Makam Palsu di Blok Hunjuran Dibongkar, Warga Tegaskan
Gambar atau konten salah?
Di wilayah Blok Hunjuran, Desa Panjangjaya, Kecamatan Mandalwangi, Kabupaten Pandeglang, Banten, sejumlah makam keramat yang diduga palsu akhirnya dibongkar.
Kepala Desa Panjangjaya Saripudin mengamati bahwa kuburan tersebut tidak memiliki asal usul yang jelas. Ia berkata: “Benar ada kuburan, cuman kami nanya orang bersangkutan tidak jelas asal usulnya dan silsilahnya.”
Demonstrasi pembongkaran dilakukan setelah kesepakatan antara tokoh masyarakat dan para ulama. Pihak desa sudah memberi peringatan kepada orang yang diduga membuat makam tersebut, namun peringatan tidak diindahkan sehingga proses pembongkaran dilaksanakan.
“Sampai sekarang orang yang bersangkutan belum ada kejelasan. Mangkanya pada hari ini pembongkaran makam,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ia belum mengetahui secara detail maksud dan tujuan keberadaan makam tersebut. Saripudin khawatir, bila dibiarkan, makam itu dapat menimbulkan musyrik di kalangan masyarakat.
“Kita kan takutnya ke arah yang negatif ke musyrik, soalnya nggak jelas, kalau jelas kami dukung, ini kan nggak jelas takut ke musyrik itu,” jelas Saripudin.
Ketua MUI Desa Panjangjaya, Suhendi, menyebut bahwa hal ini terungkap setelah laporan warga tentang adanya makam baru di lokasi.
Ia menambahkan: “Di sini Blok Hunjuran, Panjangjaya ada yang membuat makom baru, tapi setelah dua hari kemudian saya ngecek betul ada. Saya tanya siapa yang membangun satu orang pun tidak ada yang berani menjelaskan,”.
Menurut Suhendi, pembongkaran ini juga mendapat persetujuan dari Abuya Muhtadi. Ia menegaskan bahwa makam tersebut dibongkar karena khawatir dapat menimbulkan dampak negatif bagi generasi mendatang.
“Nggak jelas, yang kita takutkan, yang paling ngeri ke depannya anak cucu kita mau bagaimana nasibnya, karena ini kaitannya dengan akidah,” kata Suhendi.
Keputusan pembongkaran menggambarkan upaya komunitas setempat untuk menjaga keutuhan akidah dan mencegah penyebaran praktik yang tidak jelas asalnya.
Dengan tindakan ini, warga Pandeglang menunjukkan keseriusan dalam mempertahankan nilai keagamaan serta menghindari potensi penyimpangan yang dapat memengaruhi generasi berikutnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Empat Anakan Harimau Sumatra Lahir di Taman Safari Prigen
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Trans Luxury Hotel Surabaya Buka, Soft Opening Rp999.000
Jatiluwih: Turis Asia Domestik Naik, Barat Turun Pasar Konflik
Pendaki Terjatuh di Gunung Semeru, Evakuasi Sempat Lama
Allo PayLater dan Allo Prime Diskon 20% di Trans Studio
Berita Terbaru
Beasiswa Garuda Gelombang II Terbuka Hingga 25 Juni 2026
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Perpres No.27 2026: Potongan Ojek Online 8% Belum Berlaku
Brasil Bayar 203 Miliar Rupiah ke Ancelotti, Piala 2026
PPh Final 0,5% Permanen, PT Non‑Perorangan Dikeluarkan
