Mahri, 73 Tahun, Jual Kacang Rebus di Jalanan Bandung
Gambar atau konten salah?
Bandung, kota yang selalu berdenyut dengan kendaraan dan orang-orang, juga menyimpan kisah sederhana para penjual yang bergantung pada jalanan. Di antara trotoar yang padat dan aspal panas, seorang pria tua tetap melangkah, memegang dagangan kacang rebus.
Mirin Mahri, berusia 73 tahun, telah menjalani rutinitas yang sama selama tujuh tahun terakhir. Setiap pagi, ia berjalan kaki dari Nyengseret, Tegalega, menuju pasar untuk menjajakan kacang rebus di sudut-sudut kota.
“Tos tujuh taunan ieu ngider jualan kacang (Sudah tujuh tahunan keliling jualan kacang)”, ujar Mahri saat ditemui pada Senin, 30 Maret 2026.
Di pagi hari, langkahnya dimulai dari kawasan Nyengseret, Tegalega. Di sana ia mengambil kacang rebus dari seorang pengepul yang ia sebut sebagai “bos”. Mahri tidak terlibat dalam proses produksi, mulai dari mencuci hingga merebus, semuanya telah disiapkan.
“Nyandak ti bosna. Bosna nu ngarebusna nu ngumbah, urang mah kantun ngical”, ia katakan. Ia hanya mengambil dagangan, sementara bosnya menangani semua persiapan.
Selain mengambil dagangan, Mahri juga tinggal di tempat milik sang bos. Kehidupannya sederhana, berpusat di sana, sebelum kembali menyusuri jalanan setiap hari.
“Ieu ge bumi ngiringan kanu gaduh suukna (Ini juga ikut tinggal sama yang nyediain kacang)”, tambah Mahri.
Rute yang ia tempuh bukanlah jarak singkat. Ia berjalan kaki hingga kawasan Gasibu, sering beristirahat di sekitar Jalan Anggrek, menunggu pembeli datang menghampiri.
Di balik usaha panjang itu, keuntungan yang didapat terbilang sangat tipis. Dari setiap liter kacang yang dijual seharga Rp 20.000, Mahri hanya memperoleh Rp 2.000.
“Ti bosna Rp 18.000 seleter, dijual Rp 20.000. Gaduh Rp 2.000 tina seleter teh (Dari bos Rp 18.000 per liter, dijual Rp 20.000. Dapat Rp 2.000 dari satu liternya)”, ungkap Mahri.
Jika sedang beruntung, ia bisa membawa pulang sekitar Rp 40.000 dalam sehari, itu pun setelah dipotong kebutuhan makan. Tak jarang, hasil jualannya langsung habis untuk sekadar mengisi perut.
“Paling ka urangna mah kana 40-an. Kadang-kadang teu acan emam, pake meser nasi (Paling untuk saya sekitar 40-an ribu. Kadang-kadang kalau belum makan, dipakai beli nasi)”, tambahnya.
Kerinduan pada keluarga di kampung halaman menjadi beban lain yang ia pikul dalam diam. Mahri hanya bisa pulang setiap 20 hari sekali, dengan mengandalkan angkutan Elf dari Terminal Leuwi Panjang. Namun, kenaikan ongkos transportasi membuat perjalanan pulang menjadi semakin berat.
“Memeh lebaran mah Rp 65.000, kamari mah kadieukeun Rp 120.000. Awis (Sebelum lebaran Rp 65.000, kemarin-kemarin ini jadi Rp 120.000. Mahal)”, keluhnya.
Keberadaan Mirin Mahri di jalanan Bandung menunjukkan betapa sederhana dan tetapnya kehidupan seorang penjual kacang rebus. Ia tetap berjalan, tetap menjual, dan tetap menunggu harapan kecil di setiap liter kacang yang ia tawarkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
70 Ribu Siswa Tak Masuk SMA Negeri, Dedi Kerjasama Swasta
Tempat Terburuk Rayap Menyerang di Rumah dan Perabot
Jawa Barat Jamin Biaya Sekolah Swasta bagi PCMB 2026
Satpol PP Bongkar Garasi Viral di Trotoar Jalan Ambon
Garasi di Trotoar Bandung Dihentikan Satpol PP, Pemilik Maaf
Orang Tua Lupa Ajarkan Balig: Anak Kini Wajib Tanggung Jawab
Berita Terbaru
70 Ribu Siswa Tak Masuk SMA Negeri, Dedi Kerjasama Swasta
Parade Akbar Piala Dunia 2026: Catrina Berserakan di Reforma
UI Tinjau Ulang Konten SUMA; Alumni Tuntut Dialog Penting
Harga Bawang Merah dan Cabai Rawit Merah di Palembang Tinggi
Tempat Terburuk Rayap Menyerang di Rumah dan Perabot
Bupati Subandi Sidak Rumah RTLH, Rencana Renovasi Juli
Menulis Basmalah 113 Kali di 1 Muharram: Perlindungan
Golongan Darah O Tak Selalu Menyebabkan Kolesterol Tinggi
Hotel Xi'an Dibanjur 1200 Paket, Staff Lelah & Mengeluh
BYD M6 DM: Varian Classic dan Cross, Harga Mulai Rp298 Juta
