Gempa Palu, Waspada Bojonegoro? BMKG Bantah
Gambar atau konten salah?
Sebuah unggahan di media sosial Threads baru-baru ini membuat gempar. Akun @hsuliz2021 mengaitkan gempa berkekuatan Magnitudo 6,7 yang terjadi di Palu dengan potensi gempa besar di Bojonegoro, Jawa Timur. Unggahan itu langsung memicu kekhawatiran di kalangan warganet, terutama mereka yang tinggal di daerah yang disebut-sebut.
Dalam unggahannya, akun tersebut meminta warga di beberapa daerah untuk lebih waspada. "Dari kejadian gempa Kota Palu 6,7 mag hari ini, mohon teman di Bojonegoro Jatim, Pandeglang Banten, Padang Pariaman, Simeulue Aceh, waspada bisa muncul gempa skala 6-7. Ada gempa sesar darat yang lebih sulit diprediksi," tulisnya. Akun itu juga mengklaim bahwa tekanan lempeng bumi sudah mencapai angka tertentu, yaitu 1.200 bar. "Data tekanan lempeng bumi udah 1.200 bar, yang tertinggi masih Selat Sunda bisa 1.350 bar, arti bisa ada gempa skala 6-7-8," tambahnya. Unggahan ini pun menuai ratusan komentar dan ribuan tanda suka. Ketika ditanya oleh salah satu pengguna mengenai potensi dampak ke Jawa Timur, akun tersebut hanya menjawab singkat, "Sesar Kendeng."
Menanggapi ramainya perbincangan itu, BMKG dan pakar geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) angkat bicara. Keduanya memberikan penjelasan yang tegas. Intinya, gempa bumi hingga saat ini belum bisa diprediksi secara pasti. Meskipun memang benar bahwa Sesar Kendeng yang melintasi Jawa Timur memiliki potensi untuk memicu gempa darat hingga Magnitudo 7 dalam skenario terburuk, bukan berarti itu bisa diprediksi kapan terjadinya.
Pakar Geologi ITS sekaligus peneliti senior di Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS, Dr Ir Amien Widodo, langsung memberikan tanggapan. Ia menjelaskan bahwa posisi Palu sangat jauh dari Pulau Jawa. Arah pergerakan sesar di Palu juga tidak berada dalam satu jalur dengan Jawa. "Posisinya itu jauh sekali kan, di atas Jawa itu kan Kalimantan, terus Sulawesi sana ya. Nah, Sulawesi itu baru di atas Madura lah kiranya begitu. Nah, terus pergeseran sesarnya, pergeseran patahannya itu ke arah barat laut, jadi ke arah atas begitu, jadi miring terhadap Jawa itu miring. Jadi, enggak lurus langsung," bebernya.
Amien juga meragukan klaim mengenai tekanan lempeng bumi yang disebut dalam unggahan tersebut. "Saya enggak tahu dia bisa bilang tekanannya sekian-sekian tadi itu dari mana. Tapi saya tadi mencari, melacak ini orang ini siapa sih, enggak jelas tadi (backgroundnya)," imbuhnya. Menurut Amien, gempa Palu berada di kawasan Sesar Palu-Koro. Sesar ini bergerak ke arah barat laut, sehingga menjauh dari Jawa. "Jadi, dia ada di tengah Palu, ada di daerah sesar Palu-Koro, di sebelah utaranya lagi malah gitu. Nah, itu bergeraknya itu menuju ke arah barat laut. Jadi, kalau utara barat itu namanya barat laut, kan menjauh dari Jawa tadi," ungkapnya.
Ia menambahkan, jika berbicara mengenai sesar di Pulau Jawa, faktor yang lebih mungkin memengaruhi aktivitas sesar adalah zona megathrust di selatan Jawa. "Kalau di Jawa itu memang ada sesar-sesar juga tadi, Sesar Kendeng misalnya tadi. Nah, Sesar Kendeng itu kemungkinan yang mempengaruhi adalah megathrust yang ada di Selatan Jawa kemungkinan. Karena dia didorong dari Selatan begitu. Kalau dari utara kan jarang. Dari utara itu yang terakhir kan yang sesar itu Bawean," pungkasnya.
Amien juga menjelaskan bahwa tidak ada sesar aktif yang berada tepat di wilayah Bojonegoro. "Kalau Bojonegoro enggak ada (sesar) malah," ungkapnya. Meski demikian, Bojonegoro masih bisa merasakan getaran dari aktivitas sesar di wilayah sekitar. Salah satunya adalah Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS). "Cuma yang agak di sebelah utaranya tadi, ada namanya sesar Rembang, Madura, Kangean ada namanya RMKS. Nah, itu memang melewati sebagian di Madura. Madura itu dilewati sesar tadi dua, kiri dan kanan. Nah, itu melewati memang di Tuban. Kalau Bojonegoro bisa terpengaruh begitu lah," ujarnya.
