Pasar Cipadu Tangerang Sepi, Pedagang Terpuruk, Harga Naik

Eko P. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 67 dibaca
Bisik.id
Pasar Cipadu Tangerang Sepi, Pedagang Terpuruk, Harga Naik

Gambar atau konten salah?

Pasar Cipadu di Kota Tangerang dulu dikenal sebagai pusat perdagangan kain dan pakaian yang ramai. Setiap pagi, para pedagang menyiapkan rak‑rak kain dengan warna dan motif yang beragam, sementara pelanggan datang berbondong-bondong. Namun, sejak pandemi COVID‑19 dan konflik di Timur Tengah, suasana pasar ini berubah drastis.

Konflik tersebut memicu kenaikan harga bahan baku tekstil. Harga kain yang dulu terjangkau kini melonjak, membuat para pedagang merasa napas mereka terengah-engah. Pasar Cipadu kini terasa sepi, seolah‑olah semua pengunjung telah pergi.

Seorang pedagang kain, Muklis, sudah berdagang sejak awal tahun 2000. Ia mengungkapkan, “Pokoknya asalnya dari COVID kemarin, sudah mulai kacau selanjutnya pasar. Tambah lagi masalah orang‑orang jual lagi di online, orang sambil rebahan juga bisa beli, makin sepi yang datang kan,” saat ditemui pada Kamis, 15 April 2026. Ia menilai pasar sudah sangat sepi dibandingkan masa kejayaannya sebelum pandemi.

Muklis menekankan bahwa masalah utama bukan harga, melainkan ekonomi. Ia berkata, “Masalah utamanya kan bukan di harga, tapi di ekonomi kita. Kan ini saya jual bahan kebanyakan untuk seragam pabrik. Kalau dulu orang pabrik dapat seragam setahun dua kali, sekarang paling tiga tahun sekali, efisiensi. Percuma harga nggak naik kalau nggak ada yang beli.”

Ia juga melihat kondisi pasar secara visual. “Di pasar pun sama, kelihatan kan (kondisi pasar) ini bagaimana. Dulu orang ramai lalu lalang, sekarang sepi. Siapa yang beli kalau sepi begini, paling cuma andalkan langganan pesan lewat WA,” ujarnya sambil menunjuk ke pasar yang kini hening.

Menurut Muklis, omzet dagangannya turun lebih dari 70% dibandingkan sebelum pandemi. Ia hanya dapat mengandalkan pelanggan setia yang memesan lewat WhatsApp, bukan pengunjung yang datang langsung.

“Kalau masih bisa bertahan, ya bertahan. Orang kan ini cuma cukup buat bertahan doang. Ini saya toko kemarin ada lima, ini sudah dikurangi jadi dua. Dikurangin semua, di sini sudah banyak toko‑toko yang ditinggal,” kata Muklis, tanpa memberi kepastian tentang masa depan usahanya.

Penjaga toko lain, Ade, juga merasakan kondisi serupa. Ia mengeluh, “Sekarang memang sepi, jauh lebih ramai yang dulu daripada sekarang. Dulu bisa sehari 20 rol, sekarang jarang, sepi sekarang, satu rol saja susah. Keteng lah paling masih ada satu dua yang beli.”

Ade mengingatkan perbandingan pendapatan. “Dulu bisa Rp 40 juta sehari, sekarang paling sejutaan sehari,” jawabnya. Ia tidak yakin apakah toko yang ia jaga masih dapat bertahan, namun berharap pasar akan kembali membaik setidaknya cukup untuk menghindari gulung tikar.

Pasar Cipadu kini menjadi contoh bagaimana pandemi dan faktor global dapat mengubah lanskap perdagangan lokal. Para pedagang harus menyesuaikan strategi, mengandalkan pelanggan tetap, dan menunggu pasar pulih. Situasi ini menyoroti betapa rentan bisnis kecil terhadap perubahan ekonomi global dan pergeseran perilaku konsumen.

Pasar Cipadupandemi COVID-19konflik Timur Tengahharga kainekonomipelanggan tetappenjualan online

Komentar

Memuat komentar...