SD di pesisir Sidoarjo belum pernah dapat MBG
Gambar atau konten salah?
Di Kabupaten Sidoarjo, program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah berjalan di banyak sekolah dasar di wilayah perkotaan. Namun, ada satu sekolah yang belum pernah merasakan program itu sama sekali. Sekolah tersebut adalah SD Negeri 4 Kupang, yang terletak di Dusun Kali Alo, Desa Kupang, Kecamatan Jabon.
Sekolah ini berada di kawasan pesisir. Di sekelilingnya ada hamparan sawah, tambak, dan dekat dengan muara laut. Akses jalannya sulit. Transportasi umum pun hampir tidak ada. Kondisi ini membuat SDN 4 Kupang semakin tertinggal dibanding sekolah-sekolah di kota.
Muhammad Hafis Amrizal, siswa kelas V di sekolah itu, mengaku belum pernah mencicipi menu MBG. Ia dan teman-temannya hanya bisa mendengar cerita tentang program tersebut dari sekolah lain. "Saya belum pernah makan MBG di sekolah. Pengen sekali merasakan seperti teman-teman di sekolah lain," kata Hafis saat ditemui di sekolahnya pada Selasa, 14 Juli 2026.
Hafis bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Idolanya adalah Rizky Ridho. Ia berharap suatu hari nanti program MBG bisa dinikmati oleh seluruh siswa di SDN 4 Kupang. "Saya berharap sekolah kami juga bisa mendapat MBG," ujarnya.
Solekan Tahib, guru kelas V di SDN 4 Kupang, menjelaskan kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah pesisir itu sangat membutuhkan perhatian. Sebanyak 95 persen orang tua siswa bekerja sebagai buruh tambak dan buruh rumput laut. Pemilik tambak kebanyakan berasal dari luar daerah. Sementara ekonomi warga setempat tergolong rendah.
Di tahun ajaran 2026/2027, sekolah ini bahkan tidak mendapatkan satu pun siswa baru. Solekan mengatakan kondisi geografis yang terpencil dan akses menuju sekolah yang sulit menjadi tantangan utama. Ia berharap sekolahnya bisa menjadi prioritas penerima program MBG. "Melihat kondisi ekonomi orang tua siswa, kami berharap SDN 4 Kupang bisa diprioritaskan menerima program Makan Bergizi Gratis. Sampai sekarang anak-anak di sini belum pernah menikmati menu MBG," pungkasnya.
Kondisi SDN 4 Kupang menunjukkan bahwa program MBG belum menjangkau semua sekolah secara merata. Sekolah-sekolah di daerah terpencil dengan akses sulit justru menjadi yang paling membutuhkan, namun justru terakhir mendapat perhatian. Faktor geografis dan ekonomi menjadi penghalang utama yang perlu diatasi agar program ini benar-benar bermanfaat bagi semua anak.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Banyuwangi Tuan Rumah Forum ASEAN-ID Blue 2026
Tanggul Lumpur Lapindo Retak, Rel Kereta Terancam
Prediksi Prancis Kalahkan Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026
CPNS 2026 Belum Dibuka, Jadwal Masih Perkiraan
Kominfo dan DPRD Jatim Gelar Nobar Semifinal Piala Dunia 2026
SDN 4 Kupang Terpencil, Atap Bocor, Tak Dapat Murid Baru
Berita Terbaru
SD di pesisir Sidoarjo belum pernah dapat MBG
3.000 Orang Sakit Setelah Makan Selada, Wabah Parasit di AS
5 Makanan Terpedas Dunia, Hot Wings hingga Sambal Ulek
Messi vs Inggris: Rekor 27 Gol ke Gawang Klub Premier League
Huawei MatePad Air Resmi, Tipis 5,3 mm
Prasabri Pesti Resmi Jadi Plt Dirut Pos Indonesia
Satu Siswa Baru di SMPN 26 Bengkulu Tengah, MPLS Tetap Jalan