Militer AS Jatuhkan Bom Khusus ke Situs Rudal Iran di Hormuz
Gambar atau konten salah?
Militer Amerika Serikat baru-baru ini meluncurkan serangan besar-besaran dengan menjatuhkan bom seberat sekitar 2.200 kilogram ke target-target rudal bawah tanah Iran yang terletak di dekat Selat Hormuz. Serangan ini diumumkan oleh Komando Pusat AS, CENTCOM, yang berlangsung di saat ketegangan antara AS dan Iran mempengaruhi jalur pelayaran penting di Teluk Persia, yang merupakan rute utama untuk pengiriman minyak mentah.
Dalam sebuah pernyataan, CENTCOM menyebutkan bahwa beberapa jam sebelumnya, pasukan AS berhasil mengerahkan amunisi penembus berat ke lokasi rudal Iran. "Amunisi seberat 5.000 pon telah digunakan untuk menyerang situs-situs rudal yang diperkuat di sepanjang garis pantai Iran," ungkap mereka di X. Ditegaskan bahwa rudal-rudal jelajah anti-kapal Iran di lokasi ini menimbulkan risiko bagi pelayaran internasional di selat tersebut.
Salah satu pejabat AS mengkonfirmasi kepada CNN bahwa amunisi yang dijatuhkan adalah GBU-72 Advanced 5K Penetrator, yang pertama kali digunakan oleh pesawat AS pada tahun 2021. Menurut siaran pers dari Angkatan Udara AS, bom ini dirancang khusus untuk menyerang target yang terkubur dalam dan diperkuat di bawah tanah, serta dapat digunakan oleh berbagai jenis pesawat tempur.
Pihak Angkatan Udara juga menyatakan bahwa sejauh ini hanya dua jenis pesawat yang diizinkan untuk menggunakan GBU-72/B, yaitu pesawat pembom B-1B Lancer dan jet tempur F-15E Strike Eagle.
Selat Hormuz saat ini ditutup oleh blokade yang dilakukan oleh Iran, yang menggunakan ranjau laut, drone, dan kapal. Penutupan ini mengganggu 27% dari pasokan energi maritim global dan menyebabkan harga minyak melonjak di atas USD 100 per barel. Iran menyandera jalur ini sebagai balasan terhadap serangan gabungan AS dan Israel.
Presiden Donald Trump secara terbuka mengkritik negara-negara Eropa, termasuk Prancis dan Inggris, karena tidak membantu membuka kembali jalur air yang sangat penting tersebut. "AS akan terus berupaya melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz," jelas Laksamana Brad Cooper, komandan CENTCOM.
Serangan ini menunjukkan eskalasi ketegangan di kawasan, yang dapat berdampak besar pada stabilitas pasar energi global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai