Minggu Palma Tritunggal: Gamelan & Paku Pipit Gantikan Daun
Gambar atau konten salah?
Minggu Palma di Gereja Tritunggal Mahakudus di Tuka, Dalung, Badung, Bali, menampilkan suasana yang berbeda dari tradisi biasa. Umat Katolik di gereja ini menggabungkan ritual liturgi dengan unsur budaya Bali, menciptakan perayaan yang unik.
Suara gamelan baleganjur khas Bali mengiringi arak-arakan dalam prosesi Minggu Palma. Para penabuh berpakaian adat Bali mengantar pastor dan petugas misa saat memasuki gereja. Prosesi ini menyerupai rekonstruksi peristiwa ketika Yesus tiba di Kota Yerusalem.
Biasanya, perayaan Minggu Palma dilakukan dengan melambaikan daun palma ke gereja untuk diberkati oleh pastor melalui sebuah perarakan. Namun, umat Katolik di Gereja Tritunggal Mahakudus tidak menggunakan daun palma sebagai simbol kemenangan Yesus Kristus. Mereka menggantinya dengan paku pipit yang terbuat dari daun kelapa. Paku pipit biasanya digunakan sebagai dekorasi dalam berbagai hajatan adat di Bali.
“Kami menggunakan gamelan dalam perarakan. Kedua, kami menggunakan paku pipit itu sebagai pengganti daun palma,” ujar Yoseph I Wayan Edi Yudyana selaku Ketua Bidang Pembinaan Iman Umat Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka, Minggu (29 Maret 2026).
Iring-iringan gamelan baleganjur hadir dalam dua misa Minggu Palma. Pada misa pertama pukul 06.00 Wita, perarakan dimulai dari SDK Thomas Aquino yang berjarak kurang lebih 500 meter. Sementara pada misa kedua pukul 09.00 Wita, perarakan dimulai dari Gua Maria yang berada di kompleks gereja.
“Hari-hari raya tertentu seperti ini, Minggu Palma. Nanti hari-hari raya besar, ulang tahun gereja kami, kemudian pesta pelindung itu kami gunakan biasanya. Atau ada momen-momen tertentu, mungkin kunjungan Bapak Uskup atau pun apa, itu kami gunakan biasanya,” imbuh Yoseph.
Yoseph menuturkan umat di gereja tersebut juga diimbau untuk mengenakan pakaian adat Bali dalam setiap perayaan hari besar. Beribadah dengan busana adat telah menjadi hal yang lazim di gereja tersebut. Tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun.
“Itulah inkulturasi yang kami lakukan dalam kehidupan,” kata Yoseph.
Penggunaan gamelan dan paku pipit dalam perayaan Minggu Palma, Yoseph berujar, merupakan salah satu cara umat gereja melestarikan kebudayaan Bali. Menurutnya, beragama tidak membuat kebiasaan atau adat menjadi luntur.
“Kami merasa sebagai orang Bali, itu juga budaya kami. Sehingga kami juga melestarikan itu dan kami pakai gamelan untuk mengiringi peribadatan. Kami juga memandang bahwa paku pipit itu termasuk budaya milik masyarakat Bali, sehingga kami gunakanlah itu sebagai lambang dari daun palma,” imbuhnya.
Perayaan ini menunjukkan bagaimana komunitas Katolik di Bali menyesuaikan tradisi gereja dengan warisan budaya lokal, menjaga identitas dan kebersamaan melalui ritual yang kaya akan makna.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
