Puisi Kartini 2026: Perjuangan, Literasi, Inspirasi
Gambar atau konten salah?
Hari Kartini dirayakan setiap tahun pada 21 April 2026. Pada hari ini, masyarakat Indonesia mengenang perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Salah satu cara sederhana namun bermakna untuk menghormatinya adalah melalui puisi.
Puisi menjadi medium yang dapat menyampaikan rasa hormat, semangat, dan inspirasi bagi generasi sekarang. Artikel ini menyajikan kumpulan puisi tentang Kartini, masing‑masing terdiri dari dua hingga empat bait, cocok dibacakan dalam lomba atau dibagikan di media sosial.
Puisi-puisi ini diambil dari Antologi Puisi Kartini 2021 yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional RI dan Buku Puisi untuk Ibu Kartini karya Clarissa, dkk.
Puisi Hari Kartini 2 Bait – Anisa Ayu
Ibu Kartini
Engkau memang sangat berani
Berjuang untuk kaum putri
Agar sederajat dengan kaum lelaki
Ibu Kartini
Namamu selalu harus mewangi
Tak bisa pudar sama sekali
Walau engkau kini telah pergi
Kidung Senja Perempuan Desa – Yoyo Whisnu
Sayup terdengar tembang lawas kaum adat tanah Jawa
" Tak lelo lelo lelo ledung, cep menengo ojo pijer nangis...
Tak emban nganggo jarit kawung.... "
Dengan suara lembutnya perempuan desa itu
Membacakan dongeng klasik " Ande -Ande Lumut"
Sang anak mendengarkannya dengan mulut mungilnya ternganga
Dan kadang diselingi senyum manisnya menyemangati ibunya untuk terus bercerita
Sesekali sang anak bertanya :"Bu... kenapa Klenting Abang tidak bisa dibantu nyebrang sungai?"
Dengan bahasa sederhana Ibu menjelaskanya
Begitulah cara perempuan desa mengajarkan budi pekerti
Anak itu kini beranjak dewasa
Kemanapun dia pergi ada cerita yang ingin diulanginya
Puluhan toko buku menjadi tempat belanja kesayangannya
Perpustakaan pun menjadi tempat yang rutin dikunjunginya
Semua dibacanya,
Mula cerita klasik hingga yang novel percintaan
Tentang motivasi yang menginspirasi ...dan apapun itu...
Perempuan desa itu semakin tua
Ada rasa bangga melihat anaknya
Bisa ber
Oleh karena banyak membaca
Tepat di kamis malam semua dipanggilnya
Dengar suara lirih perempuan itu berkata "anak-anakku semua, tugas ibu merawatmu usai sudah.. Bacakan kembali cerita ibumu kepada anak-anakmu,
Karena hanya itu contoh terbaik bagi cucuku
Izinkan ibu istirahat dulu malam ini"
Semua menunduk kagum dan lega melihat ibu bahagia
Jumat pagi ibu terbangun dengan senyum
Ada kertas putih terletak di meja samping tempat tidurnya
"anakku dan cucuku, Eyang pamit meninggalkan semua ini
Bacakan selalu doa doa terbaik untuk Eyang
Seperti eyang selalu bacakan untuk kalian semua"
Ibu Kartini – Lily Cahyapratiwi
Bayang senyum Ibu Kartini
Ada kulihat pada mama
Yang mengharap, mendorong, dan mendoakan aku
Agar cita-citaku yang tinggi tercapai
Oleh tanganku, tangan wanita
Yang tegar, kokoh, tapi lemah
Bagiku, mama adalah juga Kartini
Emansipasi Masa Kini – Waidah
Emansipasi masa kini
Kami wanita yang berjuang untuk meraih mimpi
Dengan semangat penuh dedikasi
Tidak hilang kodrat tetap menjunjung kehormatan diri
Kami wanita dalam inspirasi
Wanita yang penuh cinta kasih menjaga keluarga
Wanita yang penuh sayang mendidik anak bangsa
Wanita yang penuh perhatian merawat sesama
Wanita yang punya semangat dalam bekerja
Wanita yang ber
Oleh dan berekspresi
Wanita yang mendedikasikan untuk negeri
Dan semua wanita yang membawa misi
