MSCI Ancam Bursa RI ke Level Terendah
Gambar atau konten salah?
Jakarta — Ancaman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham Indonesia semakin serius. Beberapa bulan lalu, MSCI mengisyaratkan akan menurunkan status bursa efek Indonesia menjadi frontier market. Kini, ultimatum itu berubah menjadi lebih keras. MSCI menuntut agar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diturunkan ke level paling bawah, yaitu standalone market. Jika itu terjadi, posisi Indonesia akan setara dengan Zimbabwe, Ukraina, Palestina, Jamaika, hingga Bosnia dan Herzegovina.
Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama pemerintah sebenarnya sudah bergerak. Mereka melakukan sejumlah perbaikan. Batas minimum saham publik atau free float dinaikkan menjadi 15 persen. Informasi kepemilikan saham pun dibuka seluas-luasnya. Tapi semua itu belum cukup. MSCI belum puas.
Ada beberapa alasan di balik tekanan mendadak ini. Kapitalisasi pasar saham Indonesia anjlok 55 persen selama sembilan bulan pertama tahun 2026. Bobot saham Indonesia di MSCI juga menyusut drastis. Dari 1,16 persen menjadi hanya 0,43 persen. Jumlah konstituen saham Indonesia turun dari 18 menjadi sembilan hingga akhir September 2026. Angka-angka ini tertuang dalam proposal konsultasi MSCI yang dikutip dari pemberitaan pada Senin, 19 Oktober 2026.
Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah, menyayangkan langkah MSCI. Ia berharap lembaga pemeringkat saham itu bertindak bijak. Menurutnya, MSCI seharusnya ikut memperbaiki tata kelola bursa saham Indonesia, bukan sekadar memberi ancaman. "Sudah pantaskah BEI diperlakukan seperti itu? Apakah tindakan MSCI semata-mata untuk tujuan mulia, membenahi tata kelola bursa saham Indonesia? Harapan saya, MSCI sepenuhnya berada pada posisi seperti itu. Namun, apa pun itu, koreksi dari MSCI tetap kita terima sebagai evaluasi yang serius," kata Said Abdullah dalam keterangan resmi pada Minggu, 18 Oktober 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, juga bereaksi cepat. Ia menekankan perlunya percepatan penyesuaian langkah-langkah perbaikan menjadi regulasi. "Tentu kalau kita lihat terkait dengan bidang implementasi daripada regulasi terhadap tindakan yang dilakukan oleh pasar modal, ini kan mereka merasa periodenya agak panjang. Nah, tentu ini yang harus dijelaskan mengapa prosesnya membutuhkan waktu," ucap Airlangga pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Di tengah proses percepatan perbaikan, muncul pertanyaan. Apakah investor yang panik dan menarik dana secara ugal-ugalan akan memperkuat dampak domino terhadap pasar saham Indonesia? Apa yang paling perlu diperhatikan oleh legislatif? Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memberikan ulasannya.
Beralih ke berita lain. Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah. Peristiwa ini sudah berlangsung beberapa hari. Tim gabungan mencatat ada 11 titik api per Sabtu, 17 Oktober 2026. Luasan lahan yang terbakar mencapai 100 hektare. Meski titik api mulai berkurang, luasan lahan yang terbakar masih dalam kajian. Jurnalis dari daerah melaporkan perkembangan situasi di lokasi.
Kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di banyak wilayah Indonesia. Sumatera, Kalimantan, dan Papua menjadi daerah yang terdampak. Tak hanya lingkungan yang terancam. Kesehatan masyarakat juga terpengaruh akibat paparan asap dalam jangka panjang. Partikel halus dalam asap bisa masuk ke saluran pernapasan hingga paru-paru. Risiko gangguan kesehatan meningkat, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit pernapasan.
Paparan asap yang berulang tidak selalu langsung menimbulkan gejala seperti batuk atau sesak napas. Prof. Agus Dwi Susanto, dokter spesialis paru-paru, menjelaskan seberapa besar bahaya asap karhutla bagi paru-paru. Ia juga membahas gejala yang perlu diwaspadai dan sejauh mana kesehatan paru-paru bisa pulih setelah kabut asap menghilang.
Ancaman MSCI dan kebakaran hutan menjadi dua isu besar yang saling beririsan. Keduanya membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat. Perbaikan tata kelola bursa saham harus dipercepat. Penanganan kebakaran hutan dan dampak kesehatannya juga tidak boleh ditunda.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IHSG Sentuh Level Terendah 10 Tahun, OJK: Mulai Rebound
IHSG Anjlok ke Bawah 5.000, Airlangga Bilang Itu Biasa
BEI Keluarkan 18% Bobot Saham dari IHSG
Danantara Yakin IHSG Pulih, Incar Beli Saham BUMN di Tengah Anjlok
BEI Wajibkan Status Afiliasi di Daftar Pemegang Saham 1%
BEI Bicara dengan MSCI, Hasilnya Dirahasiakan
