RSUD Dr. Soetomo Klarifikasi Hidran Setelah Kebakaran PPJT Surabaya

Tika M. · 2 min baca · 19 hari lalu · 45 dibaca
Bisik.id
RSUD Dr. Soetomo Klarifikasi Hidran Setelah Kebakaran PPJT Surabaya

Gambar atau konten salah?

RSUD dr Soetomo Surabaya membuka suara pada 15 Mei 2026 untuk menanggapi sorotan tentang sistem hidran yang dianggap tidak berfungsi optimal saat penanganan kebakaran di Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT). Pihak rumah sakit menegaskan bahwa sistem penanganan kebakaran atau Code Red telah rutin disimulasikan sesuai standar akreditasi nasional maupun internasional.

Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan, Prof Dr Ahmad Suryawan, menjelaskan bahwa rumah sakit memiliki program hospital disaster yang mencakup penanganan kebakaran dan kondisi darurat lainnya. “Jadi, ada beberapa standar di akreditasi nasional maupun JCI ya, mengenai Code Red, Code White, Code Pink. Salah satu ini Code Red. Code Red itu adalah beberapa kejadian yang menyangkut api, dan itu harus tersimulasikan secara reguler, dalam skala yang kecil, modelit, dan besar seperti apa,” kata Prof Wawan, sapaan akrabnya saat ditemui di RSUD dr Soetomo, Jumat (15 Mei 2026).

Menurutnya, simulasi penanganan kebakaran tersebut telah dilakukan secara rutin oleh tim rumah sakit. Seluruh proses simulasi dan pengecekan fasilitas keselamatan juga disebut tercatat dalam logbook di masing-masing area. “Kita punya satu hospital disaster program, mengenai Code Red ini. Jadi, simulasi itu sudah kita lakukan secara reguler. Nanti ada beberapa video‑video simulasi yang mungkin bisa ketahui, nanti ada tim K3RS‑nya yang (melakukan) pengecekan terakhir dan sebagainya,” ujarnya. “Di setiap wilayah‑wilayah itu harus ada logbook‑nya, harus ada tercatat,” sambungnya.

Terkait pernyataan petugas pemadam kebakaran yang menyebut tekanan air hidran kurang optimal saat proses pemadaman, Prof Wawan mengakui hal tersebut akan menjadi bahan evaluasi pihak rumah sakit. “Mengenai hidran yang saya terima informasi ada di indoor maupun outdoor yang dijelaskan oleh Pak Duwika tadi, kemungkinan besar untuk tekanan bisa jadi (kurang). Tapi fungsi pasti akan masih berjalan,” jelasnya.

Ia menegaskan, sistem hidran rumah sakit masih berfungsi, meski tekanan air yang diharapkan petugas pemadam kemungkinan belum maksimal untuk menjangkau lantai atas gedung. “Kalau tekanan yang diharapkan oleh Damkar kurang, ini yang akan menjadi evaluasi bagi kami ke depan. Jadi, ini sesuatu yang bisa merekonstruksi daripada standar‑standar kita, terutama di area‑area. Kami akan ngecek di area‑area yang lain, apakah sesuai dengan yang diinginkan oleh pihak Damkar,” tandasnya.

Sejak kebakaran terjadi, sebanyak 13 unit armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk menangani kejadian di Gedung PPJT RSUD dr Soetomo. Petugas sempat mencoba menggunakan sistem hidran internal rumah sakit, namun tekanan air disebut tidak mencukupi untuk menjangkau area lantai atas. “Kami tadi mencoba menggunakan hidran rumah sakit, tapi ternyata tekanan airnya tidak mencukupi untuk menjangkau lantai atas. Jadi kami menggunakan air dari 13 unit yang kami kerahkan,” kata Ketua Tim Kerja Operasional Damkar Surabaya, Trianjaya.

Kebakaran di lantai 5 gedung PPJT tersebut menyebabkan puluhan pasien dievakuasi dari gedung. Ada dua orang menjadi korban, satu di antaranya dilaporkan meninggal dunia dan satu korban masih kritis di ICU.

Rumah sakit menegaskan bahwa semua prosedur dan pelatihan telah dilaksanakan sesuai standar, dan evaluasi akan dilakukan untuk memastikan tekanan hidran dapat memenuhi kebutuhan pemadaman di semua lantai. Dengan demikian, sistem keselamatan di RSUD dr Soetomo akan terus diperkuat untuk menghadapi situasi darurat di masa depan.

RSUD dr Soetomosistem hidranCode Redevaluasi tekanan airhospital disaster programlogbookDamkar Surabaya

Komentar

Memuat komentar...