Mikroplastik Terdeteksi di Kulit Manusia Gresik, USG

Mira T. · 3 min baca · 2 hari lalu · 18 dibaca
Bisik.id
Mikroplastik Terdeteksi di Kulit Manusia Gresik, USG

Gambar atau konten salah?

Di Kabupaten Gresik, ancaman mikroplastik kini menjadi topik hangat. Kelompok Studi Mahasiswa Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Universitas Sunan Gresik (USG) baru saja menyelesaikan uji coba yang mengungkapkan bahwa seluruh partisipan yang diperiksa terpapar partikel mikroplastik di kulit mereka.

Uji ini dipresentasikan pada acara peluncuran gerakan Environmental Sovereignty Goals (ESG) di Lobby Gedung Kampus B USG. Mahasiswa melakukan pemeriksaan terhadap 100 sampel kulit wajah dan tangan yang diambil dari mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum. Hasilnya menakjubkan: 100 persen sampel menunjukkan keberadaan partikel mikroplastik dengan karakteristik beragam.

Temuan ini menegaskan bahwa polusi mikroplastik tidak lagi terbatas pada kawasan industri atau tempat pembuangan sampah. Sekarang, partikel tersebut hadir dalam aktivitas sehari‑hari masyarakat, menambah beban kesehatan dan lingkungan.

“Baku mutu mikroplastik harus segera ditetapkan sebagai landasan regulasi dalam melawan ancaman ini. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat sangat krusial,” jelas Jofanny Ahmad Arianto, anggota kelompok studi dari prodi K3 USG, Senin, 15 Juni 2026.

Jofanny menegaskan bahwa penemuan ini menjadi alarm serius bagi masyarakat dan pemerintah. Ia menambahkan bahwa mikroplastik kini merupakan ancaman nyata bagi lingkungan dan kesehatan.

Selain uji kulit, kelompok ini juga melakukan penelitian tentang hujan mikroplastik di beberapa wilayah Kabupaten Gresik. “Ini cukup bahaya mengingat kami pernah melakukan penelitian terkait respon hujan mikroplastik di Jakarta dari pernyataan BRIN,” tambahnya.

Penelitian hujan dilakukan di empat titik: Manyar, Bunder, Gresik Kota Baru (GKB), dan Wringinanom. Hasilnya menunjukkan konsentrasi tertinggi di Kecamatan Manyar dengan 25 partikel mikroplastik per liter air hujan, diikuti Bunder dengan 21 partikel per liter. “Jenis partikel yang kami temukan terdiri dari fiber, fragmen, dan filamen. Sebagian besar berasal dari degradasi sampah plastik dan abrasi ban kendaraan yang kemudian tersebar di lingkungan,” kata Dafa.

Dalam pemeriksaan kulit, mayoritas partikel yang ditemukan berbentuk serat atau fiber. Partikel tersebut diduga berasal dari bahan tekstil sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik yang banyak dipakai dalam pakaian sehari‑hari. “Kepadatan partikel bahkan cenderung lebih tinggi pada individu yang mengenakan pakaian berbahan sintetis. Temuan itu menunjukkan bahwa sumber paparan mikroplastik dapat berasal dari aktivitas yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat,” tambhanya.

Salah satu peserta pemeriksaan, Deny Maulana Roziqin, mengaku tidak menyangka mikroplastik dapat ditemukan langsung pada tubuh manusia. Ia menilai informasi tersebut membuka wawasan baru mengenai dampak sampah plastik yang selama ini hanya dikaitkan dengan pencemaran lingkungan. “Sejauh ini saya belum mengetahui apa bahaya plastik, yang saya tahu hanya menjadi penyebab banjir. Tapi setelah mengetahui paparannya menempel pada kulit manusia, masuk ke dalam tubuh, bahkan sampai pada air ketuban, saya merasa memang Indonesia harus cepat‑cepat membuat baku mutu mikroplastik,” tuturnya.

Temuan mahasiswa K3 USG juga menarik perhatian kalangan akademisi dari disiplin ilmu lain. Mahasiswi Program Studi Psikologi, Yuli Ariyanti Wulandari, melihat peluang penelitian lebih lanjut terkait dampak mikroplastik terhadap aspek perilaku dan psikologis manusia. “Pemaparan ini benar-benar memicu ketertarikan akademis saya. Sebagai bentuk respons nyata, saya merasa sangat terpanggil membawa isu ini ke dalam penelitian lebih lanjut di prodi saya, guna menggali sejauh mana polutan tak kasat mata ini mendistorsi kapasitas psikologis manusia modern,” kata mahasiswi tersebut.

Kepala Program Studi K3 USG, Achmad Sakhowi Al Awwarij, menegaskan pentingnya pendampingan akademik terhadap gerakan literasi lingkungan yang dilakukan mahasiswa. Menurutnya, isu mikroplastik membutuhkan pendekatan ilmiah yang kuat agar dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan publik. “Kegiatan seperti ini harus didukung dan didampingi secara penuh oleh jajaran dosen pengampu,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penguatan kapasitas riset mahasiswa menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Dengan demikian, hasil penelitian yang dilakukan dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pemerintah. “Dalam kegiatan seperti ini, mahasiswa jangan hanya sebagai penyebar informasi, tetapi juga mampu membangun argumentasi yang ditopang metode dan analisis,” pungkasnya.

Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti betapa mikroplastik telah meresap ke dalam kehidupan sehari‑hari. Dari kulit manusia hingga air hujan, partikel kecil ini menandai kebutuhan mendesak akan regulasi baku mutu mikroplastik. Upaya kolaboratif antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini, sekaligus membuka ruang bagi penelitian lanjutan yang dapat memandu kebijakan dan perilaku publik ke arah yang lebih berkelanjutan.

MikroplastikGresikUniversitas Sunan GresikKulit manusiaHujan mikroplastikRegulasi baku mutuKesehatan lingkungan

Komentar

Memuat komentar...