Ronaldo Dibikot Rekan Setim?
Gambar atau konten salah?
Kekalahan Portugal dari Spanyol dengan skor tipis 0-1 di Piala Dunia 2026 langsung memicu perdebatan sengit. Tim asuhan Roberto Martinez itu harus angkat koper lebih cepat setelah tersingkir di babak 16 besar. Ini menjadi kegagalan ketiga Portugal dalam lima edisi Piala Dunia terakhir, menyusul nasib serupa di tahun 2010 dan 2018.
Cristiano Ronaldo sendiri menjadi starter di seluruh lima pertandingan yang dijalani Portugal. Megabintang berusia 41 tahun itu menyumbangkan tiga gol selama turnamen. Namun publik terbelah soal kontribusinya. Sebagian menilai Ronaldo justru menjadi penghambat permainan tim. Sebagian lain membela pemilik lima Ballon d'Or itu.
Youri Djorkaeff, mantan bintang Timnas Prancis yang pernah menjuarai Piala Dunia 1998, punya pandangan berbeda. Ia justru menuding rekan-rekan setim Ronaldo sendiri yang menjadi biang keladi kegagalan Portugal. Menurut Djorkaeff, para pemain Portugal memboikot Ronaldo di atas lapangan.
"Jika Anda membawa Cristiano Ronaldo, maka tim harus bermain untuk Cristiano Ronaldo. Dan itu tidak terjadi sama sekali," ujar Djorkaeff kepada Radio RMC Sport. "Jelas sekali bahwa dia diboikot oleh timnya sendiri. Mereka tidak mendukung dia. Mereka tidak menempatkan dia di dalam kondisi terbaik."
Djorkaeff, yang pernah membela Paris Saint-Germain dan Inter Milan, melanjutkan kritiknya. "Kita semua tahu Cristiano. Dia selalu bermain dengan cara yang sama. Apa yang mereka harapkan, bahwa dia akan tiba-tiba berubah? Anda bisa memilih untuk tidak memanggil dia, atau tidak menurunkan dia ke lapangan. Tapi jika Anda melakukannya, maka Anda harus membangun tim di sekitar dia."
Mantan penyerang itu juga menyoroti mentalitas pemain Portugal lainnya. "Apa yang tidak saya sukai tentang tim nasional Portugal ini adalah, terlepas mereka semuanya itu pemain-pemain berbakat, semua orang sepertinya menaruh tanggung jawabnya kepada Cristiano."
Djorkaeff menekankan perlunya pemain lain untuk tampil lebih menonjol. "Di masa depan, Vitinha, Bruno Fernandes dan pemain-pemain lain harus mengambil tanggung jawabnya. Anda enggak bisa terus mengharapkan Cristiano melakukan semuanya. Dia itu bukan satu-satunya pemain yang harus membuat perbedaan," tegasnya.
Setelah tersingkir dari Piala Dunia 2026, Cristiano Ronaldo mengumumkan bahwa turnamen ini menjadi yang terakhir dalam kariernya. Sepanjang partisipasinya di Piala Dunia, pencapaian terbaik Ronaldo bersama Portugal hanyalah finis di posisi keempat pada edisi 2006 di Jerman.
Perdebatan soal peran Ronaldo di Timnas Portugal sebenarnya bukan hal baru. Sejak Euro 2016 yang berakhir dengan gelar juara, dinamika tim terus berubah. Generasi baru pemain Portugal seperti Vitinha dan Bruno Fernandes memang memiliki kualitas individu tinggi. Namun tanpa koordinasi yang jelas antara bintang senior dan pemain muda, hasil di lapangan bisa jauh dari harapan. Kegagalan di Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa sekadar memiliki pemain berbakat tidak cukup tanpa strategi tim yang solid.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Luke Vickery Resmi Jadi WNI, Siap Bawa Indonesia ke Piala Dunia 2030
Mourinho Senang Prancis dan Inggris Gagal ke Final Piala Dunia
Strategi Bertahan Tuchel Hancurkan Inggris
Argentina ke Final usai Kalahkan Inggris di Semifinal
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Saliba Operasi Punggung, Absen Lima Bulan
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
