Tahun Baru Islam: Perbedaan Kalender Lunar vs Solar

Fitri A. · 4 min baca · 9 jam lalu · 9 dibaca
Bisik.id
Tahun Baru Islam: Perbedaan Kalender Lunar vs Solar

Gambar atau konten salah?

Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Masehi adalah dua peringatan pergantian tahun yang dirayakan setiap tahun di Indonesia. Masing‑masing memiliki tanggal, sistem hitung, dan makna yang berbeda. Perbedaan ini dapat dipahami jika kita melihat bagaimana kedua kalender terbentuk dan digunakan.

Perbedaan utama terletak pada sistem kalender yang menjadi dasar perhitungan. Kalender Hijriah bersifat lunar, artinya didasarkan pada gerhana bulan. Sedangkan kalender Masehi bersifat solar, didasarkan pada gerhana bumi mengelilingi matahari. Karena dasar perhitungannya berbeda, panjang satu tahun pada kedua kalender pun tidak sama.

Kalender Hijriah terdiri dari 12 bulan dengan jumlah hari sekitar 354 atau 355 hari dalam satu tahun. Berikut daftar bulan‑bulannya:

  • Muharram
  • Safar
  • Rabiul Awal
  • Rabiul Akhir
  • Jumadil Awal
  • Jumadil Akhir
  • Rajab
  • Syaban
  • Ramadan
  • Syawal
  • Dzulkaidah
  • Dzulhijjah

Karena kalender Hijriah lebih pendek sekitar 10–11 hari dibandingkan kalender Masehi, tanggal‑tanggal penting Islam akan terus bergeser setiap tahunnya jika dilihat dari kalender Masehi.

Kalender Masehi yang digunakan hampir di seluruh dunia memiliki 365 hari dalam satu tahun biasa dan 366 hari pada tahun kabisat. Kalender ini memiliki 12 bulan, mulai dari Januari hingga Desember, dan menjadi sistem penanggalan internasional yang digunakan dalam berbagai aktivitas pemerintahan, pendidikan, ekonomi, hingga kehidupan sehari‑hari.

Tahun Baru Islam atau Tahun Baru Hijriah diperingati setiap tanggal 1 Muharram. Bagi umat Muslim, momen ini bukan sekadar pergantian angka tahun, melainkan waktu untuk introspeksi diri, memperbaiki kualitas ibadah, serta menumbuhkan semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Di Indonesia, peringatan Tahun Baru Islam juga ditetapkan sebagai hari libur nasional setiap tahunnya.

Sejarah kalender Hijriah bermula pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Pada saat itu, Abu Musa Al-Asy'ari, Gubernur Basrah, mengirim surat kepada Khalifah Umar mengenai kesulitan mengarsipkan dokumen karena belum adanya sistem penanggalan yang mencantumkan tahun. Menanggapi hal tersebut, Khalifah Umar kemudian mengumpulkan sejumlah sahabat, di antaranya Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan beberapa tokoh lainnya, untuk menyusun sistem kalender Islam.

Dalam musyawarah tersebut muncul beberapa usulan mengenai titik awal penanggalan Islam, seperti:

  • Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW
  • Tahun diangkatnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul
  • Tahun wafat Nabi Muhammad SAW
  • Tahun hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah

Akhirnya diputuskan bahwa peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW menjadi titik awal kalender Islam karena dianggap sebagai tonggak penting perkembangan dakwah Islam. Dari sinilah lahir istilah kalender Hijriah, yang berasal dari kata “Hijrah”.

Meski peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW terjadi pada bulan Rabiul Awal, para sahabat sepakat menjadikan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah. Keputusan tersebut diambil karena Muharram dianggap sebagai awal dimulainya tekad dan persiapan hijrah setelah peristiwa Baiat Aqabah yang berlangsung menjelang akhir Dzulhijjah. Selain itu, Muharram juga termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam.

Tahun Baru Masehi adalah pergantian tahun berdasarkan kalender Gregorian atau kalender Masehi yang diperingati setiap tanggal 1 Januari. Perayaan Tahun Baru Masehi menjadi tradisi global yang dilakukan hampir di seluruh negara dunia, termasuk Indonesia. Masyarakat biasanya menyambut pergantian tahun dengan berbagai kegiatan seperti doa bersama, pesta kembang api, konser musik, hingga acara keluarga.

Sejarah Tahun Baru Masehi berakar dari peradaban Romawi kuno. Awalnya, bangsa Romawi menggunakan kalender yang hanya terdiri dari 10 bulan dengan total 304 hari dalam setahun. Sistem ini kemudian disempurnakan oleh Raja Romawi, Numa Pompilius, dengan menambahkan bulan Januari dan Februari. Perubahan besar terjadi ketika Julius Caesar memperkenalkan Kalender Julian pada tahun 46 SM. Januari dipilih sebagai bulan pertama karena diambil dari nama dewa Romawi, Janus, yang melambangkan awal dan akhir. Kemudian pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII menyempurnakan sistem tersebut menjadi Kalender Gregorian yang digunakan hingga saat ini.

Di berbagai daerah, masyarakat memiliki tradisi khas dalam menyambut 1 Muharram. Beberapa tradisi yang masih dilestarikan antara lain:

Tradisi tersebut menjadi bentuk rasa syukur sekaligus sarana mempererat kebersamaan masyarakat.

Perbedaan Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Masehi berasal dari sistem kalender yang digunakan. Tahun Baru Islam berpedoman pada kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan, sedangkan Tahun Baru Masehi menggunakan kalender Gregorian yang berbasis peredaran matahari. Selain berbeda dari sisi perhitungan waktu, keduanya juga memiliki sejarah dan latar belakang yang berbeda. Tahun Baru Islam berakar pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, sementara Tahun Baru Masehi berasal dari perkembangan sistem penanggalan Romawi kuno yang kemudian disempurnakan menjadi kalender Gregorian.

Memahami perbedaan ini dapat membantu masyarakat mengenal sejarah, budaya, dan makna yang terkandung dalam masing-masing peringatan pergantian tahun. Dengan pengetahuan tersebut, perayaan Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Masehi dapat dirayakan dengan lebih bermakna dan menghormati akar sejarahnya.

Komentar

Memuat komentar...