Mata Air Cikendi Bandung: Sejarah dan Tantangan Perlindungan

Nurul H. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 54 dibaca
Bisik.id
Mata Air Cikendi Bandung: Sejarah dan Tantangan Perlindungan

Gambar atau konten salah?

Mata Air Cikendi tersembunyi di balik pepohonan lebat dan akar yang menjuntai panjang di sudut tenang Kota Bandung. Jalan setapak menuju tempat ini terasa seperti lorong waktu, menuntun kaki melintasi sejarah yang masih mengalir. Bangunan tua bertuliskan M.A. Cikendi Th. 1921 berdiri kokoh, meski kusam dan dikepung semak liar. Air tetap mengalir dari pancuran sederhana di dalam bangunan kecil itu; suara gemericiknya terdengar lirih, seolah berbisik tentang masa lalu yang perlahan terlupakan.

Tempat ini bukan sekadar sumber air biasa. Sejak dulu, Mata Air Cikendi telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat sekitar. Dalam catatan sejarah lokal, mata air ini berperan penting sebagai salah satu pemasok air bersih bagi warga Bandung pada masa awal pembangunan kota. Ketika infrastruktur modern belum menjangkau seluruh wilayah, sumber alami seperti Cikendi menjadi penopang utama kebutuhan harian.

Konon, pada masa kolonial, pemerintah Belanda meyakini bahwa sumber air terbaik berasal langsung dari mata air alami, bukan air tanah dalam. Dengan memanfaatkan mata air, mereka berharap air yang diperoleh sudah cukup jernih dan layak konsumsi tanpa pengolahan rumit. Sebuah visi kolonial tentang ketersediaan air bersih yang praktis dan dapat langsung digunakan.

Yuli (40), warga sekitar kawasan tersebut, mengenang bagaimana mata air ini menghidupi warga dari generasi ke generasi. Ia bercerita bahwa sejak zaman nenek moyangnya, tempat ini sudah digunakan untuk mandi, bahkan dikenal dengan Pancuran Tujuh yang menjadi ciri khasnya. Hingga kini, fungsi itu belum benar-benar hilang. Saat aliran air di rumah warga terhenti, Mata Air Cikendi kembali menjadi tujuan utama.

“Kalau di rumah lagi nggak ada air, warga mandinya ke sini. Sekarang juga masih banyak,” ujarnya. Ia sendiri mengaku masih sering datang, bukan karena kekurangan air, melainkan karena alasan sederhana: membawa anaknya bermain. Di tengah keterbatasan ruang terbuka di kota, tempat ini menjadi ruang kecil yang menyimpan kebebasan.

Anak-anak berlarian di sekitar pancuran, bermain air dan mencari kepiting kecil di sana. Permainan sederhana yang sekaligus menjadi kenangan dan perlahan membentuk hubungan emosional dengan tempat tersebut. Aktivitas seperti botram menjadi pemandangan yang sesekali muncul, menghadirkan nuansa kebersamaan di tengah suasana yang semakin sunyi.

Mata Air Cikendi tidak hanya menarik warga sekitar. Ada pula pengunjung dari luar kota yang datang dengan tujuan berbeda. Sebagian dari mereka membawa keyakinan tertentu, meminum airnya atau menjadikannya sebagai air doa. Bagi warga lokal seperti Yuli, hal itu bukan sesuatu yang istimewa.

“Kalau kita mah biasa aja, buat mandi sama nyuci,” katanya, menegaskan bahwa bagi mereka, air ini tetaplah sumber kehidupan yang praktis dan nyata.

Meski masih hidup dalam berbagai fungsi, kondisi Mata Air Cikendi saat ini menyisakan keprihatinan. Perawatan yang tidak konsisten membuat kawasan ini tampak terabaikan. Vegetasi liar tumbuh tak terkendali, akses menuju lokasi tidak tertata, dan bangunan tua yang menyimpan sejarah perlahan kehilangan bentuk aslinya. Menurut Yuli, perhatian biasanya hanya datang sesekali, terutama saat ada kunjungan dari pemerintah.

“Biasanya dirawat kalau ada yang ke sini aja, dari pemerintah,” ujarnya. Dampaknya terasa jelas. Ketika tempat ini dibersihkan, pengunjung berdatangan dan suasana kembali hidup. Namun saat dibiarkan, Mata Air Cikendi kembali sepi, tenggelam dalam sunyi dan rimbunnya alam yang tak terurus.

Di sisi lain, persoalan yang lebih sunyi namun krusial juga mulai dirasakan. Warga menyadari bahwa aliran air tidak lagi sederas dulu; debit airnya kini perlahan menyusut. Hal ini bukan tanpa sebab. Perkembangan kota yang pesat, berkurangnya daerah resapan, serta alih fungsi lahan menjadi faktor yang secara perlahan menggerus keberlanjutan sumber air alami ini.

Di tengah derasnya pembangunan di Bandung, keberadaan Mata Air Cikendi seolah menjadi pengingat bahwa kota ini pernah bertumpu pada alam. Ia bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan bagian dari sistem ekologi yang masih bekerja hingga hari ini. Air yang mengalir dari pancurannya mungkin tidak lagi menjadi sumber utama bagi kota, tetapi bagi sebagian warga, ia tetap menjadi penopang kebutuhan sekaligus ruang hidup yang tak tergantikan.

Keberlanjutan Mata Air Cikendi menuntut perhatian lebih. Tanpa perawatan rutin, akar-akar semak liar dapat merusak struktur bangunan, sedangkan kurangnya akses mempersulit pengunjung. Penurunan debit air juga menandakan bahwa sumber daya alam ini menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Masyarakat, pemerintah, dan pengunjung harus bersinergi dalam menjaga dan memelihara tempat ini, agar tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari‑hari dan warisan budaya Bandung.

Mata Air CikendiBandungair bersihsejarah kolonialpemeliharaankeberlanjutanwarga

Komentar

Memuat komentar...