Karhutla Indonesia Melonjak 1.779% di Awal 2026

Dedi S. · 5 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Karhutla Indonesia Melonjak 1.779% di Awal 2026

Gambar atau konten salah?

Makassar - Kebakaran hutan dan lahan, yang sering disebut karhutla, masih menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Ancaman ini biasanya meningkat saat musim kemarau tiba dan suhu udara naik. Tapi, apa sebenarnya karhutla itu?

Karhutla adalah singkatan dari kebakaran hutan dan lahan. Ini adalah peristiwa di mana api menyala, bisa karena alam atau ulah manusia, dan menjalar dengan bebas menghabiskan bahan bakar berupa hutan dan lahan yang dilaluinya. Karhutla bukan sekadar pohon atau semak yang terbakar. Ini adalah bencana dengan dampak yang jauh lebih luas dan rumit.

Kebakaran ini bisa merusak ekosistem hutan, menghilangkan tempat tinggal satwa liar, melepaskan karbon dalam jumlah besar ke udara, dan mengganggu kegiatan ekonomi masyarakat. Asap yang dihasilkan bahkan bisa menyebar ke negara lain, menurunkan kualitas udara, dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi jutaan orang di Asia Tenggara.

Karena itu, penting untuk memahami karhutla: apa penyebabnya, dampaknya, dan bagaimana cara mencegahnya. Apalagi sekarang, beberapa wilayah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau dengan suhu yang meningkat, sehingga risiko kebakaran semakin tinggi.

Penyebab Karhutla

Ada dua penyebab utama karhutla: aktivitas manusia dan kondisi alam. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kebakaran hutan dan lahan bukanlah bencana alam murni. Kebanyakan terkait dengan aktivitas manusia, baik yang disengaja maupun karena kelalaian. Jadi, karhutla sebenarnya adalah bencana yang bisa dicegah dan dikendalikan. Mengenali penyebabnya adalah langkah awal untuk pencegahan.

1. Faktor Aktivitas Manusia

Beberapa kegiatan manusia yang bisa memicu kebakaran hutan dan lahan antara lain:

  • Menyiapkan lahan dengan cara membakar, terutama saat musim kemarau, yang apinya tidak terkendali.
  • Kelalaian saat berwisata alam, seperti meninggalkan api unggun yang belum padam sempurna.
  • Membuang puntung rokok sembarangan di hutan.
  • Membakar tumpukan sampah di area rerumputan atau tempat terbuka.

2. Faktor Alam

Karhutla juga bisa dipicu oleh faktor alam, meskipun kasusnya tidak sebanyak yang disebabkan oleh manusia. Dua penyebab alami yang paling umum adalah musim kemarau panjang dan aktivitas gunung berapi.

Saat musim kemarau berkepanjangan, curah hujan berkurang. Akibatnya, pepohonan, semak-semak, rumput, dan lahan menjadi sangat kering. Kondisi ini membuat hutan lebih mudah terbakar jika ada sumber api. Risiko karhutla pun meningkat.

Selain itu, kebakaran hutan juga bisa dipicu oleh letusan gunung berapi. Saat erupsi, lava dan material panas yang dikeluarkan gunung bisa menjalar hingga ke kawasan hutan. Panas dari material itu bisa membakar pepohonan dan semak-semak, sehingga memicu kebakaran di area sekitar gunung.

Dampak Nyata Karhutla

Dampak kebakaran hutan ternyata sangat kompleks. Tidak hanya merusak ekologi dan lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan, sosial, budaya, dan ekonomi.

a) Dampak Terhadap Ekologis dan Kerusakan Lingkungan

Hilangnya Spesies Fauna
Selain membakar tumbuhan, kebakaran hutan juga mengancam kehidupan hewan. Berbagai spesies endemik, baik tumbuhan maupun hewan, terancam punah karena kebakaran.

Erosi
Hutan dengan tanamannya berfungsi menahan erosi. Ketika tanaman musnah karena kebakaran, lahan hutan menjadi mudah terkikis oleh air hujan atau bahkan angin.

Alih Fungsi Hutan
Kawasan hutan yang terbakar membutuhkan waktu lama untuk pulih. Seringkali, hutan berubah fungsi menjadi perkebunan atau padang ilalang.

Penurunan Kualitas Air
Salah satu fungsi ekologis hutan adalah dalam siklus air. Hutan yang terbakar kehilangan kemampuannya untuk menyerap dan menyimpan air hujan.

Pemanasan Global
Kebakaran hutan menghasilkan asap dan gas CO2 serta gas lainnya. Selain itu, hutan yang terbakar juga kehilangan kemampuannya sebagai penyimpan karbon. Kedua hal ini sangat berpengaruh pada perubahan iklim dan pemanasan global.

Sedimentasi Sungai
Debu dan sisa pembakaran yang terbawa erosi akan mengendap di sungai dan menyebabkan pendangkalan.

Meningkatnya Bencana Alam
Terganggunya fungsi ekologi hutan akibat kebakaran bisa meningkatkan frekuensi bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan.

