Tiga Model Kepemimpinan Ekonomi: Konduktor, Panglima, Komando
Gambar atau konten salah?
Selama ini, kita terbiasa mengelompokkan sistem ekonomi ke dalam kategori seperti kapitalisme, sosialisme, ekonomi pasar, ekonomi campuran, atau ekonomi komando. Pengelompokan ini memang membantu menjelaskan bagaimana negara dan pasar saling berhubungan. Tapi dalam praktik pemerintahan modern, keberhasilan ekonomi seringkali lebih ditentukan oleh gaya kepemimpinan ekonomi yang dijalankan, bukan semata-mata sistem yang dipilih.
Negara-negara dengan sistem ekonomi yang hampir sama bisa menghasilkan kinerja yang sangat berbeda. Semua karena cara mereka dipimpin. Ada pemimpin yang bertindak seperti dirigen orkestra. Ada yang memimpin layaknya panglima yang menyatukan seluruh sumber daya nasional. Ada juga yang lebih mengandalkan perintah langsung dalam setiap pengambilan keputusan. Karena itu, saya mengajukan tiga tipologi kepemimpinan ekonomi: Ekonomi Konduktor, Ekonomi Panglima, dan Ekonomi Komando. Ketiganya bukan ideologi ekonomi, melainkan model kepemimpinan dalam mengelola pembangunan nasional.
Ekonomi Konduktor
Seorang konduktor tidak memainkan semua alat musik. Ia bahkan tidak menghasilkan satu nada pun. Tapi tanpa konduktor, setiap pemain akan memainkan musiknya masing-masing. Hasilnya bukan simfoni, melainkan kebisingan. Begitu pula dalam ekonomi nasional.
Dalam model Ekonomi Konduktor, pemerintah tidak berusaha menjadi pemain utama di setiap sektor. Peran utamanya adalah mengorkestrasi agar rumah tangga, dunia usaha, koperasi, BUMN, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga keuangan, hingga investor asing bergerak ke arah yang sama. Arah yang sudah ditentukan dalam "partitur" strategi ekonomi nasional.
Pemimpin ekonomi dalam model ini bertindak sebagai arsitek ekosistem. Ia paham bagaimana ekonomi nasional dan para pelakunya terhubung dengan ekonomi daerah. Ia paham bagaimana ekonomi daerah terhubung dengan rantai pasok regional. Ia juga paham bagaimana seluruh sistem itu harus diposisikan dalam kompetisi global. Instrumen utamanya bukan cuma anggaran negara, tapi juga koordinasi, regulasi, insentif, diplomasi ekonomi, dan penciptaan kepastian.
Negara tidak mendominasi pasar. Tapi negara juga tidak membiarkan pasar bekerja tanpa arah. Negara memastikan setiap pelaku mendapat ruang berkembang sesuai keunggulannya masing-masing. Target akhirnya bukan memperbesar peran pemerintah, melainkan memperbesar kapasitas seluruh pelaku ekonomi nasional.
Sejarah mencatat sejumlah pemimpin berhasil memainkan peran ini. Bill Clinton menggabungkan disiplin fiskal dengan inovasi teknologi. Hasilnya, sektor swasta Amerika Serikat tumbuh pesat di era 1990-an. Tony Blair memadukan reformasi pasar dengan investasi besar di pendidikan dan layanan publik. Angela Merkel dikenal sebagai pemimpin yang menjaga keseimbangan antara industri, serikat pekerja, dunia usaha, dan pemerintah negara bagian. Daya saing manufaktur Jerman tetap terjaga.
Masing-masing punya konteks politik yang berbeda. Tapi mereka menunjukkan karakter yang sama: negara hadir sebagai pengarah dan pengorkestra, bukan sebagai pelaku tunggal. Soeharto pernah berhasil menerapkan model ini pada tahun 1980-an. Tapi kemudian terkendala di tahun 1990-an karena perubahan geopolitik dan geoekonomi dunia, serta tumbuhnya ekonomi kroni di dalam negeri yang menggerogoti gagasan besar ekonomi orkestrasi.
