan beberapa pekan sebelumnya yang hampir tidak ada aktivitas sama sekali.
Pada hari Kamis, jumlah pelayaran kapal tanker tercatat menjadi yang tertinggi sejak 2 Juni 2026. Meskipun begitu, aktivitas ini masih jauh dari kondisi normal sebelum konflik terjadi. Sebelum perang, lebih dari 100 kapal—termasuk puluhan kapal tanker—melintasi Selat Hormuz setiap harinya. Artinya, pemulihan saat ini masih berjalan bertahap dan belum sepenuhnya kembali ke tingkat normal.
Pada hari yang sama, tercatat ada 25 kapal yang melintasi Selat Hormuz. Jumlah ini tidak hanya mencakup kapal tanker, tetapi juga kapal kargo, kapal kontainer, dan berbagai jenis kapal lainnya. Aktivitas pelayaran mulai meningkat setelah Angkatan Laut AS mengakhiri blokade terhadap Iran. Di sisi lain, Teheran memberikan izin bagi kapal untuk melintasi Selat Hormuz tanpa membayar biaya selama 60 hari.
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Iran sejauh ini mematuhi komitmennya dalam kesepakatan tersebut. Pernyataan ini menjadi sinyal positif bahwa kedua pihak masih berpegang pada perjanjian yang telah disepakati.
Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, menjelaskan bahwa lalu lintas kapal relatif seimbang. "Ada 13 pelayaran dari barat ke timur dan 12 pelayaran dari timur ke barat," katanya. Pola ini menunjukkan bahwa pergerakan kapal tidak hanya terjadi satu arah, melainkan dua arah secara bersamaan.
Kpler juga mencatat bahwa tiga kapal tanker raksasa asal Arab Saudi dan satu kapal tanker dari Uni Emirat Arab melintasi Selat Hormuz pada hari Kamis. Kapal-kapal ini termasuk dalam kategori very large crude carrier (VLCC) yang mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak. Ukuran kapal ini sangat besar dan biasanya digunakan untuk mengirim minyak mentah dalam jumlah besar ke berbagai negara.
Analis Kpler juga melaporkan bahwa kapal tanker raksasa Iran mulai kembali menyalakan transponder. Sebelumnya, selama perang berlangsung, kapal-kapal Iran mematikan perangkat pelacak tersebut. Ini dilakukan mungkin untuk menghindari deteksi atau serangan. Namun, sekarang mereka mulai mengaktifkannya kembali, yang menandakan bahwa situasi sudah mulai aman.
Lima kapal tanker raksasa Iran yang mengangkut minyak terpantau meninggalkan kawasan tersebut pada hari Jumat. "Arus pelayaran dua arah menunjukkan perdagangan minyak mentah Iran secara bertahap kembali mendekati pola operasi normal," tulis analis Kpler dalam laporannya. Ini berarti bahwa Iran mulai kembali mengekspor minyaknya melalui jalur laut.
Dari 18 kapal yang melintas pada hari Kamis, sebagian besar menggunakan jalur pelayaran yang ditetapkan Iran untuk melintasi Selat Hormuz. Hanya satu kapal yang menggunakan jalur yang ditetapkan Organisasi Maritim Internasional (IMO). Sementara itu, rute yang digunakan enam kapal lainnya belum dapat dipastikan.
Kesepakatan antara AS dan Iran juga memunculkan pertanyaan baru mengenai tata kelola Selat Hormuz ke depan. Setelah masa bebas biaya selama 60 hari berakhir, Iran akan menggelar pembicaraan dengan Oman dan negara-negara Teluk. Mereka akan membahas mekanisme pengelolaan selat tersebut. Ketentuan ini membuka kemungkinan adanya penerapan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz di masa mendatang.
Secara keseluruhan, situasi di Selat Hormuz mulai membaik setelah beberapa pekan mengalami ketegangan. Namun, pemulihan ini masih membutuhkan waktu karena aktivitas pelayaran belum sepenuhnya kembali seperti sebelum perang. Ke depannya, tata kelola selat ini akan menjadi topik penting yang harus disepakati oleh semua pihak yang terlibat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
PLNU Bahas Pasokan Batu Bara, Dua PLTU Besar Alami Gangguan
MRT Jakarta Tarif Rp 1 Berlaku 3 Hari Sambut HUT Jakarta
PLN Ungkap Dua Penyebab Utama Listrik Jawa Padam
PLN Minta Maaf, Pemadaman Listrik Jawa Akibat Pasokan Batu Bara
Haiti Resmi Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Indonesia Jadi Produsen Beras Terbesar ke-4 Dunia, Ungguli Thailand dan Vietnam
Berita Terbaru
Lalu lintas kapal tanker kembali pulih di Selat Hormuz
Poltekpel Surabaya Buka Pendaftaran Gelombang 3, Jalur Mandiri Tanpa Ikatan Dinas
Gus Yahya Pastikan Kyai Ma'ruf Amin Hadir di Munas NU Kediri
Ogura Rebut Pole MotoGP Brno, Kalahkan Bagnaia
PLNU Bahas Pasokan Batu Bara, Dua PLTU Besar Alami Gangguan
MRT Jakarta Tarif Rp 1 Berlaku 3 Hari Sambut HUT Jakarta