Meningkatnya Hama
Kebakaran hutan memusnahkan sebagian spesies dan merusak keseimbangan alam. Akibatnya, spesies yang berpotensi menjadi hama tidak terkendali. Selain itu, hewan yang kehilangan habitat terpaksa keluar dari hutan dan bisa menjadi hama, seperti gajah, monyet, dan hewan lainnya.

b) Dampak Kesehatan

Salah satu dampak karhutla adalah menurunnya kualitas udara karena asap. Hal ini bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti:

  • Iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan.
  • Reaksi alergi, peradangan, dan mungkin juga infeksi.
  • Memperburuk penyakit asma dan penyakit paru kronis lainnya, seperti bronkitis kronik.
  • Mengurangi kemampuan kerja paru-paru dan menyebabkan kesulitan bernapas.
  • Menurunkan daya tahan tubuh pada lansia dan anak-anak, sehingga mereka lebih mudah sakit.
  • Mengurangi kemampuan tubuh melawan infeksi paru-paru dan saluran pernapasan, sehingga infeksi lebih mudah terjadi.
  • Memperburuk penyakit pernapasan yang sudah ada.
  • Mencemari air bersih, tanaman sayuran, buah-buahan, dan makanan yang tidak tertutup.
  • Memperburuk kondisi lingkungan sehingga Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) lebih mudah terjadi.

c) Dampak Sosial, Budaya, dan Ekonomi

Kebakaran hutan berdampak besar pada kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi. Beberapa di antaranya:

Terganggunya aktivitas sehari-hari
Asap dari kebakaran hutan secara otomatis mengganggu aktivitas manusia, terutama bagi mereka yang bekerja di luar ruangan.

Menurunnya produktivitas
Gangguan aktivitas akibat kebakaran hutan bisa mempengaruhi produktivitas dan pendapatan.

Hilangnya mata pencaharian
Bagi masyarakat yang hidup dari hasil hutan, kebakaran berarti hilangnya area kerja dan sumber penghidupan.

Tersedotnya anggaran negara
Setiap tahun, diperlukan biaya besar untuk memadamkan kebakaran hutan. Biaya juga dibutuhkan untuk merehabilitasi hutan yang terbakar dan menangani dampak lain seperti kesehatan masyarakat dan bencana alam.

Menurunnya devisa negara
Hutan adalah sumber devisa negara, baik dari kayu, produk non-kayu, maupun pariwisata. Kebakaran hutan menghancurkan sumber-sumber ini. Penurunan produktivitas akibat kebakaran juga pada akhirnya mempengaruhi devisa negara.

Akumulasi Karhutla Periode Januari-April 2026

Menurut SiPongi+, sistem pemantauan karhutla milik Kementerian Kehutanan, data hingga Mei 2026 menunjukkan akumulasi luas karhutla di Indonesia meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya.

Pada periode Januari-April 2026, terjadi peningkatan luas area terbakar sebesar:

  • 35.071,49 hektar (94%) dibandingkan tahun 2019
  • 55.890,10 hektar (335%) dibandingkan tahun 2023
  • 68.701,54 hektar (1.779%) dibandingkan tahun 2025

Hingga Mei 2026, total luas karhutla tercatat mencapai 81.077,02 hektar. Dari total tersebut, 55% berada di kawasan hutan dan 45% di Areal Penggunaan Lain (APL) atau non-kawasan hutan.

Lima provinsi dengan karhutla terluas di tahun 2026 adalah:

  1. Kalimantan Barat: 28.216,31 hektar
  2. Riau: 15.318,03 hektar
  3. Kepulauan Riau: 5.690,77 hektar
  4. Nusa Tenggara Timur: 4.664,04 hektar
  5. Lampung: 3.380,61 hektar

Langkah Kecil Cegah Karhutla

Karhutla bukan bencana yang bisa diatasi dalam waktu singkat. Proses pemadaman seringkali membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya besar, terutama jika api sudah menyebar luas atau membakar lahan gambut.

Karena itu, pencegahan jauh lebih penting daripada penanggulangan. Tanggung jawab mencegah karhutla tidak hanya ada di tangan pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.

Masyarakat bisa mencegah karhutla dengan tindakan sederhana namun berdampak besar, seperti:

  • Hindari membakar sampah di lahan atau kawasan hutan, terutama saat cuaca kering dan angin kencang.
  • Jika harus membakar sampah, lakukan di tempat aman, jauh dari bangunan, pepohonan, dan kawasan hutan.
  • Jangan membuang puntung rokok sembarangan, terutama di area hutan, lahan kering, atau padang rumput.
  • Hindari menyalakan api unggun di kawasan rawan kebakaran.
  • Jika membuat api unggun, pastikan lokasinya jauh dari bahan mudah terbakar dan jangan pernah meninggalkannya tanpa pengawasan.
  • Sebelum meninggalkan lokasi, pastikan api unggun benar-benar padam dan tidak ada bara api yang tersisa.

Data menunjukkan bahwa karhutla di Indonesia meningkat drastis pada awal 2026, dengan Kalimantan Barat dan Riau sebagai wilayah paling terdampak. Peningkatan ini menegaskan bahwa meskipun faktor alam berperan, sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia. Oleh karena itu, upaya pencegahan yang melibatkan kesadaran dan tindakan masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko dan dampak bencana ini.

kebakaran hutankarhutlapenyebabdampakpencegahanIndonesiamusim kemarau

Komentar

Memuat komentar...