Mentan Tanggapi Usulan Beras Pecah Industri
Gambar atau konten salah?
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan tanggapan mengenai usulan pemanfaatan beras pecah untuk keperluan industri. Usulan ini sebelumnya disampaikan oleh Menteri Perindustrian M Sarmuji. Gagasan tersebut muncul setelah Kementerian Perindustrian menggelar pertemuan dengan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia atau GAPMMI.
Menurut Amran, masalah ini akan dibahas lebih lanjut dalam rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan. "Itu nanti kita harus bahas bersama di tingkat rakortas," ujarnya di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, pada Senin, 19 Oktober 2026.
Amran menegaskan bahwa Indonesia saat ini memiliki cadangan beras yang melimpah. Jumlahnya mencapai 4,5 juta ton. Ia mengatakan pemanfaatan beras tersebut menjadi beras pecah untuk industri akan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada.
"Jadi, sekarang kan ada beras pecah. Kita punya stok banyak. Stok kita masih 4,5 juta. Stok kita banyak (dan) sesuai kebutuhan," jelas Amran.
Sebelumnya, M Sarmuji sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian mengenai hal ini. Ia menyampaikannya setelah menerima audiensi dari Ketua Umum GAPMMI, Adhi S Lukman. Dalam pertemuan itu, Menteri Perindustrian didampingi oleh Plt. Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika.
Sarmuji mengungkapkan isu-isu yang dibahas dalam pertemuan tersebut. GAPMMI menyampaikan sejumlah persoalan terkait industri makanan dan minuman olahan. Salah satunya adalah soal kebutuhan bahan baku. Kemenperin memastikan akan memberikan dukungan yang diperlukan untuk menciptakan industri nasional yang lebih berdaya saing.
"Kalau industri makanan minuman itu, isu daya saing sebenarnya nggak terlalu karena mereka cukup kuat. Bahkan makanan minuman kita pertumbuhannya juga cukup baik, ekspor ke banyak negara, banyak lah ke mancanegara. Hanya saja tentu ada hal-hal jadi aspirasi mereka, soal bahan baku. Contoh, bahan baku beras pecah itu kalau kita impor dari luar negeri harganya sekitar Rp 5.700 atau Rp 6.000 maksimal, tapi kalau produksi dalam negeri harganya dipatok sekitar Rp 11.000 tentu ada selisih cukup besar," kata Sarmuji.
Persoalan utama di sini adalah perbedaan harga yang cukup mencolok. Beras pecah impor jauh lebih murah dibandingkan produksi dalam negeri. Selisihnya mencapai sekitar Rp 5.000 per kilogram. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku industri makanan dan minuman. Mereka harus memilih antara menggunakan bahan baku lokal yang lebih mahal atau beralih ke impor yang lebih murah. Pemerintah kini tengah mencari jalan tengah melalui rapat koordinasi terbatas yang akan digelar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IHSG Sentuh Level Terendah 10 Tahun, OJK: Mulai Rebound
IHSG Anjlok ke Bawah 5.000, Airlangga Bilang Itu Biasa
BEI Keluarkan 18% Bobot Saham dari IHSG
Danantara Yakin IHSG Pulih, Incar Beli Saham BUMN di Tengah Anjlok
BEI Wajibkan Status Afiliasi di Daftar Pemegang Saham 1%
BEI Bicara dengan MSCI, Hasilnya Dirahasiakan
