Pencari Kerja Tuli Hadapi Diskriminasi Berlapis

Dwi H. · 3 min baca · 4 jam lalu · 37 dibaca
Bisik.id
Pencari Kerja Tuli Hadapi Diskriminasi Berlapis

Gambar atau konten salah?

Mencari pekerjaan bukanlah perkara mudah bagi siapa pun. Tapi bagi penyandang disabilitas, tantangannya berlapis-lapis. Informasi yang tidak jelas, persyaratan administrasi yang kaku, hingga penolakan yang tidak terlihat langsung — semua harus mereka hadapi.

Dua pencari kerja tuli, Raka dan Faiz, mengalami sendiri pahitnya situasi ini. Raka berasal dari Pamulang, Tangerang Selatan. Faiz dari Bekasi. Keduanya datang ke sebuah acara bursa kerja di SMESCO pagi ini. Harapannya satu: menemukan perusahaan yang benar-benar mau mempekerjakan mereka secara inklusif.

Bagi Raka, ini bukan pengalaman pertama. Ia sudah enam kali mendatangi job fair. Lamaran sudah dikirim ke berbagai perusahaan. Tapi hasilnya? Nihil. Diskriminasi datang dalam berbagai bentuk. Ada perusahaan yang secara terang-terangan mengatakan tidak menerima penyandang disabilitas. Ada juga yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar setelah sebelumnya menyatakan terbuka.

"Saya sudah pernah datang ke job fair enam kali. Banyak perusahaan yang saya lamar, tapi tidak ada yang memberikan informasi kejelasan. Bahkan ada yang di awal bilang menerima lowongan administrasi, tapi begitu diinfokan kembali, ternyata tidak bisa menerima disabilitas," kata Raka melalui seorang penerjemah saat ditemui di lokasi pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Meski kerap menemui tembok, Raka tidak menyerah. Di bursa kerja kali ini, ia tidak hanya menyasar stan-stan yang secara khusus membuka lowongan untuk disabilitas. Ia juga memberanikan diri mendatangi perusahaan umum. Siapa tahu ada celah.

"Kami mencoba bertanya ke perusahaan umum yang belum secara eksplisit menerima disabilitas, mana tahu ada kesempatan," ujarnya.

Faiz menceritakan kisah yang tidak jauh berbeda. Ia sudah tiga kali mengikuti job fair. Lamaran sudah masuk ke delapan perusahaan. Namun hingga hari ini, belum ada satu pun panggilan yang datang.

Ketidakpastian seperti ini, menurut Faiz, sangat membebani pikiran. Waktu terbuang. Padahal, para pencari kerja tuli ini memiliki keterampilan teknis yang nyata dan siap pakai. Faiz, misalnya, menguasai bidang administrasi, desain grafis, hingga pembuatan konten seperti videografi dan penyuntingan video. Raka punya keahlian di pengoperasian perangkat kantor — Microsoft Office, Excel, Word, PowerPoint — plus kemampuan dasar di bidang IT.

Faiz menegaskan, kondisi tuli sama sekali tidak mengurangi produktivitas atau kualitas kerja mereka. Ia datang ke bursa kerja dengan percaya diri, membawa keterampilan yang tidak kalah dari pencari kerja lainnya.

"Semua itu tergantung kemampuan. Harapannya HRD bisa membuktikan dan melihat dulu kemampuan kami. Jika memang punya keahlian, berikanlah kesempatan. Bekerja itu harus dilihat dari kompetensi yang nyata," tegas Faiz.

Selain seleksi yang tidak transparan, ada masalah lain. Syarat pendaftaran sering kali menjadi penghalang. Batasan usia. Spesifikasi jurusan pendidikan yang kaku. Semua itu mempersempit ruang gerak pencari kerja disabilitas.

Karena itu, mereka mendesak dunia usaha untuk benar-benar menjalankan amanat undang-undang. Aturan sudah jelas: ada kuota yang harus dialokasikan untuk tenaga kerja disabilitas. Tapi implementasinya masih jauh dari harapan.

"Harapan kami, seluruh perusahaan bisa lebih inklusif dan mau memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas. Mari pacu keterbukaan ini sesuai aturan undang-undang yang menetapkan kuota bagi pekerja disabilitas. Jangan asal menolak sebelum melihat potensi kami," pungkas Faiz.

Kisah Raka dan Faiz menggambarkan realitas yang masih dihadapi banyak penyandang disabilitas di Indonesia. Mereka punya keterampilan, punya semangat, dan siap bekerja. Yang kurang hanyalah kesempatan. Dan kesempatan itu, pada akhirnya, ada di tangan perusahaan-perusahaan yang mau membuka pintu selebar-lebarnya.

pekerjaandisabilitasdiskriminasibursa kerjainklusikesempatanketerampilan

Komentar

Memuat komentar...