Sesar Kendeng: Patahan Lambat, Gempa Besar di Masa Lalu

Yuli S. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Sesar Kendeng: Patahan Lambat, Gempa Besar di Masa Lalu

Gambar atau konten salah?

Malang — Di bawah permukaan tanah Jawa Timur, ada jalur patahan yang bergerak pelan tapi menyimpan kekuatan besar. Namanya Sesar Kendeng. Patahan ini pernah memicu gempa dahsyat di masa lalu, menghancurkan wilayah dari Surabaya sampai Mojokerto.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, S.Tr, menjelaskan bahwa gempa besar akibat Sesar Kendeng sebagian besar tercatat dalam dokumen sejarah zaman kolonial. Dari perhitungan model modern, kekuatan gempa di masa lampau itu diperkirakan mencapai Magnitudo 6 hingga M 7.

"Sesar Kendeng adalah sesar dengan pergerakan lambat, sekitar 5 milimeter per tahun dan memiliki periode ulang gempa yang cukup panjang. Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu," kata Ricko saat dikonfirmasi, Jumat 19 Juni 2026.

Data dari BMKG menunjukkan kerusakan parah pertama kali tercatat di Mojokerto dan Jombang pada awal abad ke-19. Beberapa puluh tahun kemudian, giliran Surabaya dan Madiun yang diguncang gempa kuat.

"Gempa bumi akibat Sesar Kendeng yang berdampak buruk di antaranya terjadi pada tahun 1836 dan 1837 di mana gempa merusak di wilayah Mojokerto dan Ploso Jombang," jelas Ricko.

"Selanjutnya gempa akibat Sesar Kendeng terjadi pada tahun 1862 dan 1915, di mana gempa merusak melanda wilayah Madiun. Lalu pada tahun 1867, gempa kuat merusak wilayah Surabaya," sambungnya.

Meskipun punya riwayat kelam, Ricko meminta masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Sifat Sesar Kendeng yang bergerak lambat membuat penumpukan energi hingga menghasilkan gempa besar membutuhkan waktu pengulangan ratusan tahun.

Apalagi, dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024, potensi gempa maksimal Magnitudo 6 hingga 7 diletakkan sebagai peta skenario terburuk untuk kesiapsiagaan infrastruktur dan bangunan. Bukan sebagai prediksi kepastian waktu. Pembahasan potensi inilah yang sempat viral di aplikasi Threads lewat akun @hsuliz2021 belakangan ini.

"Sesar Kendeng dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024 digabung penamaannya dengan Sesar Baribisa dan Sesar Semarang menjadi Java Back-arc Thrust. Magnitudo tertarget dalam Pusgen 2024 yang dimungkinkan terjadi sebagai skenario terburuk dari tiap segmen sesar aktif di segmen tersebut bervariasi Magnitudo enam sampai tujuh," ungkapnya.

"Namun kita jangan menjadi panik dengan angka-angka tersebut, tapi marilah kita meningkatkan kapasitas kita dengan mengetahui langkah-langkah apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah kejadian gempa bumi," imbau Ricko.

Hingga saat ini, belum ada sains yang mampu mendeteksi kapan tepatnya patahan ini akan kembali memicu gempa besar. "Karena sekali lagi hingga kini gempa belum bisa diprediksi secara tepat kapan, di mana, dan berapa magnitudonya kalau gempabumi tersebut belum terjadi?" tambahnya.

Pantauan BMKG dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan patahan sepanjang 300 kilometer dari Semarang hingga Jawa Timur ini masih berada dalam taraf pelepasan energi skala kecil dan menengah yang normal.

"Dalam beberapa tahun terakhir, kami mendeteksi adanya aktivitas seismik berupa gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar ini," urai Ricko.

Secara administrasi, Sesar Kendeng terbagi menjadi 6 segmen utama yang memotong area pemukiman padat. "Jalurnya meliputi Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Kota Surabaya," tandasnya.

Singkatnya, Sesar Kendeng adalah patahan aktif yang bergerak sangat lambat — hanya 5 milimeter per tahun. Tapi karena lambat, energinya butuh waktu ratusan tahun untuk terkumpul. Gempa besar di masa lalu terjadi di Mojokerto, Jombang, Madiun, dan Surabaya. Sekarang, aktivitasnya masih dalam skala kecil hingga menengah, Magnitudo 4 sampai 5. Belum ada teknologi yang bisa memprediksi kapan gempa besar berikutnya akan terjadi.

Sesar KendenggempaJawa TimurBMKGmagnitudosejarahkesiapsiagaan

Komentar

Memuat komentar...