Dalam Panji perjuangan wanita sejati
Kami wanita yang tangguh dan mandiri
Namun tetap lembut dalam pribadi
Penuh cita cinta kasih dan berbakti
Selalu terjaga dan terpatri dalam hati
Kartini dan Literasi – Winnie TM
Kebudayaan dibangun dengan pemikiran
Rasa, cipta, dan karsa diolah sedemikian rupa
Perubahan berbanding lurus dengan masa yang senantiasa berganti
Masa kini perlu disiapkan untuk masa depan
Masa depan disiapkan dengan literasi
Kartiniku menulis habis gelap terbitlah terang
Terang yang aku harap terus bersinar menyinari bumi
Seperti lagu yang terus mengalun
Mengiringi emansipasi, kebebasan, dan toleran
Tiga nilai yang kudapat dari wahai Kartiniku
Kini, sarana yang paripurna tidaklah berarti
Tanpa daya dan upaya dengan literasi
Terus menerus bukan berarti tanpa jeda
Demi transendensi dan masa tanpa ego
Karena kehidupan akan menjadi seperti apa hanya bergantung pada saya
Perempuan Berdaya – Septi Mardiana
Waktu terus berjalan
Zaman kian berkembang dengan kemajuan
Generasi emas kian merebak
Literasi jadi santapan anak zaman
Perempuan berdaya
Memperkuat literasi bangsa
Memberi sejuta semangat
Untuk membawa kemajuan bangsa
Peran kartini masa kini
Cinta kasih memberi naluri
Bahwa literasi itu penting
Mendorong negeri ini lebih baik lagi
R.A. Kartini – Ahmad Maulana
Engkau adalah puteri yang berjiwa pahlawan
Rela mengorbankan jiwa, serta ragamu
Tak gentar melawan takdirmu
Untuk memajukan negera ini
Engkau adalah sosok srikandi
Yang rela mengorbankan harta, dan bendamu
Tidak pernah merasa letih dalam
Memperjuangkan negara ini
Engkau adalah pahlawan dari kaummu
Cita-citamu amatlah mulia
Demi mewujudkan tunas bangsa
Kebanggaan agama serta negara
Tanduk Perempuan – Naurah Risadamayanti
Biswa rupa kami, buntara jiwa kami
Ibu Kartini titip pesan kepada kami
Jaga elok-elok seberkas harga diri
Angkat tinggi-tinggi kehormatan ini
Di saat ini tak lagi perempuan dikekang
Tak ada lagi kami dianggap membangkang
Hak hak untuk kami kembali secara utuh
Tidak dipentingkan hanya saat butuh
Derajat, kini telah setara adanya
Pendidikan diemban secara merata
Mampu berdiri sejajar dengan putra
Ini masanya kami bebas ber
Oleh siapa yang segan suruh kami untuk menunduk?
Jangan..???
Perempuan di Antara Buku – Rustian Al'Ansori
Pagi masih pandemi
Perempuan berseragam rapi
Menyelusuri pagi
Menuju perpustakaan Matahari
Perempuan di antara buku
Penjaga ilmu Menguatkan peradaban
Telah membuka pintu perpustakaan
Ia yang tahu Murasaki Shikibu perempuan Jepang penulis pertama di dunia
Ia juga tahu Kartini setelah membaca Habis Gelap Terbitlah Terang
Ia sedang bermimpi ingin menulis buku tentang dunia
Ia sedang membuat perpustakaan lebih terang
Adalah perempuan penjaga perpustakaan desa
Datang ketika pagi pulang ketika senja
Tidak menyerah karena sedikit gaji
Ia sedang menghidupkan kampungku yang masih sepi literasi
Kartini Masa Kini – Reni Oktaviani
Tatapan kosong ini menjadi saksi ketidakadilan
Harapan lalu semuanya tercurah atas nama merdeka
Semua mudah, literasi dijunjung tinggi Kartini masa kini
Kartini masa kini mengajarkan A, B, C, D
Membuka mata
Informasi dalam genggaman
Walakin dunia melaju meninggalkan Kartini masa lalu tanpa literasi
Senyapang Kartini masa kini memupuk motivasi penerus bangsa menggapai cita‑cita melalui literasi
Buku‑buku dalam mezanin berteriak bebas...
