Sopir Bus Singapura Jalani Dialisis, Cari Donor Ginjal
Gambar atau konten salah?
Jayrius Ong berusia 21 tahun, berasal dari Singapura, baru saja menerima diagnosis gagal ginjal stadium akhir. Penyakit ini datang tanpa peringatan, menimpa orang muda sekalipun. Untuk bertahan hidup, Jayrius harus bergantung pada terapi pengganti fungsi ginjal, yaitu dialisis, sejak usia 21 tahun. Kini, pada usia 23 tahun, ia masih menjalani perawatan tersebut secara rutin.
Setiap minggu, Jayrius harus menjalani dialisis dua kali. Prosedur ini memaksa tubuhnya mengeluarkan darah melalui kateter yang ditanam di dadanya, lalu melewati mesin pembersih untuk menyaring limbah dan cairan berlebih sebelum dipompa kembali ke tubuh. Proses ini sangat melelahkan dan menguras energi. “Anda selalu merasa lelah setelah sesi dialisis,” ujarnya kepada pembaca.
Selain kelelahan fisik, efek samping lain muncul. Kram hebat di area kaki terjadi ketika volume cairan yang dikeluarkan mesin terlalu banyak. Kondisi ini menambah beban psikologis, sehingga Jayrius sempat mengalami depresi berat. Ia merasa kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup, bahkan hampir menyerah pada pekerjaan yang ia cintai.
Jayrius dikenal sebagai salah satu sopir bus SMRT termuda di Singapura. Ketika ia berusia 21 tahun, ia harus menjalani tes kesehatan untuk menjadi sopir bus. Namun, hasil tes menegaskan bahwa ia mengidap gagal ginjal stadium akhir. “Saya tidak terlalu percaya pada apa yang saya alami,” kata Jayrius, mencatat ketidakpercayaan awalnya terhadap diagnosis tersebut.
Meski kondisi serius, Jayrius berhasil diterima sebagai sopir bus. Ia bekerja shift sore hingga satu dini hari, sehingga masih dapat mengikuti jadwal perawatan rutin. Pekerjaan ini sekaligus menjadi sumber penghasilan untuk membiayai pengobatan dan mencari donor ginjal.
Untuk menemukan donor, Jayrius memanfaatkan media sosial. Ia berharap dapat segera mendapatkan donor sehingga bisa menjalani transplantasi pada kuartal ketiga tahun 2026. Langkah ini penting karena kateter di dadanya berisiko tinggi memicu infeksi mematikan. Ia pernah mengalami demam dan menggigil hebat tanpa henti akibat infeksi kuman, sehingga harus menjalani operasi darurat mengganti kateter tersebut.
Transplantasi menjadi harapan utamanya. “Transplantasi akan berarti segalanya. Saya bisa merasa seperti mendapatkan kembali seluruh kehidupan normal saya. Saya mungkin memiliki kondisi tertentu, tetapi saya masih dapat melakukan apa pun yang ingin saya lakukan,” pungkasnya.
Jayrius juga aktif membagikan kisah perjuangannya lewat akun TikTok pribadinya, @my.nightroutine._. Di sana, ia menunjukkan rutinitas harian, sesi dialisis, dan perjuangan mental yang ia hadapi. Kontennya menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang, sekaligus meningkatkan kesadaran tentang pentingnya donor ginjal.
Dengan tekad kuat, Jayrius terus berjuang. Ia menyesuaikan pekerjaan, perawatan medis, dan pencarian donor dalam satu kesatuan. Meskipun tantangan berat, ia tetap berharap transplantasi akan mengembalikan kualitas hidupnya, memberi kesempatan bagi masa depan yang lebih baik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
