Pertamina Genjot Dua Strategi Demi Ketahanan Energi

Ningsih R. · 5 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Pertamina Genjot Dua Strategi Demi Ketahanan Energi

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Indonesia terus mendorong terwujudnya ketahanan energi nasional. Tujuannya jelas: memastikan kebutuhan energi masyarakat terpenuhi secara berkelanjutan. Energi bukan sekadar komoditas. Ia adalah kebutuhan dasar yang menopang aktivitas ekonomi, industri, dan kehidupan sehari-hari.

Presiden RI Prabowo Subianto menekankan bahwa energi merupakan salah satu sektor paling strategis bagi keberlangsungan sebuah negara, setara dengan pangan. Menurutnya, Indonesia harus mampu mandiri agar tetap kuat dan berdaulat di tengah dinamika global.

"Negara yang sebesar kita kalau masih mau merdeka, kalau masih mau survive bertahan hidup, mau tidak mau kita harus mandiri dan energi adalah salah satu bidang yang sangat menentukan," ujar Prabowo dikutip dari situs presiden.go.id, pada Senin, 01 Juni 2026.

Sejalan dengan arahan tersebut, PT Pertamina (Persero) terus mendukung upaya pemerintah. Perusahaan energi pelat merah ini menyadari bahwa energi adalah hal mendasar dalam kegiatan masyarakat.

"Menjawab kebutuhan dan tantangan dimaksud, Pertamina menjalankan Dual Growth Strategy yang berfokus pada dua pilar utama, yakni Maximizing Legacy Business dan Building Low Carbon Business," kata Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza.

Strategi ini dirancang untuk memastikan kecukupan kebutuhan energi saat ini sekaligus mempersiapkan transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan di masa depan. Dua strategi dijalankan secara bersamaan untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Memperkuat Bisnis Inti Migas

Pada pilar Maximizing Legacy Business, Pertamina berfokus memperkuat bisnis inti migas untuk memenuhi kebutuhan nasional. Perusahaan terus meningkatkan produksi hulu migas. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat produksi minyak dan gas bumi domestik sebagai fondasi utama ketahanan energi nasional.

Oki menjelaskan bahwa sektor hulu memegang peranan penting. Oleh karena itu, Pertamina terus mengoptimalkan aset-aset produksinya.

"Setiap peningkatan produksi dari lapangan migas merupakan kontribusi nyata Pertamina dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Melalui pengelolaan aset yang semakin andal, efisien, dan berkelanjutan, Pertamina terus mendukung pencapaian target produksi migas nasional," ucap Oki.

Hingga akhir semester I 2026, produksi migas PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream Pertamina mencapai 935 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD). Angka ini terdiri dari produksi minyak sebesar 459 ribu barel per hari (MBOPD) dan produksi gas sebesar 2.756 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Kinerja tersebut didukung oleh berbagai program pengembangan dan pemeliharaan sumur yang berjalan sesuai rencana. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, PHE telah menyelesaikan pengeboran 278 sumur eksploitasi. Selain itu, mereka melaksanakan 601 kegiatan workover dan 13.870 kegiatan well service. Semua ini dilakukan untuk menjaga keandalan aset dan mempertahankan tingkat produksi.

Di sisi eksplorasi, PHE terus memperkuat upaya pencarian sumber daya migas baru. Hingga Juni 2026, perusahaan telah menyelesaikan pengeboran 9 sumur eksplorasi. Mereka juga melakukan survei seismik 2D sepanjang 189 kilometer dan survei seismik 3D seluas 2.848 kilometer persegi. Aktivitas tersebut menghasilkan penemuan sumber daya kontingen (2C) sebesar 108 juta barel setara minyak (MMBOE) serta penambahan cadangan terbukti (P1) sebesar 24,9 MMBOE.

Tidak hanya memaksimalkan produksi migas dalam negeri, Pertamina juga melaksanakan program Bring Barrel Home. Program ini bertujuan mengirimkan minyak mentah dari aset hulu luar negeri ke Indonesia. Langkah ini diambil untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor.

Selanjutnya, Pertamina terus melakukan pengembangan kilang. Tujuannya meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk energi. Penguatan sektor pengolahan dinilai penting agar Indonesia memiliki kemampuan lebih besar dalam memenuhi kebutuhan energi dalam negeri sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya nasional.

"Selain memastikan kehandalan kilang, Pertamina juga melakukan peningkatan kompleksitas kilang. Salah satunya melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Proyek yang akan meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan menjadi setara euro 5," kata Oki.

Saat ini, Pertamina melalui PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengoperasikan enam kilang. Kilang-kilang tersebut adalah Kilang Dumai di Riau, Kilang Plaju Sumatera Selatan, Kilang Balongan di Jawa Barat, Kilang Cilacap di Jawa Tengah, Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur, dan Kilang Kasim di Papua Barat Daya.

