Pasar Loak Gembong: 30 Tahun Penjual Sepatu Usia 62 Tetap
Gambar atau konten salah?
Sai, seorang pedagang sepatu berusia 62 tahun, telah menjadi saksi hidup perjalanan panjang Pasar Loak Gembong di Surabaya. Sejak 01 Januari 1990, ia mengandalkan aktivitas jual beli barang bekas di kawasan itu.
Ia mengingat masa kejayaan pasar ketika berada di depan Bioskop Istana, yang kini telah berubah menjadi kafe. “Saya sudah lama di sini. Dulu jualannya di pinggir embong, tepat di depan Bioskop Istana yang sekarang sudah jadi kafe itu,” ujarnya saat ditemui di lapaknya.
Perubahan besar terjadi ketika pasar relokasi ke kios permanen sekitar delapan tahun lalu. Meskipun penataan lebih tertata, Sai mengakui jumlah pembeli tidak seramai dulu. “Bedanya kalau di dalam, orang datang itu memang sudah niat mau cari sepatu. Tapi kalau di luar, orang yang cuma lewat bisa tiba-tiba berhenti karena melihat barang yang cocok. Ya memang lebih ramai di luar dulu,” jelasnya.
Dalam hal pendapatan, Sai tidak pernah menargetkan angka tertentu. Ia menjalani usaha dengan prinsip sederhana dan menyerahkan rezeki kepada Tuhan. “Rezeki itu relatif, tiap orang beda cara berpikirnya. Saya jalani saja kondisi seperti ini. Yang di atas sudah mengatur semua, jadi nggak bisa dipatok hari ini harus ramai atau tidak,” terangnya.
Di tengah kebijakan larangan pakaian bekas impor, Sai memastikan barang dagangannya berasal dari sumber lokal. Ia menjelaskan bahwa banyak barang yang dijual merupakan hasil pemakaian pribadi yang kemudian dijual kembali. “Loh, kalau ini lokal. Ada orang beli di Sogo atau TP (Tunjungan Plaza), lalu bosan dan dijual ke sini. Itu yang kami beli. Selama layak pakai dan bisa untung, ya saya ambil,” jelas Sai.
Selain barang bekas, Sai juga menyediakan produk baru atau non-original untuk pembeli dengan anggaran terbatas. Beragam alas kaki dijual dengan harga terjangkau, mulai dari puluhan ribu rupiah dengan kondisi masih layak pakai.
Meskipun dikenal sebagai penjual sepatu, Sai tidak membatasi jenis dagangannya. Ia menjual berbagai barang yang dinilai masih memiliki nilai jual, menambah variasi bagi pelanggan yang datang.
Pasar Loak Gembong tetap menjadi tempat berkumpulnya para pencari barang unik. Dengan kombinasi barang bekas, produk lokal, dan harga bersahabat, Sai terus beradaptasi dengan perubahan pasar sambil menjaga tradisi jual beli yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
