Prabowo Targetkan KEK Dongkrak Ekonomi 1%
Gambar atau konten salah?
Presiden Prabowo Subianto memberikan target baru. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) diminta bisa menyumbang pertumbuhan ekonomi nasional hingga 1 persen pada tahun depan. Angka ini dinilai penting untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintah.
"Dan tahun depan itu pak presiden sudah meminta kalau bisa tuh KEK itu memberi sumbangan setengah sampai 1% pertumbuhan dari KEK saja," kata Wakil Ketua 2 Tim Pelaksana Dewan KEK, Budi Santoso, pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Saat ini, Indonesia memiliki 25 KEK yang tersebar di berbagai daerah. Sejak pertama kali dibentuk, total nilai investasi yang masuk baru mencapai Rp 382,1 triliun. Angka itu terbilang kecil jika dibandingkan dengan potensi yang ada.
Sepanjang Januari hingga September 2026, realisasi investasi KEK tercatat Rp 46 triliun. Jumlah itu baru sekitar 67 persen dari target tahunan sebesar Rp 69,1 triliun. Artinya, masih ada pekerjaan rumah yang cukup besar.
Budi mengakui, berdasarkan perhitungan bersama sejumlah ekonom, kontribusi nyata KEK terhadap pertumbuhan ekonomi saat ini masih di bawah 0,5 persen. Ia menegaskan, butuh kerja keras dan strategi yang lebih konkret untuk mengejar target yang diminta presiden.
"Setelah kami bekerja sama dengan beberapa ekonom kita hitung ya sumbangan terhadap pertumbuhannya berapa, itu masih kurang dari setengah, artinya kita masih harus kerja keras," ujarnya.
Untuk mencapai target itu, ada tiga langkah utama yang diandalkan. Pertama, program hilirisasi. Menurut Budi, program ini strategis karena bisa menarik investor secara mandiri. Alasannya, Indonesia memiliki komoditas dalam negeri yang melimpah. Hilirisasi saat ini tidak hanya berhenti pada industri pengolahan smelter, tetapi terus berlanjut hingga ke produk-produk turunannya.
Kedua, substitusi impor. Budi menyoroti tingginya angka impor barang konsumsi hingga permesinan. Ini menunjukkan pasar Indonesia sangat besar. Sayangnya, selama ini pasar itu dinikmati oleh pelaku usaha dari luar negeri.
Di sektor kesehatan, Budi menyebut sekitar Rp 200 triliun per tahun lenyap ke luar negeri. Penyebabnya, banyak masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri. Pemerintah kemudian membentuk KEK Kesehatan di Sanur, Bali. Tujuannya, menyediakan layanan medis berstandar internasional di dalam negeri.
"Nantinya ini yang substitusi impor ini menjadi perhatian kita juga. Mana-mana yang bisa nih. Kalau Anda mau market kita, berproduksilah di sini," imbuh Budi.
Ketiga, pengembangan teknologi. Budi menjelaskan, pengembangan KEK diarahkan pada sektor teknologi, termasuk pembangunan pusat data. Namun, ia memastikan aspek kelestarian lingkungan tetap diperhatikan.
Meski begitu, Budi mengakui ketidakpastian geopolitik global menjadi perhatian. Namun, ia justru melihatnya sebagai peluang. Menurutnya, situasi geopolitik dunia membuat para investor global mengubah pola bisnis. Dulu, rantai produksi terpusat di wilayah tertentu seperti Timur Tengah. Sekarang, investor tidak lagi bergantung pada satu atau dua rantai pasok saja.
Investor membutuhkan banyak cadangan rantai pasok. Tujuannya, agar proses produksi mereka tidak terganggu saat terjadi perubahan atau krisis. Peluang inilah yang ditangkap saat membentuk KEK Industropolis Batang. KEK itu lahir di tengah perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
Secara keseluruhan, target yang diberikan presiden memang ambisius. Namun, dengan tiga strategi utama—hilirisasi, substitusi impor, dan pengembangan teknologi—pemerintah optimistis KEK bisa berkontribusi lebih besar. Tantangan geopolitik global justru dilihat sebagai celah untuk menarik lebih banyak investasi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BI Akui Outflow Modal Asing Imbas Ancaman MSCI
Airlangga: Penilaian MSCI Soal Teknis, Bukan Fundamental Ekonomi
OJK Jatuhkan Denda Rp2,23 Triliun ke 166 Pihak di Pasar Modal
IHSG Ditutup Menguat 0,95 Persen ke 5.439
BRI Gandeng Prodia, Diskon MCU untuk Nasabah Prioritas
BRI Life Luncurkan COZY, Premi Mulai Rp1.000 Per Hari