Ekonomi Panglima
Jika konduktor memimpin orkestra, maka panglima memimpin kekuatan nasional. Dalam tradisi militer, seorang panglima tidak hanya menguasai satuan tempur tertentu. Ia mengintegrasikan berbagai matra, mengelola logistik, intelijen, industri pertahanan, komunikasi, hingga dukungan sipil untuk mencapai satu tujuan strategis. Metafora ini menarik untuk diterapkan dalam ekonomi.
Ekonomi Panglima memandang bahwa seluruh instrumen negara—kebijakan fiskal, moneter, industri, pendidikan, teknologi, pangan, energi, diplomasi, hingga keamanan—harus dipadukan untuk membangun kekuatan ekonomi nasional. Orientasinya bukan hanya pertumbuhan ekonomi tahunan, melainkan ketahanan ekonomi jangka panjang.
Pemerintah tidak sekadar mengatur pasar. Pemerintah juga membangun kapasitas nasional agar mampu bersaing dalam jangka panjang. Pembangunan infrastruktur, pengembangan industri strategis, investasi sumber daya manusia, stabilitas politik, dan konsistensi kebijakan menjadi bagian dari satu strategi besar.
Soeharto adalah salah satu contoh menarik. Selama lebih dari tiga dekade, pembangunan pertanian, swasembada pangan, industrialisasi, pembangunan jalan, pelabuhan, pendidikan dasar melalui SD Inpres, Puskesmas, Posyandu, hingga stabilitas makro diarahkan sebagai bagian dari pembangunan nasional yang terpadu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menunjukkan karakter serupa, meskipun dengan pendekatan yang lebih demokratis. Stabilitas fiskal, pengelolaan utang, penguatan kelembagaan, pembangunan infrastruktur, dan perluasan program perlindungan sosial dijalankan secara bersamaan.
Di Asia, Lee Kuan Yew berhasil mengintegrasikan pendidikan, birokrasi, investasi asing, pelabuhan, perumahan, dan tata kota menjadi satu strategi pembangunan Singapura. Deng Xiaoping melakukan hal yang sama melalui reformasi bertahap yang menghubungkan industrialisasi, investasi, perdagangan internasional, dan modernisasi teknologi. Dalam semua contoh ini, ekonomi dipandang sebagai proyek kebangsaan yang harus dikelola secara terpadu.
Ekonomi Komando
Model ketiga adalah Ekonomi Komando. Dalam model ini, kebijakan yang dikembangkan pemimpin adalah model "perintah" atau "komando", bahkan dalam kondisi tertentu hanya dengan "komando" semata. Model ini mengedepankan kemenangan pertempuran, bukan kemenangan perang. Kemenangan perang dianggap sebagai penjumlahan dari kemenangan pertempuran-pertempuran. Model ini biasanya dijalankan oleh mereka dengan semangat dan pola pikir Komandan pasukan—bukan Panglima. Bisa jadi pangkat Sersan (Regu), Letnan (Pleton), Kapten (Kompi), Letkol (Batalyon), atau di atasnya, Kolonel atau Brigjen (Brigade). Untuk Divisi dan di atasnya disetarakan dengan Panglima. Korps pasukan khusus, meskipun dipimpin Mayjen atau Letjen, pola pikir dan kerjanya setara dengan Komandan, dengan model pure commanding.
Dalam model ini, keputusan ekonomi terutama bergerak melalui instruksi pemimpin. Kecepatan menjadi keunggulan utamanya. Pemimpin tidak menunggu seluruh proses koordinasi selesai. Ia menetapkan tujuan, memberi perintah, lalu menggerakkan birokrasi untuk melaksanakannya. Pendekatan ini sering muncul ketika negara menghadapi krisis, perang, keadaan darurat, atau ketika pemimpin memiliki mandat politik yang sangat kuat.
Keunggulannya adalah kemampuan mengambil keputusan secara cepat. Tapi ada konsekuensi yang perlu diwaspadai. Semakin banyak keputusan yang bergantung pada komando langsung, semakin besar risiko berkurangnya ruang pembelajaran institusi, kreativitas birokrasi, dan kemampuan masyarakat mengembangkan solusi secara mandiri.
Komando sangat efektif untuk memenangkan satu pertempuran. Tapi pembangunan ekonomi adalah proses panjang yang membutuhkan ribuan keputusan kecil yang diambil setiap hari oleh jutaan pelaku ekonomi. Karena itu, model komando memerlukan kapasitas kelembagaan yang sangat tinggi agar tidak berubah menjadi sentralisasi yang berlebihan.