Keenam kilang yang beroperasi saat ini mampu mengolah minyak mentah hingga 1,1 juta barel per hari. Mereka menghasilkan berbagai jenis produk seperti BBM, LPG, Avtur, dan Petrokimia.

Di sektor gas, Pertamina menjalankan bisnis gas terintegrasi untuk memperkuat rantai pasok dan memastikan kebutuhan gas nasional terpenuhi. Upaya ini dilakukan dengan pengembangan ruas pipa transmisi gas baru, jaringan gas rumah tangga baru, dan proyek-proyek fasilitas gas lainnya di seluruh Indonesia. Dengan begitu, pasokan energi bagi industri, pembangkit listrik, dan masyarakat dapat terjaga secara berkelanjutan.

Sementara pada sektor hilir, Pertamina melakukan transformasi bisnis BBM dan retail melalui digitalisasi layanan MyPertamina serta pengembangan bisnis non-retail. Melalui MyPertamina, masyarakat dapat menikmati kemudahan pembayaran digital, penawaran berbagai promo, dan program loyalitas. Pertamina juga melakukan sejumlah inisiatif melalui pengembangan Bright Store hingga pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di sejumlah SPBU.

Pengembangan Bisnis Rendah Karbon

Pertamina juga membangun masa depan energi yang lebih ramah lingkungan dengan mengembangkan bisnis rendah karbon. Pengembangan ini dilakukan melalui produk-produk nabati sebagai BBM.

"Pertamina berkomitmen mendukung program pemerintah dalam hal pengoptimalan sumber daya alam nabati untuk mendukung ketahanan energi. Sejak awal Juli, Pemerintah menetapkan B50 mandatori. Dan Pertamina menjadi salah satu bagian penting dalam menjalankan kebijakan pemerintah tersebut," jelas Oki.

Pertamina juga mendorong peningkatan produk biofuel sebagai bagian dari upaya diversifikasi energi. Pengembangan ini mencakup produk biofuel dari proyek Green Refinery serta berbagai program pencampuran bahan bakar berbasis energi terbarukan. Di tahun 2022, Pertamina meluncurkan produk Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dengan merek dagang Pertamina Renewable Diesel (Pertamina RD). Di tahun 2025, Pertamina juga meluncurkan inovasi Pertamina Sustainable Aviation Fuel (PertaminaSAF). Bahan bakar pesawat ini berasal dari limbah minyak goreng bekas atau yang biasa disebut jelantah (Used Cooking Oil - UCO). SAF mampu memangkas emisi karbon hingga 84 persen dibandingkan avtur fosil.

"Teknologi SAF ini sepenuhnya dikembangkan oleh insinyur dalam negeri, membuktikan kapasitas Indonesia sebagai regional champion energi hijau," kata Oki.

Tidak hanya itu, Pertamina juga mengembangkan berbagai bisnis rendah karbon lainnya. Mulai dari program dekarbonisasi, teknologi Carbon Capture Utilization and Storage/Carbon Capture and Storage (CCUS/CCS), gas to power, pengembangan hidrogen, solusi berbasis alam (nature-based solutions), hingga perdagangan karbon.

Selain itu, Pertamina melakukan ekspansi kapasitas geothermal (panas bumi). Upaya ini dilakukan melalui pengembangan wilayah kerja yang telah ada maupun pembukaan area baru dengan pemanfaatan teknologi terkini.

Dual Growth Strategy, Cara Menjaga Ketahanan Energi Nasional

Strategi yang dilakukan Pertamina menunjukkan bahwa pengembangan bisnis berbasis fosil dengan bisnis rendah karbon merupakan langkah strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Seluruh implementasi strategi ini dijalankan oleh semua subholding Pertamina sesuai karakteristik bisnis masing-masing. Melalui langkah tersebut, Pertamina tidak hanya berupaya menjaga keandalan pasokan energi saat ini, tetapi juga memastikan sumber energi yang lebih berkelanjutan.

Bagi masyarakat, penguatan bisnis inti Pertamina berkontribusi pada terjaganya ketersediaan energi untuk kebutuhan rumah tangga, transportasi, dan industri. Di sisi lain, pengembangan energi rendah karbon turut mendorong terciptanya sistem energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Pada akhirnya, semua ini mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Pertamina menjalankan dua strategi besar secara paralel. Satu untuk menjaga pasokan energi saat ini melalui penguatan bisnis migas. Satunya lagi untuk menyiapkan masa depan melalui energi rendah karbon. Keduanya dianggap sebagai langkah yang saling melengkapi dalam menjaga ketahanan energi nasional.

ketahanan energiPertaminamigasenergi rendah karbonDual Growth Strategybiofuelproduksi migas

Komentar

Memuat komentar...