Peternak Ayam di Kota Batu Terjebak Harga Turun, Pakan Naik

Bambang W. · 2 min baca · 1 hari lalu · 15 dibaca
Bisik.id
Peternak Ayam di Kota Batu Terjebak Harga Turun, Pakan Naik

Gambar atau konten salah?

Peternak ayam petelur di Kota Batu kini terjebak dua tekanan sekaligus. Harga jual telur turun drastis, sementara biaya pakan melonjak akibat fluktuasi nilai tukar dolar AS.

Menurut Ludi Tanarto, peternak di kota ini merasakan penurunan tajam harga telur. “Harga telur di tingkat peternak merosot tajam hingga menyentuh angka Rp 21 ribu per kilogram,” ujarnya.

Di sisi lain, biaya pakan mengalami kenaikan yang signifikan. "Mulai gejolak (kurs dolar naik) itu sampai hari ini sudah Rp 850 per kilogram kenaikan harga untuk konsentrat saja, belum jagungnya. Kalau jagung itu naiknya sekitar Rp 1.000-an," kata Ludi. Kenaikan konsentrat ini terjadi secara bertahap, empat kali berturut-turut. Kenaikan terakhir tercatat pada 8 Juni 2026 sebesar Rp 250 per kilogram. Sebagian besar komponen konsentrat—sekitar 80-90%—adalah komoditas impor, sehingga harga dipengaruhi langsung oleh nilai tukar dolar.

Akibatnya, biaya operasional atau Harga Pokok Produksi (HPP) untuk menghasilkan satu kilogram telur kini berada di kisaran Rp 22.500-Rp 23.000. Dengan harga jual Rp 21.000, peternak menanggung kerugian per kilogram sebesar Rp 1.500. Ludi memberi contoh: kandangnya berisi 9.000 ekor ayam petelur, menghasilkan sekitar 500 kilo telur per hari. "Kalau biaya produksi kita anggap Rp 22.500 dan hari ini harga jual Rp 21.000, berarti per kilonya rugi Rp 1.500. Kalau produksi kita 500 kilo, berarti sehari kan rugi Rp 750.000," ungkap Ludi.

Ludi menilai bahwa penyebab utama kerugian ini adalah penurunan daya beli masyarakat. “Daya beli melemah, namun biaya produksi melambung, peternak berada di posisi terjepit,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa dua faktor—harga telur turun dan pakan naik—dipicu oleh penurunan daya beli dan lonjakan nilai tukar dolar.

Menanggapi situasi ini, Ludi mengaku telah menerima himbauan dari Kementerian Pertanian agar peternak melakukan afkir dini ayam petelur berusia 90 minggu ke atas. Langkah ini diharapkan dapat menekan populasi nasional dan menggenjot kembali harga telur. Namun, mayoritas ayam di kandangnya masih berusia produktif, berkisar 50-60 minggu, sehingga langkah tersebut belum dapat diterapkan.

Selain itu, Ludi menegaskan tidak dapat mengurangi karyawan demi menghemat biaya operasional. “Kalau mengurangi pegawai tidak bisa, karena nanti ayamnya jadi enggak ada yang merawat. Setting-an jumlahnya itu sudah pas,” tegasnya.

Dengan kondisi ini, Ludi berharap pemerintah dapat menemukan solusi untuk menjaga stabilitas harga telur dan pakan di tingkat peternak. “Harapannya pemerintah bisa segera menstabilkan daya beli masyarakat yang melemah agar harga telur bisa kembali naik dan mengatasi persoalan dollar yang makin tinggi untuk menurunkan harga pakan,” pesannya.

Situasi ini menyoroti ketergantungan peternak pada harga pasar dan nilai tukar, serta keterbatasan mereka dalam menyesuaikan produksi ketika faktor eksternal berubah. Keseimbangan antara biaya produksi dan harga jual menjadi kunci kelangsungan usaha peternak di Kota Batu.

harga telur turunbiaya pakan naiknilai tukar dolarpeternak ayam petelurKota Batukerugian produksidaya beli masyarakat

Komentar

Memuat komentar...