Peternak Ayam Petelur Teriak, Harga Pakan Melonjak Drastis
Gambar atau konten salah?
Para peternak ayam petelur yang tergabung dalam Pinsar Petelur Nasional (PPN) menyampaikan keluhan mereka langsung ke Komisi IV DPR RI. Inti masalahnya? Harga pakan ayam melonjak drastis. Biaya operasional jadi berat sekali. Usaha peternakan rakyat terancam berhenti produksi.
Suardi, perwakilan PPN, menjelaskan detailnya. Bahan pakan utama, jagung dan bungkil kedelai, adalah biaya terbesar. Dua komponen ini menentukan hidup mati usaha mereka.
"50% beban produksi peternak itu ada di jagung. Satu hal yang tidak kalah penting adalah 25% itu berasal dari bungkil kedelai," kata Suardi dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 07 Oktober 2026.
Dia membeberkan perbandingan harga. Normalnya, bungkil kedelai di kisaran Rp 7.200 sampai Rp 7.500 per kilogram. Sekarang? Sudah naik jadi Rp 9.900 sampai Rp 10.000 per kilogram. Itu harga dari BUMN yang ditugaskan mengimpor dan menjual bahan pakan.
"Harga bungkil kedelai itu Rp 7.200 sampai Rp 7.500. Tapi hari ini kita bicara bungkil kedelai itu harganya Rp 9.900 sampai Rp 10.000. Sebuah lonjakan yang cukup tinggi," jelas Suardi.
Suardi juga membandingkan harga dari luar negeri. "Kalau kita datangkan bungkil kedelai dari Argentina atau Brasil hari ini, itu sampai di Indonesia memang ada kenaikan karena international market naik. Harganya itu kalau tiba di November, itu harganya Rp 8.500 sampai Rp 8.600. Tapi kalau kita beli dari BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah, harganya hari ini adalah Rp 9.999 hampir Rp 10.000," terangnya.
Bukan cuma bungkil kedelai. Harga jagung dan katul juga ikut naik. Lebih parah lagi, pasokan jagung di pasar sangat terbatas. "Jika kita hitung hari ini dengan kondisi jagung rata-rata hampir Rp 8.000 diterima oleh peternak ini, ketemu komposisi harga pakan adalah Rp 8.155," jelas Suardi.
Masalahnya bertambah rumit. Biaya pakan melonjak, tapi harga jual telur di pasaran malah turun drastis. Jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah.
"Harga telur setelah bulan April sampai hari ini juga jauh di bawah Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 Tahun 2024 yang di situ dituliskan bahwa harga pembelian di kandang Rp 26.500 per kilogram. Kenyataan yang diterima oleh para peternak mulai bulan April sampai dengan hari ini masih jauh dari HAP tersebut, rata-rata di angka Rp 19.200-20.000 bahkan pada bulan Juni kemarin harga telur ada di titik nadir Rp 17.100," keluhnya.
Para peternak berharap DPR RI dan pemerintah memberi perhatian serius. Mereka butuh bantuan. Jika tidak, usaha mereka terancam tutup. "Hari ini (harga telur) Rp 20.000 (per kilogram), di Blitar malah sudah Rp 19.000. Bulan Juni kemarin titik nadir harga telur di kandang Rp 17.100. Selama 6 bulan, kami merugi Rp 5.000 sampai Rp 7.000. Itu adalah kondisi kami," tutur Suardi.
Kondisi ini menunjukkan tekanan berat pada peternak rakyat. Harga pakan naik, harga jual telur turun. Selisihnya membuat mereka merugi berbulan-bulan. Tanpa intervensi, banyak peternak kecil mungkin akan gulung tikar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Cadangan Devisa RI Turun Tipis ke US$ 146,3 Miliar
Bank Mandiri Bagikan 280 Paket di HUT ke-28
LPS Usul Ubah Standar Biaya ke Berbasis Kinerja pada 2027
LPS Tunggu Arahan soal Jaminan Simpanan Koperasi
Saham BYAN Ludes Diborong Haji Isam, Transaksi Capai Rp26 Triliun
IHSG Ditutup Melemah ke Level 6.146
