Taktik Curang UTBK 2026 Terbongkar di Beberapa Kampus

Dani L. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 85 dibaca
Bisik.id
Taktik Curang UTBK 2026 Terbongkar di Beberapa Kampus

Gambar atau konten salah?

Hari pertama UTBK SNBT 2026 menjadi saksi terbongkarnya berbagai taktik curang di beberapa kampus. Dari yang paling sederhana hingga yang paling canggih, pelaku berusaha mengelabui petugas dengan cara berbeda.

Di UPN Veteran Jawa Timur, seorang peserta mengadopsi strategi “terlambat” yang tampak biasa. Ia datang dengan tergesa-gesa, menandai dirinya sebagai orang yang terburu-buru. “Dia datang tergesa-gesa saat semua peserta sudah masuk dan mendekati waktu ujian, harapannya pengawas lengah, tidak melakukan screening dengan maksimal dan dia tetap bisa dipersilahkan masuk mengikuti ujian,” ungkap Koordinator Pelaksana UTBK UPNV Jatim, Eka Prakarsa, pada 22 April 2026. Karena masih ada waktu sebelum ujian dimulai, pelaku tersebut tetap melewati pemeriksaan fisik dan verifikasi dokumen.

Selama proses verifikasi lanjutan, petugas mencatat ketidaksesuaian wajah pelaku dengan data peserta. Ketika pengawas memeriksa identitas dan mengonfirmasi asal sekolah, perbedaan menjadi jelas. “Dari awal masuk ruang pemeriksaan, peserta menunjukkan gelagat mencurigakan. Ia sering menutupi wajah lalu kita lakukan kroscek identitas dan ternyata berbeda,” jelas Eka. Pelaku kemudian dilaporkan ke Ketua Pelaksana UTBK dan ditindaklanjuti sesuai prosedur.

Di Universitas Diponegoro, kasus berbeda muncul. Seorang pendaftar fakultas kedokteran menaruh alat bantu dengar elektronik di telinganya. Petugas UTBK menemukan alat tersebut saat peserta melewati metal detector. Setelah pemeriksaan, peserta ditanya secara intensif. “Tapi karena yang bersangkutan tidak mau menginformasikan secara lengkap, tentu kami tidak bisa menjelaskan sebenarnya itu alat mekanismenya seperti apa,” kata Wakil Rektor Undip, Heru Susanto, pada 21 April 2026. Ia mengakui bahwa alat tersebut dipasang untuk memudahkan pelaksanaan ujian. Peserta kemudian dibawa ke THT untuk mengeluarkan alat tersebut.

Universitas Airlangga juga tidak luput dari dugaan joki. Petugas menerima daftar nama yang dicurigai sebagai joki UTBK. “Termasuk Unair juga mendapat daftar nama yang dicurigai,” sampaikan Koordinator Pelaksana Pusat UTBK SNBT Unair, I Made Narsa, pada 21 April 2026. Ia menambahkan bahwa pelaku satu orang pernah ikut UTBK pada 2025 dan pada 2026 kembali dengan nama berbeda, namun foto tetap sama. “Jadi, fotonya sama, identik dengan nama X dan nama Y. Itu dikirim ke kami juga, kami dapat informasi itu. Kemudian terkait dengan joki yang dicurigai ikut di Unair, tadi disebut dalam konferensi itu di Unair ada joki nama yang sama ikut di dua tahun,” terang Narsa. Meskipun pelaku diberi lokasi ujian di Unair, ia tidak hadir. “Kebetulan tidak hadir. Jadi mungkin dia sudah mendengar kan begini,” tambahnya.

Di Universitas Negeri Surabaya, petugas menemukan bukti pemalsuan dokumen tingkat tinggi. “Praktik perjokian yang terjadi kemarin melibatkan pemalsuan dokumen tinggi, mulai dari ijazah hingga dokumen kependudukan,” ungkap Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, pada 21 April 2026. Verifikasi menunjukkan nama pada ijazah asli dan dokumen yang dibawa peserta cocok, namun foto berbeda. Hal itu menandakan ijazah yang digunakan bukan asli. “Hasil verifikasi menunjukkan terdapat kesamaan nama antara ijazah asli dan dokumen yang digunakan peserta. Namun, ditemukan perbedaan mencolok pada foto. Ini mengindikasikan ijazah yang digunakan bukanlah ijazah asli,” tambah Martadi. Unesa menghubungi sekolah asal untuk mendapatkan salinan ijazah asli, sehingga terungkap bahwa peserta tersebut bukan pemilik ujian yang sebenarnya. Meskipun demikian, pelaku tetap dibiarkan menyelesaikan ujian sesuai SOP, lalu diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Universitas Sulawesi Barat menghadapi dua pelaku terduga sindikat perjokian. Petugas menemukan mereka saat melewati pemindaian metal detector. Keduanya digali oleh petugas perempuan, dan ditemukan alat bantu dengar serta ponsel tersembunyi di balik pakaian. “Alat itu kelihatan jadul, tetapi itu kelihatannya sudah diganti dia punya sistem ya. Di mana HP itu menjadi semacam decorder, jadi decorder itu kelihatan seperti HP, kemudian dia dihubungkan ke headset masuk ke telinga,” jelas Plt Wakil Rektor 1 Unsulbar, Tasrif Surungan, pada 22 April 2026. Ia yakin kedua pelaku tersebut merupakan bagian dari sindikat perjokian yang membaca soal secara diam-diam dan mengirimkannya ke kelompok mereka. “Modusnya itu, dia bisa dilihat sebagai joki ya, di mana joki untuk menambang soal. Jadi, dia akan membaca itu (soal-soal) secara diam-diam dan itu kemudian terkirim suara itu ke pusat dia (kelompok sindikatnya),” tambahnya. RRI melaporkan bahwa kedua pelaku diperkirakan memakai KTP palsu yang baru diterbitkan pada April 2026 untuk memanipulasi data pendaftaran.

Semua kasus ini menegaskan betapa pentingnya verifikasi identitas dan pemeriksaan fisik di setiap tahap ujian. Dari pemeriksaan wajah, pemeriksaan dokumen, hingga pemindaian metal detector, petugas berhasil mengungkap taktik curang yang dirancang untuk memanfaatkan celah prosedur. Meskipun pelaku berusaha berbeda, kesamaan dalam tujuan menjadi jelas: mengakali sistem untuk memperoleh keuntungan tidak sah.

Dengan prosedur yang ketat dan ketelitian petugas, pelaku tidak dapat menyelesaikan ujian secara sah. Keberhasilan ini menjadi peringatan bagi calon pelaku curang di masa depan. Penegakan prosedur yang konsisten, pemantauan ketat, dan kolaborasi antar kampus menjadi kunci dalam menjaga integritas ujian nasional.

UTBK SNBT 2026curang & jokiverifikasi identitaspemalsuan dokumenalat bantu dengarmetal detectorintegritas ujian

Komentar

Memuat komentar...