Stres Tak Hanya Pikiran, Menekan Tekanan Darah Risiko Stroke

Endah K. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 53 dibaca
Bisik.id
Stres Tak Hanya Pikiran, Menekan Tekanan Darah Risiko Stroke

Gambar atau konten salah?

Stres sering dipandang hanya soal pikiran, tapi tubuh juga merasakan dampaknya. Tekanan darah, detak jantung, dan pembuluh darah ikut terpengaruh.

Setiap kali tubuh merasakan ancaman, otak memicu apa yang disebut respons lawan atau lari. Hormon adrenalin dan kortisol dilepaskan, detak jantung meningkat, pembuluh darah menyempit, dan tekanan darah naik. Jika reaksi ini terjadi terus-menerus, jantung dan arteri menanggung beban ekstra.

“Tekanan darah tinggi, atau hipertensi, adalah kondisi medis di mana kekuatan darah yang mendorong dinding arteri selalu tinggi,” jelas Dr Nneoma Oparaji, spesialis penyakit dalam dan gaya hidup di Oregon, Amerika Serikat. “Sayangnya, tubuh tidak mengetahui perbedaan antara keadaan darurat yang sebenarnya dan kotak masuk yang penuh, sehingga tubuh merespons dengan melepaskan hormon stres yang sama yang meningkatkan tekanan darah,” tambahnya, dikutip dari Eating Well.

Sejak lama, orang lebih fokus pada pola makan dan olahraga ketika ingin menurunkan tekanan darah. Namun, stres juga menjadi faktor penting yang sering terlewatkan.

Bayangkan air bertekanan tinggi yang dipaksa lewat selang sempit. Begitulah efek stres pada sistem kardiovaskular: detak jantung lebih cepat, aliran darah lebih cepat, pembuluh darah menyempit, dan tekanan darah naik. Dampaknya bisa bersifat sementara atau bertahan lama, tergantung jenis stres.

Stres dibagi menjadi dua: akut dan kronis. Stres akut muncul dalam jangka pendek, misalnya saat bertengkar atau menerima kabar buruk. Stres kronis berlangsung terus-menerus dalam waktu lama.

“Biasanya, begitu pemicu stres situasional [stres akut] hilang dan orang tersebut juga tidak lagi merasa stres karenanya, tekanan darah akan kembali ke tingkat normal sebelum pemicu stres tersebut,” kata psikologis Erika Kawamura.

Stres kronis, di sisi lain, dapat membuat tekanan darah tetap tinggi. “Stres kronis seringkali menyebabkan kondisi medis jangka panjang seperti hipertensi atau stroke,” ujar Dr Oparaji.

Kawamura menambahkan, “Dampaknya jauh lebih signifikan untuk stres kronis karena tubuh berada dalam mode 'lawan atau lari' yang konstan,” ia katakan.

Stres kronis juga mendorong perilaku tidak sehat. “Ketika orang mengalami stres kronis, mereka mungkin lebih cenderung terlibat dalam mekanisme mengatasi stres yang tidak sehat seperti pola makan yang buruk, kurang olahraga, minum alkohol, atau merokok, yang semuanya dapat meningkatkan tekanan darah,” jelas Kawamura.

Meski stres akut tidak boleh dianggap sepele, paparan berulang dapat memicu lonjakan tekanan darah sementara. “Paparan stres berulang dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah sementara yang sering terjadi, yang dapat berkontribusi pada variabilitas tekanan darah,” kata Dr Oparaji.

Variabilitas tekanan darah yang tinggi “telah dikaitkan dengan risiko kardiovaskular yang lebih besar.”

Stres, baik akut maupun kronis, memengaruhi sistem tubuh secara langsung. Mengelola stres menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung dan tekanan darah, seiring dengan pola makan dan olahraga. Mengetahui perbedaan antara reaksi singkat dan kronis dapat membantu seseorang mengambil langkah preventif sebelum tekanan darah menjadi masalah jangka panjang.

strestekanan darahhipertensikardiovaskularstres kronisvariabilitas tekanan darahhormon adrenalinperilaku tidak sehat

Komentar

Memuat komentar...