Tanggul Lumpur Sidoarjo Meningkat, Warga Khawatir Terulang

Ratna D. · 2 min baca · 13 jam lalu · 18 dibaca
Bisik.id
Tanggul Lumpur Sidoarjo Meningkat, Warga Khawatir Terulang

Gambar atau konten salah?

Sidoarjo – Warga di sekitar Tanggul Lumpur Lapindo kini merasakan kecemasan. Volume air dan lumpur meningkat, hampir menyentuh bibir tanggul. Kondisi ini memicu trauma mendalam, terutama bagi penduduk Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, yang masih mengingat jelas peristiwa tanggul ambles pada tahun 2018.

Sejak 08 Juni 2026, aktivitas peninggian tanggul menjadi intensif di titik 71, perbatasan Kelurahan Siring dan Kelurahan Ketapang Keres. Warga melaporkan bahwa permukaan lumpur telah melampaui bibir tanggul lama, akibat terhentinya pembuangan ke Sungai Porong selama beberapa waktu.

Selain kenaikan volume, rembesan air sepanjang sekitar 100 meter ditemukan muncul di bawah tanggul titik 68, perbatasan Desa Glagaharum dan Desa Gempolsari, dalam sepekan terakhir.

Ketua RT 11 RW 2 Desa Gempolsari, Sudarmwan, mengungkapkan, ketinggian air di kolam penampungan kini hanya tersisa sekitar satu meter dari puncak tanggul.

“Kalau melihat kondisi sekarang, warga tentu khawatir. Air sudah hampir menyentuh bibir tanggul. Kami trauma dengan kejadian tahun 2018 saat tanggul ambles sepanjang kurang lebih 100 meter,” kata Sudarmwan, 10 Juni 2026.

Ia menambahkan, jika tanggul kembali jebol, sedikitnya 1.000 hingga 1.500 jiwa dari enam RT berada dalam ancaman langsung.

Di tengah ancaman luberan lumpur, warga juga masih bergulat dengan sulitnya akses air bersih. Air di sekitar lokasi berbau tidak sedap dan memiliki kadar garam tinggi yang merusak struktur bangunan rumah. Warga berharap pengawasan tanggul diperketat secara maksimal agar tragedi masa lalu tidak terulang.

“Waktu itu kondisinya sangat mengkhawatirkan. Kalau sampai jebol, dampaknya bisa seperti gelombang besar yang menerjang permukiman warga,” pungkas Sudarmwan.

Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) merespons situasi tersebut. PPLS memastikan bahwa upaya mitigasi terus berjalan. PPLS mengklaim aktivitas pengaliran lumpur ke Sungai Porong masih dilakukan menggunakan kapal keruk dan pompa.

Ketua Tim Operasi dan Pemeliharaan PPLS, Fahmi, menjelaskan bahwa penggunaan alat berat saat ini difokuskan untuk membuat alur agar aliran dari pusat semburan mengarah ke kolam pompa.

“Lumpur tetap mengalir ke Kali Porong, hal itu dilakukan untuk menjaga infrastruktur, objek-objek vital baik itu permukiman, jalan raya, dan rel kereta api,” terang Fahmi.

Mengenai penggunaan material bambu dan gedek di lokasi peninggian, Fahmi menyebut hal itu diperlukan karena karakter lumpur yang tidak dapat mengikat satu sama lain sehingga butuh penahan agar alur aliran tetap bertahan.

Situasi di Sidoarjo tetap tegang. Warga terus mengingat trauma 2018 dan menantikan langkah mitigasi yang lebih kuat. Sementara itu, PPLS terus melakukan pengaliran lumpur dan memperkuat tanggul, meski tantangan material dan kondisi tanah tetap kompleks.

tanggul Lumpur LapindoSungai Porongketinggian airancaman jiwaPPLSmaterial bambukadar garam tinggi

Komentar

Memuat komentar...