Dalam sejarah Indonesia, Presiden Soekarno pernah menggunakan pendekatan yang lebih bercorak komando, terutama ketika dinamika politik nasional dan internasional menuntut mobilisasi sumber daya secara cepat. Contohnya adalah ketika Soekarno memutuskan menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia. Jokowi relatif dalam konteks model ekonomi ini dengan pembangunan infrastruktur yang masif, tol laut, hingga IKN. Dalam konteks pemerintahan saat ini, sejumlah kebijakan utama Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kecenderungan menggunakan pendekatan yang lebih langsung dan berorientasi pada mobilisasi nasional. Misalnya Danantara, MBG, KDMP, Patriot Bond, kawasan Pusat Investasi, hingga penurunan transfer ke daerah. Program-program strategis dipimpin secara intensif dari tingkat pusat dengan penekanan pada percepatan implementasi. Apakah pendekatan ini akan berkembang menjadi model kepemimpinan ekonomi yang sepenuhnya bercorak komando atau bertransformasi menuju model yang lebih orkestratif, masih merupakan proses yang akan diuji oleh dinamika pemerintahan beberapa tahun ke depan.
Tidak Ada Model yang Sempurna
Ketiga model ini tidak perlu dipertentangkan. Justru, pemimpin yang berhasil biasanya mampu menggunakan ketiganya secara proporsional. Dalam keadaan normal, negara membutuhkan kemampuan sebagai konduktor untuk mengorkestrasi seluruh pelaku ekonomi. Dalam pembangunan jangka panjang, negara memerlukan visi seorang panglima yang mampu menyatukan seluruh instrumen nasional menuju tujuan strategis. Tapi ketika menghadapi pandemi, krisis keuangan, konflik geopolitik, atau bencana besar, kemampuan mengambil keputusan secara komando menjadi sangat penting. Masalah muncul ketika satu model digunakan untuk seluruh situasi.
Negara yang terlalu lama menggunakan komando berisiko kehilangan kreativitas masyarakat dan dunia usaha. Sebaliknya, negara yang hanya mengandalkan orkestrasi tanpa kepemimpinan strategis bisa kehilangan arah pembangunan nasional. Sementara negara yang hanya memiliki visi besar tanpa kemampuan mengeksekusi akan menghasilkan banyak rencana, tapi sedikit hasil.
Indonesia Memerlukan Sintesis
Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan tiga dekade lalu. Transformasi digital, kecerdasan artifisial, perubahan iklim, fragmentasi geopolitik, dan persaingan rantai pasok global menuntut model kepemimpinan ekonomi yang adaptif.
Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah memilih salah satu model secara mutlak. Indonesia memerlukan pemimpin yang mampu menjadi konduktor ketika membangun ekosistem ekonomi, menjadi panglima ketika menyusun strategi pembangunan nasional, dan berani menggunakan komando ketika menghadapi keadaan luar biasa yang memerlukan keputusan cepat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa kuat negara mengendalikan ekonomi ataupun seberapa besar pasar dibiarkan bekerja sendiri. Ukuran sesungguhnya adalah apakah seluruh energi bangsa dapat diselaraskan menuju tujuan yang sama: menciptakan pertumbuhan yang produktif, pemerataan yang adil, serta daya saing nasional yang semakin kuat.
Seorang konduktor menghasilkan harmoni. Seorang panglima menghasilkan kekuatan. Seorang komandan menghasilkan kecepatan. Kepemimpinan ekonomi yang matang adalah kepemimpinan yang mengetahui kapan harus memainkan ketiga peran tersebut secara tepat.
Oleh: Riant Nugroho
Ketua Umum Masyarakat Kebijakan Publik Indonesia
Tulisan ini menawarkan kerangka berpikir untuk memahami kepemimpinan ekonomi, bukan sebagai ideologi kaku, melainkan sebagai perangkat yang bisa disesuaikan dengan situasi. Ketiga model—konduktor, panglima, dan komando—masing-masing punya kekuatan dan kelemahan. Pemimpin yang efektif adalah yang mampu memilih dan menggabungkan model yang tepat sesuai konteks dan tantangan yang dihadapi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait