Indonesia Jadi Produsen Beras Terbesar ke-4 Dunia, Ungguli Thailand dan Vietnam

Lia N. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Indonesia Jadi Produsen Beras Terbesar ke-4 Dunia, Ungguli Thailand dan Vietnam

Gambar atau konten salah?

Badan Pangan Dunia (FAO) baru saja merilis data terbaru. Indonesia tercatat sebagai negara penghasil beras terbanyak di kawasan Asia Tenggara. Posisi ini juga menempatkan Indonesia di peringkat keempat secara global pada tahun 2025, tepat di bawah India, China, dan Bangladesh.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, menyampaikan kabar ini. Ia menjelaskan bahwa dari empat negara produsen beras terbesar dunia, hanya Indonesia dan China yang diprediksi mengalami peningkatan produksi positif.

"FAO kembali menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan juga menjadi tertinggi keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh," ujar Amran pada 20 Juni 2026.

Data FAO menunjukkan perbandingan pertumbuhan yang menarik. Jika melihat periode 2025-2026 dibandingkan dengan 2024-2025, Indonesia duduk di peringkat pertama di antara produsen beras utama dunia. Kenaikan produksi beras Indonesia diperkirakan mencapai 4 juta ton. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain. India, misalnya, hanya naik 1,7 juta ton. Brazil naik 1,5 juta ton, dan Bangladesh naik 1,1 juta ton.

Menurut Amran, data ini merupakan bentuk pengakuan FAO terhadap sektor pertanian Indonesia, khususnya komoditas beras. Pengakuan itu tidak hanya soal produksi. FAO juga mencatat adanya peningkatan stok beras dan stabilitas harga di tingkat petani.

Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, peningkatan stok beras di Indonesia disebut berperan penting dalam menjaga cadangan beras dunia. Organisasi pangan internasional itu memperkirakan stok beras global akan mencapai 213,8 juta ton pada akhir periode 2026-2027.

Saat ini, stok beras yang ada di Perum Bulog tercatat sekitar 5 juta ton. Amran pun menegaskan bahwa Indonesia tidak akan lagi melakukan impor beras untuk konsumsi. "Stok (CBP) kita per hari ini bulan Juni, berada pada sekitar 5,2 juta ton sampai dengan hari ini dan stok kita aman. Tapi yang terpenting, (sejak) tahun 2025 tidak ada keluar izin impor beras medium (sampai sekarang)," jelasnya.

Lebih lanjut, FAO juga memproyeksikan posisi closing stocks dalam Food Outlook edisi Juni 2026. Stok beras Indonesia diprediksi bisa mencapai 7,5 juta ton pada periode 2025/2026. Angka ini diperkirakan akan tumbuh lagi menjadi 7,8 juta ton pada periode 2026/2027.

Soal inflasi beras, tingkatnya secara bulanan diklaim sudah menurun. Inflasi beras sempat berfluktuasi pada Juli 2025, namun angkanya hanya 1,35%. Data terbaru menunjukkan inflasi beras di Mei 2026 berada di angka 0,38%. "Beras bukan lagi penyumbang inflasi utama. Ini sudah dua tahun berturut-turut," tegas Amran.

FAO juga menilai harga produsen yang stabil di beberapa negara berhasil mendorong keinginan petani untuk memilih menanam padi dibandingkan tanaman lain. Kondisi ini terjadi di Indonesia, Korea Selatan, Pakistan, dan Filipina. Keadaan ini disebut ideal dan berperan dalam mendorong pertumbuhan panen.

Namun di sisi lain, ada beberapa negara yang justru mengalami penurunan produksi beras. Organisasi PBB itu melaporkan negara-negara seperti Kamboja, India, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand mengalami penurunan.

Secara keseluruhan, data ini menempatkan Indonesia dalam posisi yang kuat di kancah produksi beras global. Peningkatan produksi, stok yang aman, dan inflasi yang terkendali menjadi tiga faktor utama yang menopang klaim tersebut. Meski begitu, tantangan tetap ada, terutama dari negara-negara tetangga di Asia yang produksinya justru menurun.

berasproduksistokFAOIndonesiainflasiimpor

Komentar

Memuat komentar...