Airlangga: Penilaian MSCI Soal Teknis, Bukan Fundamental Ekonomi

Tika M. · 2 min baca · 4 jam lalu · 41 dibaca
Bisik.id
Airlangga: Penilaian MSCI Soal Teknis, Bukan Fundamental Ekonomi

Gambar atau konten salah?

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, angkat bicara soal penilaian dari lembaga pemeringkat global, Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menurutnya, sentimen yang muncul dari MSCI sama sekali tidak ada hubungannya dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Airlangga menjelaskan bahwa reformasi pasar modal di Indonesia sudah diterima dan akan segera dijalankan. Dari sisi fundamental, perusahaan-perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga sudah menunjukkan perbaikan. Baik dari segi keuntungan maupun pembagian dividen, semuanya membaik.

Sekarang, kata Airlangga, tinggal bagaimana implementasi aturan terkait free float 15 persen. Aturan ini mengatur jumlah saham yang beredar bebas di pasar. "Tinggal bagaimana implementasi dari free float yang 15% itu kan masih ada beberapa perusahaan yang belum free float, dan kemudian mana yang masuk ke dalam apa namanya, saham yang masuk dalam weighting daripada MSCI," ujarnya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Ia menekankan lagi, sentimen dari MSCI bukanlah cerminan dari fundamental ekonomi atau fundamental emiten di BEI. Masalah yang sedang disorot bukan soal fundamental perusahaan. Ini lebih ke soal teknis, yaitu aturan pasar. "Tetapi bagi Indonesia, yang penting ini bukan kaitannya dengan fundamental ekonomi, bukan juga dengan fundamental emiten, tetapi lebih kepada governance daripada trading market khusus untuk saham yang free float," jelas Airlangga.

Pemerintah mengakui ada potensi risiko atau efek domino dari situasi ini. Tapi, risiko itu bisa dimitigasi. Alasannya, MSCI bukan satu-satunya lembaga pemeringkat global di pasar keuangan internasional. "Risiko tentu bisa dimitigasi karena ini kan kalau misalnya MSCI tidak merekomendasikan saham kita untuk dibeli oleh investor Amerika atau dari Eropa atau dari Asia, tetapi kan ada S&P, ada yang lain yang bisa merekomendasikan dan di masing-masing capital market itu ada," beber Airlangga.

Ia pun meminta masyarakat tidak perlu khawatir. Apalagi, dalam beberapa hari terakhir, pergerakan pasar modal terpantau menguat. "Jadi, kita tidak perlu khawatir, apalagi dalam tiga hari terakhir kan pasar modal berada dalam jalur hijau, dan kedua, yang invest dalam jalur hijau ini return-nya jelas dari dividen yang dibayar oleh masing-masing emiten," imbuhnya.

Intinya, penilaian MSCI ini lebih ke masalah teknis aturan free float, bukan soal kesehatan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Pemerintah juga punya opsi lain karena masih ada lembaga pemeringkat lain seperti S&P yang bisa jadi acuan investor global. Pasar modal Indonesia sendiri dalam tren positif beberapa hari terakhir.

MSCIAirlangga Hartartofree floatpasar modalfundamental ekonomiMSCIS&Pdividen

Komentar

Memuat komentar...