Saham Konglomerat Masuk Deretan Kepemilikan Terkonsentrasi
Gambar atau konten salah?
Jumlah saham yang masuk dalam kategori kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC) melonjak drastis. Ini terjadi setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) memasukkan kriteria baru bernama price impact ratio ke dalam metode perhitungannya.
Berdasarkan daftar terbaru, sejumlah emiten milik konglomerat terkenal kini tercatat dalam kategori HSC. Ambil contoh saham milik Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Perusahaan ini masuk kategori HSC dengan tingkat kepemilikan terkonsentrasi mencapai 97,31%.
Tak hanya itu. Saham konglomerasi Grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), juga ikut masuk. Angka kepemilikan terkonsentrasinya sebesar 95,76%.
Pada pengumuman terbaru hari ini, Rabu, 15 Juli 2026, nama-nama baru bermunculan. Emiten milik Otto Toto Sugiri, PT DCI Indonesia Tbk (DCII), misalnya. Tingkat kepemilikan terkonsentrasinya nyaris sempurna: 99,96%.
Kemudian ada saham milik Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Perusahaan batu bara ini masuk dengan angka 98,50%.
Anthoni Salim juga tidak ketinggalan. Emiten miliknya, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), tercatat dengan kepemilikan terkonsentrasi 98,06%.
Andi Syamsuddin Arsyad, yang akrab disapa Haji Isam, punya saham di PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN). Angkanya? 99,95%.
Mohammad Jusuf Hamka atau Babah Alun juga masuk daftar. Perusahaannya, PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP), memiliki tingkat kepemilikan terkonsentrasi 96,64%.
Grup Djarum juga tercatat. Lewat PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), angka kepemilikan terkonsentrasinya mencapai 93,83%.
Masih dari Grup Sinar Mas, ada PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR). Angkanya tinggi: 99,58%.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan perubahan ini. Pihaknya menambahkan kriteria price impact ratio untuk saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Ini menjadi salah satu metodologi perhitungan baru.
"Kami telah melakukan revisi atas metodologi high shareholding concentration," kata Jeffrey dalam konferensi pers di Kantor BEI, Jakarta Selatan, Selasa, 14 Juli 2026.
Ia melanjutkan, "Kami menambahkan satu kriteria, yaitu kriteria price-impact ratio atas seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun. Dengan kriteria baru tersebut, kami akan segera mengumumkan ada 37 saham baru masuk dalam kriteria high shareholding concentration. Sehingga, total saham yang ada di dalam high shareholding concentration akan menjadi 51 saham."
Jeffrey menjelaskan cara kerja kriteria baru ini. Saham dengan price-impact ratio tinggi dihitung berdasarkan perubahan harga saham dibandingkan dengan velocity transaksi. Sementara velocity sendiri dihitung dari rata-rata volume transaksi dibandingkan jumlah saham yang beredar di publik atau free float.
Berikut adalah daftar lengkap 51 emiten dengan tingkat kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi:
- PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
- PT Ifishdeco Tbk (IFSH)
- PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV)
- PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)
- PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK)
- PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS)
- PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA)
- PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI)
- PT Mahkota Group Tbk (MGRO)
- PT Kota Satu Properti Tbk (SATU)
- PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG)
- PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM)
- PT DCI Indonesia Tbk (DCII)
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN)
- PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET)
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA)
- PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ)
- PT Bank Permata Tbk (BNLI)
- PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)
- PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN)
- PT Soho Global Health Tbk (SOHO)
- PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE)
- PT FAP Agri Tbk (FAPA)
- PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)
- PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI)
- PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN)
- PT Siantar Top Tbk (STTP)
- PT Multipolar Technology Tbk (MLPT)
- PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)
- PT Global Digital Niaga Tbk (BELI)
- PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO)
- PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY)
- PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)
- PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT)
- PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI)
- PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI)
- PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI)
- PT Hotel Fitra International Tbk (FITT)
- PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)
- PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING)
- PT MD Entertainment Tbk (FILM)
- PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)
- PT Golden Flower Tbk (POLU)
- PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE)
- PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL)
- PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII)
- PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI)
- PT Bank Mega Tbk (MEGA)
- PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP)
Daftar ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan besar dengan pemilik tunggal atau kelompok pemilik yang sangat dominan. Tingkat kepemilikan di atas 90% berarti hampir seluruh saham perusahaan dikuasai oleh segelintir pihak. Ini bisa mempengaruhi likuiditas saham di pasar. Dengan kriteria baru, BEI ingin memantau saham-saham yang pergerakan harganya bisa sangat dipengaruhi oleh transaksi dalam jumlah kecil sekalipun.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Notaris Pindah ke Jakarta Kena Biaya Rp 500 Juta
Mbappe Mandul, Prancis Tersingkir
Perkemahan Miliarder Sun Valley Soroti Masa Depan AI
Kebiasaan Ngemil Global: Gaya Hidup atau Sekadar Lapar?
Daftar Harga Motor Bebek Terbaru Juli 2026
Spanyol Pasti ke Final Piala Dunia 2026
Buruh Desak DPR Tak Jadikan Pertemuan Sekadar Seremonial