Risiko Genetik: Menikah Sepupu Berbahaya bagi Generasi

Bima J. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 77 dibaca
Bisik.id
Risiko Genetik: Menikah Sepupu Berbahaya bagi Generasi

Gambar atau konten salah?

Lebaran sering menjadi momen berkumpul bersama keluarga besar, bersilaturahmi dengan saudara hingga sepupu yang mungkin sudah lama tidak ditemui.

Di media sosial seperti TikTok, tidak sedikit orang membagikan pengalaman bertemu kembali dengan sepupu yang kemudian memunculkan rasa tertarik, bahkan keinginan untuk menjalin hubungan lebih serius.

Namun sebelum terbawa perasaan, para ahli sudah lama mengingatkan adanya risiko besar dari pernikahan dengan kerabat dekat. Hubungan sedarah memiliki kemungkinan lebih tinggi memicu masalah genetik pada keturunan.

Gambaran nyata terlihat dari kisah keluarga Whittaker family di West Virginia. Dalam keluarga ini, praktik perkawinan sedarah terjadi selama beberapa generasi, yang berdampak pada kondisi kesehatan anggotanya. Banyak di antara mereka mengalami gangguan kognitif.

Salah satunya adalah Danny Ray Whittaker atau Ray, yang hanya bisa berkomunikasi melalui dengusan, gerakan, dan suara sederhana. Ia diduga mengalami autisme non-verbal, meski tidak ada diagnosis formal yang dipublikasikan.

Kisah Ray sempat menarik perhatian publik setelah diwawancarai oleh Soft White Underbelly. Meski tidak bisa berbicara, Ray diyakini memahami pertanyaan dan mampu merespons dengan caranya sendiri—misalnya dengan menunjuk makanan atau lokasi tertentu.

Kondisi ini tidak lepas dari pola perkawinan dalam keluarganya. Ray lahir dari pasangan sepupu pertama, dan dalam silsilah keluarganya terdapat hubungan serupa yang berulang, bahkan melibatkan saudara kembar yang juga menikah dengan sepupu mereka. Akibatnya, risiko kelainan genetik dalam keluarga ini meningkat drastis, bahkan hingga beberapa kali lipat.

Dalam makalah tahun 2015, Dr Alex Prayson menjelaskan bahwa pernikahan antar kerabat dekat meningkatkan kemungkinan seseorang mewarisi DNA yang berkaitan dengan autisme maupun kelainan bawaan lainnya.

"Baik autisme dan kelainan bawaan mungkin memiliki kelainan struktur dan/atau fungsi otak yang serupa," tulis Dr Prayson.

"Scan otak dari kedua anak ini menunjukkan variasi dalam bentuk dan struktur otak jika dibandingkan dengan otak neurotipikal atau normal."

Ia juga menegaskan bahwa masalah utama dalam perkawinan sedarah adalah meningkatnya peluang mewarisi gen resesif yang rusak dari nenek moyang yang sama.

"Perkawinan sedarah dianggap sebagai masalah pada manusia, karena meningkatkan kemungkinan menerima kromosom rusak yang diwarisi dari nenek moyang yang sama. Tindakan inses tidak langsung menyebabkan cacat lahir, tetapi meningkatkan kemungkinan seorang anak dilahirkan dengan dosis ganda dari masalah genetik resesif."

Secara sederhana, setiap orang membawa gen dari orang tua dalam bentuk alel, yang bisa bersifat dominan atau resesif. Gen dominan cukup satu untuk muncul sebagai sifat, sementara gen resesif membutuhkan dua salinan. Pada pasangan yang tidak memiliki hubungan darah, peluang membawa gen resesif yang sama relatif kecil. Namun pada kerabat dekat, peluang itu meningkat signifikan.

Kesimpulannya, rasa tertarik pada sepupu bisa saja muncul, terutama dalam suasana hangat seperti Lebaran. Tetapi sebelum mengambil keputusan besar seperti menikah, penting mempertimbangkan risiko kesehatan jangka panjang bagi anak dan generasi berikutnya.

Kisah keluarga Whittaker menegaskan bahwa hubungan sedarah dapat meningkatkan risiko kelainan genetik. Masyarakat yang tertarik pada sepupu harus menimbang konsekuensi jangka panjang bagi keturunan.

perkawinan sedarahrisiko genetikautisme non-verbalWhittaker familykromosom rusakgen resesifkesehatan keturunan

Komentar

Memuat komentar...