Literasi Ajeng Pekerti – Septiani Wahyuni
Sumbu Pandu Menyala Rona
Gemerlap Kulturasi Merangkai Jentik Hari
Jemari Gemar Berpikir, Logika Asri Bergelora
Bara Ideologi, Kidung Melati Melagu 'Kartini'
Jejer dan Jejak Gubahan Tangan Sang Putri
Semajemuk Rantai Garis Emansipasi
Mekar Berkelakar, Berakar Jati Suci
Santun Meracik Stigma, Meramu Juta Profesi
Untukmu, Kartini Literasi – Dwi Agustin
Bukan soal, bila harus menapaki ribuan tapak jalan
Niatnya membumikan literasi, sejernih Pantai Pandanan
Dahan pohon senantiasa doakan tiap langkahnya
Mentari pun turut menyinari cita‑cita mulianya
Bukan ber…
Kartini, Dahulu dan Kini, Pejuang Literasi – Hikmah Nurida
Dahulu, Raden Ajeng Kartini
Seorang pahlawan perempuan, berjuang melalui literasi
Menulis keresahan hatinya tentang perbedaan hak laki‑laki dan perempuan
Menulis kepekaan jiwanya tentang ketidakadilan yang dirasakan kaum perempuan
Menulis pemikirannya tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan
Tulisan-tulisan itu sarana menggapai tujuan
Tulisan-tulisan itu membuat perubahan besar bagi kaum perempuan
Perubahan yang mencerdaskan
Kini, Kartini-Kartini lain bermunculan
Kaum perempuan dengan semangat perjuangan yang sama
Perempuan yang semangat mengajarkan baca tulis bagi anak‑anaknya
Perempuan yang menanamkan kebaikan melalui cerita yang didongengkannya
Perempuan yang dengan segenap hati mengantar buku ke pedalaman dengan penuh perjuangan
Perempuan yang menjadi contoh dalam kegemaran membaca dan mencintai buku di keluarganya
Kartini, dahulu dan kini, pejuang literasi
Kaum perempuan yang gigih membudayakan literasi
Kartini, Laksana Pertiwi – Nandita Velisa
Wahai Kartini...
Sayap perjuangan telah dibentangkan
Mengoyak oyak gelap merobek cahaya
Tirai momentum membuka menganga
Setiap dari kapurnya mencoret menulis aksara
Tulisan surat itu tanda ksatria
Seorang Raden ayu
Dari Jepara
Kartini...
Berjalan setindak demi setindak
Menundukkan kepala patuh
Hanya boleh bicara pelan itu pun dengan berbisik
Dalam sukma tak pernah terganti
Dalam raga pancarkan cakrawala
Irama eloknya beralun alun bagai gurindam
Di sana kematian menjadi awal kehidupan
Tapi mati tanpa kematian adalah maya
Menarikan pena tak bertinta di atas lembar kertas
Juga hidup tanpa kehidupan adalah maya
Segala terhapus, pupus, tak berbekas
Endi mau kapurku? Tak ajarke kowe sinau boso londo'
Ibu, Pewaris Kharisma Aksara – Dianita Sandy
Saat Ibu membaca
Badannya duduk, matanya berjaga
Anak‑anaknya di sudut lain
Merekam potret itu, sambil bermain
Saat Ibu mencerna buku,
Pikirannya tidak terpaku,
Ia pergi ke masa lampau
Menembus pulau‑pulau
Saat Ibu mencintai pustaka
Nalurinya berbicara
Menularkan pada Ananda
Mewariskan kharisma aksara
Demikian puisi‑puisi ini dapat dibacakan maupun dibagikan pada perayaan Hari Kartini 2026. Semoga bermanfaat.
Puisi‑puisi ini menegaskan pentingnya literasi dan peran perempuan dalam masyarakat modern, mengingatkan kita akan warisan Kartini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gempa 4,8 M di Manokwari, Papua Barat, Dirasakan MMI II‑III
Mortir Perang Dunia II Ditemukan di Jayapura, Papua, Risiko
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Berita Terbaru
Seleksi PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026 Buka 3-15 Juni: Lulusan PPG
Slamet Santoso: Pemuda Banyuwangi Gabung Sokol Pyrzyce
Liburan Baru Fokus Istirahat: Tren Sleep Tourism Meningkat
Pemerintah Perkenalkan Kebijakan Energi Terbarukan 2025
Amalia & Fadia Raih Kemenangan Ganda Putri, Melaju ke P4
Jembatan Selemadeg: Lubang Besar, Perbaikan Masih Menunggu
Jepang Kehilangan 3 Juta Penduduk, Populasi Menurun 123 Juta
Ariston Luncurkan Pemanas Air Andris 3, Kamar Mandi Smart
