Restoran Chinese Jakarta, Favorit 'Old Money' Sejarah
Gambar atau konten salah?
Di tengah hiruk‑huruk kota Jakarta, masih ada beberapa restoran Chinese food yang sudah berusia puluhan tahun namun tetap menjadi tempat favorit bagi kalangan “old money”. Restoran‑restoran ini tidak hanya menawarkan hidangan autentik, tetapi juga membawa nuansa nostalgia yang sulit ditandingi.
Sejak era 01 Januari 1940 hingga 01 Januari 1970, tempat-tempat seperti Rendezvous, Paramount, dan Trio menjadi pangkalan berkumpul bagi keluarga, pebisnis, politisi, dan tokoh penting. Menu yang disajikan masih mempertahankan resep turun‑temurun dengan sentuhan khas Kanton dan peranakan, lengkap dengan porsi besar yang cocok dinikmati bersama.
Tak sekadar soal rasa, suasana klasik yang dipertahankan menjadi daya tarik tersendiri. Dari interior jadul, pelayanan khas, hingga sejarah panjangnya, semua menjadi alasan restoran ini tetap eksis dan terus dicari lintas generasi.
Berikut lima rekomendasi restoran Chinese food legendaris yang menjadi favorit kalangan “old money” di Jakarta.
-
Rendezvous
Restoran ini berdiri pada 01 Januari 1973 dan dikenal dengan nuansa klasik 80‑an yang masih dipertahankan hingga kini. Rendezvous menjadi ikon kuliner Chinese food legendaris di Jakarta sejak era 1970‑an. Tempat ini dirancang sebagai ruang berkumpul, sehingga porsi makanannya cocok dinikmati bersama.
Menu andalannya meliputi lumpia udang, nasi goreng kepiting, dan mie goreng sapi. Semua hidangan menggunakan bumbu impor Hong Kong, memberikan cita rasa khas. Harga menu berkisar mulai dari Rp 80.000. Rendezvous tetap menjadi langganan kalangan “old money” Jakarta, termasuk politisi dan mendiang Presiden Soeharto.
-
Paramount
Terletak di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, Paramount berdiri sejak era 1970‑an. Restoran ini mempertahankan suasana klasik lengkap dengan interior jadul dan pelayanan khas yang kini jarang ditemui.
Paramount menyajikan lebih dari 300 menu khas Kanton dengan porsi keluarga. Harga menu variatif mulai dari Rp 80.000. Hidangan andalannya, seperti lumpia udang, fuyunghai kepiting, dan has sapi panggang, dibuat dengan resep turun‑temurun dan bahan berkualitas. Teknik masak dan racikan bumbu tidak berubah sejak dulu.
Sejumlah tokoh penting, termasuk Presiden Soeharto dan menteri, pernah menjadi pelanggan. Hingga kini, Paramount tetap menjadi tempat makan lintas generasi yang sarat kenangan.
-
Eka Ria
Restoran Eka Ria berada di Jakarta Pusat dan berdiri sejak 01 Januari 1925. Meskipun nama resmi sudah ada sejak 1925, restoran ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum tahun tersebut, menunjukkan kemampuan bertahan lebih dari 100 tahun.
Semua menu di Eka Ria masih dimasak menggunakan resep keluarga Tjoeng Sang, pendiri restoran Jit Lok Jun yang merupakan nama awal Eka Ria. Meskipun menu mengarah ke Kanton, semua hidangan sudah termasuk peranakan, karena menggunakan bumbu dan rempah lokal.
Menu andalannya meliputi burung dara goreng, gundur tim, ayam goreng asam manis, hingga angsio he. Harga menu berkisar mulai dari Rp 90.000. Ada ruang dansa di dalam restoran, menambah nuansa “old money” yang kental.
-
Trio
Jika melintas di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, kamu akan menemukan restoran Trio yang terletak di pinggir jalan. Bangunan restoran ini sederhana dengan dominasi warna hijau dan putih pada dinding serta pintunya.
Trio dibuka pada 01 Januari 1947 dan mengandalkan hidangan China Kanton. Menu yang tersedia meliputi lumpia udang, mie goreng oriental, fuyung hai, ayam lada hitam, dan sup asparagus. Semua menu diracik dengan bumbu yang sama secara turun‑temurun.
Pelanggan Trio berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa, orang kantoran, hingga pejabat. Mantan Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, menjadi salah satu pelanggan tetap. Harga makanan di sini terbilang agak mahal, namun sebanding dengan rasa dan porsinya yang jumbo. Harga mulai dari Rp 80.000.
-
Angke Restaurant
Di Jakarta Utara, tepatnya di kawasan Angke, terdapat restoran China legendaris yang menjadi langganan “old money”. Angke Restaurant sudah beroperasi sejak 01 Januari 1965 dengan mengandalkan sajian China Hakka.
Pendirinya adalah Ko Po Hon dan Tjung Sin Fa yang awalnya membuat masakan oriental khas Kwan Tung. Ada lebih dari 100 variasi menu di sini, seperti mun haisom, ayam garam, ayam rebus minyak jahe, dan lindung cah fumak. Harga makanannya mulai dari Rp 80.000.
Setiap restoran di atas memiliki ciri khas yang membedakannya. Dari menu yang masih menggunakan resep turun‑temurun hingga pelayanan yang menampilkan nuansa klasik, semua faktor tersebut membuat restoran ini tetap eksis di tengah persaingan kuliner modern. Kalangan “old money” tetap menjadi pelanggan setia, karena mereka menghargai rasa autentik dan suasana yang membawa kenangan masa lalu.
Keberlanjutan restoran-restoran ini menunjukkan bahwa cita rasa tradisional masih memiliki tempat di hati pelanggan. Meski zaman berubah, tempat-tempat ini tetap menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kuliner Jakarta, memadukan warisan budaya dengan kebutuhan modern.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gyro II Tutup Setelah 45 Tahun, Resep Saus Putih Terbagi
Lekooh: Warung Coto Makassar Modern di Jakarta Cikajang
ERRE & Urrechu Jakarta Ulang Tahun Pertama: Menu Baru
5 Warung Soto Betawi Legendaris Klasik Jakarta Tradisional
Korea Bapak‑Bapak Nikmati Nasi Padang di Pagi Sore Jakarta
Wali Kota London Sadiq Khan Tidak Suka Durian di Singapura
Berita Terbaru
Truk Besar Diarahkan Tol, Pasuruan Tersengat Kemacetan JLS
Hotel Borobudur Gelar Discover Betawi untuk HUT 499 Jakarta
Suporter Meksiko & Korea Bersahabat di Piala 2026
Lenovo Tech Day: AI Terpusat Manusia, ROI 2,86x di Jakarta
20 Perguruan Tinggi QS 2026 Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru
DPRD Bali Serahkan Rekomendasi Pengelolaan PT BTID & Hutan
Gyro II Tutup Setelah 45 Tahun, Resep Saus Putih Terbagi