Menurutnya, catatan kegempaan di Bojonegoro juga tergolong jarang. Pernah terjadi gempa kecil di sekitar perbatasan Bojonegoro-Tuban, namun sudah berlangsung cukup lama. "Memang dulu ada gempa kecil sekali di Bojonegoro. Sebenarnya tepatnya ya di depan, di sekitar Tuban juga sih. Antara perbatasan dengan Tuban sekitar M 4 atau berapa, sudah lama tapi," imbuhnya. "Jarang. Termasuk jarang di situ (catatan terjadi gempa). Nah, kalau memang terus terjadi sering di tempat yang sama itu baru dipikir. Berarti kan di situ bergeser gitu. Sampai saat ini catatan belum ada," tambahnya.
Terpisah, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, memberikan penjelasan. Ia mengatakan bahwa Sesar Kendeng merupakan salah satu zona patahan aktif yang membentang di Pulau Jawa. Sesar ini melintasi sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Bojonegoro. "Sesar Kendeng adalah salah satu zona sesar atau patahan aktif yang sangat diwaspadai di Pulau Jawa karena jalurnya yang padat penduduk," ujar Ricko.
Menurut Ricko, jalur sesar tersebut membentang sekitar 300 kilometer dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. "Zona Sesar Kendeng melintang sepanjang kurang lebih 300 Kilometer di bagian Utara Pulau Jawa, membentang dari selatan Semarang Jawa Tengah hingga ke wilayah Jawa Timur," imbuhnya. Secara administratif, jalur sesar itu melintasi sejumlah daerah. Mulai dari Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo hingga Surabaya.
Ricko menjelaskan bahwa berdasarkan kajian Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024, Sesar Kendeng yang kini tergabung dalam sistem Java Back-arc Thrust memang memiliki potensi menghasilkan gempa besar. "Sesar Kendeng dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024 digabung penamaannya dengan Sesar Baribisa dan Sesar Semarang menjadi Java Back-arc Thrust. Magnitudo tertarget dalam Pusgen 2024 yang dimungkinkan terjadi sebagai skenario terburuk dari tiap segmen sesar aktif di segmen tersebut bervariasi Magnitudo enam sampai tujuh," beber Ricko.
Meski demikian, ia menegaskan masyarakat tidak perlu panik menghadapi informasi tersebut. "Namun kita jangan menjadi panik dengan angka-angka tersebut, tapi marilah kita meningkatkan kapasitas kita dengan mengetahui langkah-langkah apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah kejadian gempa bumi," pintanya. Ricko kembali menegaskan bahwa BMKG tidak pernah mengeluarkan prediksi gempa bumi. Yang mereka lakukan hanyalah menyampaikan potensi berdasarkan kajian ilmiah dan hasil pemantauan aktivitas seismik. "BMKG tidak pernah mengeluarkan prediksi gempa bumi. Yang kami lakukan adalah mensosialisasikan potensi berdasarkan kajian para ahli Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN 2024) dan monitoring aktivitas kegempaan dengan jaringan seismograph kami yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia," ungkapnya.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah percaya terhadap informasi prediksi gempa yang beredar di media sosial. Ricko menilai langkah yang lebih penting adalah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. "Yang penting adalah meningkatkan kesiapsiagaan individu dengan melatih diri, apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat dan setelah kejadian gempabumi dan tsunami bila dikeluarkan peringatan dini tsunami oleh BMKG," bebernya. "Kemudian memberi info kurang dari tiga menit setelah kejadian gempa untuk meminimalisir dampak ikutan dari gempa bumi baik itu tsunami, longsor, dan lainnya," pungkasnya.
Singkatnya, unggahan yang mengaitkan gempa Palu dengan potensi gempa di Bojonegoro hanyalah spekulasi. Baik BMKG maupun pakar ITS sepakat bahwa gempa bumi tidak bisa diprediksi. Meskipun Sesar Kendeng memang aktif dan berpotensi menimbulkan gempa besar, itu bukan berarti gempa akan segera terjadi. Masyarakat diimbau untuk tidak panik dan lebih fokus pada langkah-langkah kesiapsiagaan. Dari penjelasan para ahli, terlihat bahwa klaim mengenai tekanan lempeng bumi dan kaitannya dengan gempa di Bojonegoro tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Sumber informasi yang kredibel, seperti BMKG, harus menjadi rujukan utama, bukan unggahan di media sosial yang tidak jelas asal-usulnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Cuaca Surabaya Cerah, Suhu Capai 33 Derajat
BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Jawa Timur 20 Juni 2026
Jadwal Sholat Jawa Timur 20 Juni 2026: 8 Waktu Fardu
Peraturan 7/2026 Batasi Alih Daya di Enam Bidang Pekerja Untuk
Tulungagung Terbatas UHC, Capaian 84,5% Perlu Peningkatan
Persela Lamongan Masuk Grup Timur Liga 2 2026/2027 Bergabung
Berita Terbaru
Gempa Palu, Waspada Bojonegoro? BMKG Bantah
Kelelahan Tak Kunjung Reda? Waspada Diabetes
Tiga Kebiasaan Makan Ini Bikin Stres Makin Parah
Prabowo Setuju Anggaran Pelatnas Multiyears
Jadwal Premier League 2026/2027 Rilis, Manchester United Hadapi Derbi Awal Lawan City
Ramalan bintang cinta Sabtu 20 Juni 2026
Minyak Goreng Bantuan di Wonogiri Berbau Seperti Minyak Tanah
Utang Amanah: Jangan Tunda Bayar, Ini 5 Doa Pelunas dari Rasul