Measles pada Dewasa: Risiko Berat & Pentingnya Booster
Gambar atau konten salah?
Campak biasanya dipikirkan sebagai penyakit anak-anak, namun dewasa juga rentan terkena, terutama bila sistem kekebalan tubuh menurun. Bahkan, infeksi campak pada orang dewasa dapat menimbulkan gejala berat dan memerlukan masa perawatan lebih lama.
Menurut Ketua Satgas Vaksinasi PAPDI Dr. Sukamto Koesnoe, SpPD K-A.I FINASIM, banyak pekerja kantoran dan profesional muda yang mengabaikan waktu istirahat demi produktivitas. “Kita banyak menemukan orang dewasa muda, eksekutif-eksekutif muda, yang suka lembur,” ujarnya di konferensi pers campak di Jakarta Pusat, 31 Maret 2026. “Habis lembur, ke kafe-kafe. Tidurnya kurang. Itu sel limfositnya turun rendah,” tambahnya.
Limfosit adalah salah satu jenis sel darah putih yang melindungi tubuh dari infeksi virus, bakteri, racun, dan sel kanker. Ketika sel ini menurun, tubuh menjadi lebih mudah terinfeksi, termasuk campak, meski interaksi sosial masih padat.
Berbagai orang dewasa percaya diri sudah kebal karena pernah divaksin saat kecil. Namun, Dr. Sukamto menegaskan bahwa perlindungan vaksin tidak selalu bertahan seumur hidup. “Ada warning immunity. Antibodi itu menurun setelah 15-20 tahun pasca-vaksinasi,” jelasnya.
Penurunan kekebalan ini membuat tubuh perlahan kembali rapuh terhadap paparan virus di lingkungan sekitar. Selain itu, prosedur pengobatan tertentu pada usia dewasa juga dapat menurunkan daya tahan tubuh. “Ada keadaan-keadaan tertentu, seperti misalnya seseorang yang kemudian harus menjalani kempoterapi. Itu daya tahan tubuhnya akan turun,” tambah Dr. Sukamto.
Ketika campak menembus pertahanan tubuh dewasa, dampaknya tidak sekadar demam dan ruam. Dr. Sukamto menjelaskan bahwa kondisi fisik dewasa sering merespons infeksi ini dengan tingkat keparahan yang lebih ekstrem. “Pada orang dewasa, kalau tidak terkena campak, biasanya lebih berat dan perlu perawatan, serta komplikasinya biasanya lebih banyak,” jelasnya.
Komplikasi serius yang dapat muncul meliputi pneumonia, ensefalitis atau radang otak, serta immune amnesia yang menghapus memori imun dan membuat tubuh rentan terhadap infeksi lain. “Ada komplikasi serius campak. Ada pneumonia, ada ensefalitis atau radang otak. Ada immune amnesia, jadi menghapus memori imun sehingga menjadi rentan infeksi lain,” tambahnya.
Melihat tingginya ancaman dan besarnya risiko komplikasi, langkah preventif berupa intervensi medis tambahan menjadi sangat penting. Dr. Sukamto menegaskan bahwa pemberian dosis penguat atau booster bukan sekadar pelengkap, tetapi kebutuhan mendesak bagi orang dewasa. Suntikan booster diyakini dapat menghidupkan kembali memori seluler tubuh untuk melawan patogen dengan cepat.
“Jadi, vaksin campak pada dewasa bukan hanya perlu, tetapi sangat perlu. Dikatakan bahwa dua dosis itu akan meningkatkan efektivitas dibandingkan dengan satu dosis,” pungkasnya.
Dengan fakta bahwa antibodi menurun setelah 15-20 tahun pasca‑vaksinasi, serta faktor-faktor seperti kurang tidur, lembur, dan pengobatan intensif, banyak orang dewasa yang menganggap diri aman namun sebenarnya rentan. Menambahkan booster dapat memperkuat sistem kekebalan dan mengurangi risiko komplikasi serius, sehingga langkah ini menjadi penting bagi kesehatan masyarakat dewasa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BGN Refokus Dana, Hilangkan MBG di 76 Sekolah Indonesia
Tiga Penis Ditemukan di Cadaver 78 Tahun di Inggris
Brawijaya Buka Pusat Sel Punca, Terapi Tanpa Operasi
Daveigh Chase, Bintang Lilo & The Ring, Meninggal Usia 35
Coba Tantangan Visual: Temukan Perbedaan di Gambar Ini
IDI Tuntut Hukuman Dr Ratna 4,5 Tahun, Kriminalisasi Dokter
Berita Terbaru
Konflik Pasangan di Pelabuhan Nusa Penida Berakhir Damai
Timnas Inggris Menjuarai Kroasia 4-2, Bellingham Penentu
Portugal vs Kongo: Ronaldo 41 Tahun Gagal Menembak
Apel Kamtibmas Lubuklinggau 18 Juni: Komitmen Keamanan
Wali Kota Medan Pastikan Rp10 Miliar Tender Satreskrim
Kebaya Viral di Puro Mangkunegaran: Kontroversi Izin Kirab
Alissa Wahid Diusulkan Jadi Wakil Ketua PBNU 2026‑2031
BGN Refokus Dana, Hilangkan MBG di 76 Sekolah Indonesia
Bakcang: Tradisi Makanan Peh Cun Beradaptasi di Indonesia