Mahasiswa PENS Juara Ketiga Kompetisi Roket di AS
Gambar atau konten salah?
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Arif Satria, baru saja menerima kunjungan dari perwakilan mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Mereka datang setelah berhasil membuat roket dan satelit, serta memenangkan kompetisi bergengsi di Amerika Serikat.
Sebelumnya, sebanyak 23 mahasiswa dari berbagai program studi di PENS berhasil meraih juara ketiga dalam ajang International CanSat Competition 2026. Kompetisi ini diselenggarakan oleh American Astronautical Society (AAS). Mereka harus bersaing dengan 36 universitas dari seluruh dunia.
Para mahasiswa tersebut tergabung dalam tim bernama Bamantara EEPISAT. Dalam pertemuan di kantor Kepala BRIN, mereka diwakili oleh Daris Cahyo Adi.
"Beliau adalah talenta unggul yang sudah berhasil menjuarai kompetisi antariksa di Amerika. Karena saudara Daris sudah bisa memproduksi sebuah roket dan satelit, dan kemudian mengalahkan dari peserta sejumlah negara maju," kata Prof Arif dalam unggahan media sosialnya pada Jumat, 10 Juli 2026.
Daris kemudian menceritakan proses pembuatan satelit tersebut. Tim Bamantara EEPISAT melakukan riset selama setahun penuh.
"Itu kita mulai dari tahap-tahap awal juga seperti tahap desain awal dan desain kritikal. Nah, itu kita selalu presentasikan ketika tahap-tahap itu kepada dewan juri," jelas Daris.
Prosesnya tidak berhenti di situ. Ada tahap peluncuran yang menjadi puncak dari semua kerja keras mereka.
"Dan pada tahap akhir itu kita ada tahap peluncuran yang di mana satelit kita diluncurkan dengan menggunakan roket sungguhan yang diadakan di Amerika. Kemarin itu peluncurannya ada di Virginia dan yang berangkat itu adalah tim saya," ungkapnya.
Kepala BRIN kemudian bertanya kepada Daris tentang rencananya di masa depan. Daris menjawab bahwa ia ingin menjadi pebisnis sekaligus peneliti. Ia ingin membuat produk dan terus berinovasi.
"Ke depan saya ingin jadi seperti Pak Adi juga (CEO Pasifik Satelit Nusantara)," kata Daris.
Menanggapi hal itu, Prof Satria memberikan tawaran. "Karena kalau mau jadi peneliti, BRIN terbuka untuk bisa menjadi tempat berkariernya," ujarnya.
Tim Bamantara EEPISAT dibimbing oleh Nobby Bagus Muliawan, S Tr T, MTr T dan Hendhi Hermawan, S ST, MT. Mereka juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, yaitu PT Pasifik Satelit Nusantara, PT AirNav Indonesia, PT AKM Teknologi Nuswantara, dan PT Acuan Teknologi Rekayasa.
Berdasarkan informasi dari laman resmi kampus, tim Bamantara EEPISAT menunjukkan performa misi yang baik saat peluncuran. Mereka berhasil menghasilkan data yang kemudian dipresentasikan dalam sesi Post Flight Review (PFR).
Juara pertama dalam kompetisi tersebut diraih oleh tim dari Thailand. Sementara juara kedua jatuh ke tangan tuan rumah, Amerika Serikat.
Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional, khususnya di bidang teknologi antariksa. Mereka tidak hanya membuat roket dan satelit, tetapi juga berhasil mengalahkan tim dari negara-negara maju. Keberhasilan ini tentu menjadi modal berharga bagi pengembangan riset dan inovasi di tanah air.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Siswa Garuda Transformasi Tembus 330 Penerimaan di 100 Universitas Top
20,5% Lulusan Baru Menyesali Jurusan Kuliah, Ilmu Politik Paling Tinggi
Unpad Buka Program Doktor Fisika, Fokus Riset Berkelanjutan
MPLS 2026 Wajib untuk Anak TK dan PAUD
Kelas Online Bisnis untuk Karyawan, Fokus Promosi Praktis
Pelatihan Brevet Pajak AB: Praktik Langsung Isi SPT
Berita Terbaru
BNI Dorong UMKM Batik di Puspa Nuswantara 2026
Kapolres Tabanan Hadiri Parade Gong Kebyar
3 Bakery Jadul & Kafe Sorotan Kasus: Pilihan Pembaca
Promo Salju Murah di Trans Snow World Surabaya, Cuma Rp98 Ribuan
Prancis ke Semifinal Piala Dunia Usai Kalahkan Maroko 2-0
Wabup Sukoharjo Buka Suara soal OTT Bupati Etik
Tanggul Lumpur Lapindo Bocor, Lumpur Dekati Rel Kereta
