OJK Gaet Banyuwangi Batik Festival dan Bulan Inklusi Keuangan
Gambar atau konten salah?
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan dukungannya terhadap industri kreatif batik di Banyuwangi. Caranya dengan menggabungkan dua acara besar: Banyuwangi Batik Festival (BBF) dan Bulan Inklusi Keuangan (BIK). Lewat kolaborasi ini, mereka berharap ekosistem usaha batik bisa makin kuat. Akses ke layanan keuangan pun diperluas. Peluang pasar baru bagi perajin dan pelaku UMKM lokal juga terbuka lebar.
Aris Budiman, Kepala OJK Jember, bilang bahwa menggabungkan BBF dan BIK adalah langkah strategis. Tujuannya untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan di masyarakat. Khususnya bagi mereka yang bergerak di industri kreatif. Menurut Aris, industri batik tidak bisa berkembang sendiri. Butuh dukungan dari banyak pihak. Mulai dari perajin, pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, sampai masyarakat yang jadi konsumen produk lokal.
"Proses pembuatan batik butuh kain, pewarna, dan bahan pendukung lainnya. Sama halnya dengan upaya meningkatkan literasi keuangan. Butuh keterlibatan banyak pihak. Mulai dari OJK, Bank Indonesia, lembaga jasa keuangan, hingga pemerintah daerah," kata Aris dalam pernyataannya pada Sabtu, 07 November 2026.
Ia berharap kolaborasi antara BIK dan Banyuwangi Batik Festival bisa terus berlanjut. Yang penting, dampaknya harus terasa bagi masyarakat Banyuwangi. Terutama para perajin batik.
Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, punya pandangan sendiri. Menurutnya, BBF sudah berkembang menjadi ruang untuk menjaga warisan budaya. Sekaligus memperkuat ekosistem usaha batik di daerah. Banyak pihak terlibat. Perajin, pedagang batik, desainer fesyen lokal, hingga pelaku UMKM. Semuanya jadi bagian penting dari festival tahunan ini.
"Di satu sisi kita merayakan warisan budaya. Di sisi lain kita memperkuat ekonomi para perajin dan pelaku UMKM yang menghidupkan budaya itu," jelas Mujiono.
Mujiono berharap BBF terus jadi ruang bagi perajin untuk berkarya dan berinovasi. Baik dalam pengembangan motif, desain, maupun strategi pemasaran. Termasuk memanfaatkan layanan keuangan digital. Tujuannya untuk memperluas jangkauan pasar batik Banyuwangi.
Motif Khas Batik Banyuwangi
Tahun ini, BBF digelar lagi di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan. Acaranya berlangsung dari 6 sampai 8 November 2026. Ini adalah penyelenggaraan ke-14. Pertama kali digelar pada 2013. Motif yang diangkat tahun ini adalah Sabuk Mangir Latar Ukel.
Sejak awal, BBF bukan sekadar ajang peragaan busana. Festival ini jadi sarana memperkenalkan kekayaan motif batik kuno Banyuwangi. Juga mendorong kreativitas perajin. Serta menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap produk budaya lokal.
Setiap tahun, BBF mengangkat motif batik dengan karakter dan filosofi sendiri. Beberapa motif khas yang pernah diperkenalkan antara lain Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Kopi Pecah, Blarak Sempal, Sekar Jagad Blambangan, Cacing Sembrug, hingga Wader Kesit.
Tahun ini, motif Sabuk Mangir Latar Ukel jadi representasi nilai-nilai kehidupan warisan leluhur Banyuwangi. Tujuannya memperkaya khazanah batik lokal agar makin dikenal masyarakat luas.
Rangkaian kegiatan BBF dan BIK tahun ini diisi berbagai acara. Ada peragaan busana batik. Ada Financial Expo dan Bazar UMKM. Ada pemilihan Duta Lembaga Jasa Keuangan (LJK). Ada talk show literasi keuangan. Ada kompetisi kreasi budaya dan desain batik. Ada kompetisi tandan Cavendish berkualitas. Juga ada BIK Run.
Selain jadi ruang ekspresi budaya, festival ini membuka kesempatan bagi pelaku usaha. Mereka bisa memperkenalkan produk. Juga berinteraksi langsung dengan masyarakat dan wisatawan.
Salah satu pelaku usaha batik yang ikut serta, Eca, mengatakan motif Sabuk Mangir Latar Ukel jadi peluang. Peluang untuk memperkenalkan kekayaan batik Banyuwangi yang lebih beragam.
"Setiap tahun selalu ada motif baru yang diangkat. Harapannya, kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap batik semakin tumbuh. Batik lokal juga makin dikenal," katanya.
Festival ini menunjukkan bagaimana warisan budaya dan sektor keuangan bisa berjalan beriringan. Perajin batik tidak hanya mendapat ruang untuk berkarya. Mereka juga mendapat akses ke layanan keuangan yang bisa membantu usaha mereka berkembang. Kolaborasi semacam ini menjadi contoh bagaimana sebuah tradisi bisa tetap hidup dan relevan di tengah ekonomi modern.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Harga BBM Nonsubsidi Malaysia Turun Mulai 5 November
Sumur JUM-101 PHM Hasilkan Gas 3,3 MMscfd, Lampaui Target 110 Persen
OJK: Sektor Keuangan RI Stabil di Tengah Tekanan Global
IHSG Menguat 2,25%, Asing Jual Bersih Rp65 Miliar
IHSG Pagi Ini Merah, Anjlok 73 Poin ke Level 4.957
IHSG Melemah Tipis, Investor Asing Catat Beli Bersih Rp 328 M
