Tanggul Lumpur Lapindo Retak, Rel Kereta Terancam
Gambar atau konten salah?
Tanggul penahan lumpur Lapindo di titik B 10 D, Kecamatan Porong, Sidoarjo, kembali menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Retakan mulai terlihat di permukaan tanggul. Sebelumnya, lokasi ini juga sempat mengalami rembesan lumpur dan air. Kekhawatiran muncul jika kondisi ini tidak dipantau secara ketat, kebocoran bisa terjadi kapan saja.
Titik B 10 D bukan lokasi sembarangan. Tempat ini berada di jalur yang sangat strategis. Rel kereta api lintas Surabaya-Malang melintas di dekatnya. Jalan Raya Porong, yang menjadi urat nadi ekonomi Jawa Timur, juga ada di sana. Kerusakan tanggul di titik ini bisa mengganggu dua infrastruktur vital sekaligus.
Fahmi Zamroni, Pelaksana Perencanaan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), menjelaskan situasinya. Bukan cuma retakan, tanah di sekitar tanggul juga mengalami penurunan. "Rata-rata penurunan tanah di sepanjang area tanggul sekitar 11 kilometer mencapai kurang lebih 0,5 meter per tahun. Namun kondisinya berbeda-beda di setiap lokasi," kata Fahmi kepada wartawan di atas tanggul, Selasa 14 Juli 2026.
Penurunan tanah tidak merata. Tanggul di sisi selatan masih relatif stabil. Sebaliknya, sisi barat justru menjadi zona paling kritis. Titik 10 D termasuk di dalamnya. Di sana, penurunan tanah mencapai rata-rata 0,5 meter per tahun. Angka yang sama dengan rata-rata keseluruhan, tapi dampaknya lebih terasa karena lokasinya yang rawan.
Fahmi menunjukkan bukti nyata. Ada perbedaan elevasi antara tiang penyangga (pier) dengan tembok penahan ujung jembatan (abutment) bekas jalan tol di sekitar lokasi. "Perbedaan ketinggian itu menjadi salah satu bukti bahwa penurunan tanah masih terus berlangsung," ujarnya. Tanah di sana tidak diam. Ia terus bergerak turun.
Dua faktor utama disebut sebagai penyebabnya. Pertama, wilayah Sidoarjo didominasi endapan sedimen. Tanahnya tidak padat. Daya dukungnya rendah. Kedua, kawasan ini dilewati dua patahan aktif: Sesar Siring dan Sesar Watukosek. Kombinasi ini membuat tanah di sekitar tanggul terus bergerak dan turun.
Namun, ada kabar lain. Volume semburan lumpur saat ini jauh lebih kecil. Fahmi menyebutkan perbandingannya. "Kalau dibandingkan masa awal semburan, volumenya sekarang sudah jauh menurun. Dulu pada awal kejadian volumenya mencapai sekitar 100 ribu meter kubik per hari, sedangkan sekarang sudah jauh di bawah angka tersebut," jelasnya. Dua puluh tahun lalu, lumpur menyembur deras. Sekarang, semburannya sudah sangat berkurang.
PPLS memastikan pemantauan terus berjalan. Titik B 10 D menjadi prioritas. Tujuannya satu: mengantisipasi gangguan pada infrastruktur vital di sekitar kawasan lumpur Lapindo. Retakan dan penurunan tanah tidak bisa diabaikan. Bukan hanya soal lumpur, tapi juga soal jalur kereta dan jalan raya yang melayani ribuan orang setiap hari.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Prediksi Prancis Kalahkan Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026
CPNS 2026 Belum Dibuka, Jadwal Masih Perkiraan
Kominfo dan DPRD Jatim Gelar Nobar Semifinal Piala Dunia 2026
SDN 4 Kupang Terpencil, Atap Bocor, Tak Dapat Murid Baru
Delapan SD di Batu Sepi Murid, Merger Masih Dikaji
MPLS Seru di Rumah Pintar BSI, 235 Siswa Baru Antusias
Berita Terbaru
Tanggul Lumpur Lapindo Retak, Rel Kereta Terancam
Ariel Tatum Gelar Tumpengan untuk Kucing di Hari Jadi
Pranjs Unggul Tipis Atas Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026
PB Jaya Raya Pertahankan Gelar Juara Umum Junior Grand Prix
Hanya 3 Siswa Baru di SDN Purwoyoso Semarang
Antrean BBM di Medan, Ombudsman Turun Tangan
Tokenisasi Aset Nyata Diprediksi Tembus US$5,5 Triliun pada 2030
Ruko Empat Lantai di Medan Terbakar, Api Berawal dari Kabel Listrik
Petani Perempuan Tewas Diterkam Ular Piton 6 Meter